Jumat, 20 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



2016, Kinerja Perdagangan Dipastikan Defisit

Oleh Berita Hargo , dalam Ekonomi , pada Senin, 9 Januari 2017 | 13:20 Tag: ,
  

 

Hargo.co.id GORONTALO – Kinerja perdagangan Gorontalo pada 2016 dipastikan bakal kembali defisit setelah melihat posisi terakhir pada November 2016 sebesar -US$21,9 Juta.

Sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, nilai ekspor Gorontalo jika dihitung mulai Januari hingga November 2016 tercatat US$4,3 Juta, sedangkan nilai impor pada periode yang sama sebesar US$26,2 Juta.

Artinya, neraca perdagangan Gorontalo masih defisit sekitar -US$21,9 Juta. Perdagangan Gorontalo terakhir kali berada di jalur positif yakni pada tahun 2010 silam, dimana neraca perdagangan Gorontalo surplus US$4,5 Juta.

Meski defisit, selama 2016 pula perdagangan Gorontalo pernah tiga kali surplus, yakni pada bulan Agustus sebesar US$1,04 Juta, September sebesar US$544 Ribu dan November US$802 Ribu.

Selain itu, tercatat pula pada bulan April 2016, tidak ada aktivitas ekspor maupun impor sama sekali di Gorontalo.

Salah satu pengamat ekonomi, Ahmad Sapriyanto, menilai bahwa perdagangan Gorontalo yang defisit selama 5 tahun terakhir ini tidak akan terlalu berpengaruh pada perekonomian Gorontalo.

“Katakanlah Gorontalo masih punya jagung (untuk diekspor,red), sebelum September 2015 lalu (terakhir kali ekspor jagung,red), Gorontalo masih tetap saja defisit. Jadi, itu bukan tolak ukurnya,” kata Ahmad.

“Di Gorontalo itu saya lihat (perekonomiannya,red) yakni pertaniannya, belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga,” tambah Ahmad.

Bicara perdagangan, mantan bankir ini justru sangat setuju jika Gorontalo tetap memanfaatkan perdagangan antar pulau, khusus untuk komoditi jagung.

“Saya sangat mendukung komitmen pemerintah jika benar-benar mulai tahun ini tidak ada lagi impor jagung. Petani jagung di Gorontalo pasti akan menikmati hasilnya,” katanya.(axl/hargo)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar