Kamis, 2 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



323 Orang Gorontalo Tinggalkan Palu

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Rabu, 3 Oktober 2018 | 16:15 PM Tag: , ,
  

Hargo.co.id PALU – Kondisi Kota Palu Sulawesi Tengah yang belum pulih dan masih terus diguncang gempa, membuat banyak warga perantauan ingin cepat meninggalkan Palu. Termasuk warga Gorontalo di daerah itu yang menjadi korban bencana.

Sudah ada sekitar 323 orang warga Gorontalo yang telah mendatangi posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi Gorontalo di Palu. Mereka mendaftar ikut program pemulangan warga Gorontalo yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo.

323 warga Gorontalo itu selamat dari gempa hebat disusul tsunami dan luapan lumpur yang terjadi bersamaan di Palu, pada Jumat (28/9) pekan lalu.Dari sejak bencana itu, ratusan warga Gorontalo itu tinggal di tempat pengungsian. Mereka tidak berada dalam satu tempat pengungsian. Mereka tersebar.

“Kalau boleh secepatnya (pulang ke Gorontalo.red). Saya dan keluarga takut. Kami trauma,” ujar Siane Pomu  (59), warga kelahiran Molinggapoto, Gorontalo Utara kepada wartawan Gorontalo Post yang meliput langsung kondisi pasca bencana di Palu.

Kemarin (2/10), Siane mendatangi posko BPBD provinsi Gorontalo untuk mendaftar ikut program pemulangan ke Gorontalo bersama semua anggota keluarganya.

Selain Siane, pengungsi lainnya, Sunaryo (40) juga menyatakan ingin segera kembali ke Gorontalo. Tapi berbeda dengan pengungsi lain, Sunaryo hanya meminta Pemprov Gorontalo bisa menyiapkan bensin untuk membantunya pulang. Sunaryo ingin naik kendaraan pribadi. Dia butuh bensin karena di Palu sulit sekali mendapatkan bensin.

“Saya cuma minta bensin saja. Namun kayaknya tidak bisa. Saya harap pemerintah dapat memberikan solusi, agar kami bisa pulang ke Gorontalo,” ujarnya.

323 orang yang sudah mendaftar ke BPBD, tempat asal mereka di Gorontalo tersebar di semua kabupaten-kota. Yaitu Bone Bolango, Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Gorut, Boalemo dan Pohuwato (lihat grafis.red).

Mereka yang selamat

Salah satu pejabat Pemprov Gorontalo yang bertugas di Posko BPBD, Marten Suleman mengatakan, pemprov sudah menyiapkan 10 unit bus untuk mengangkut ratusan warga Gorontalo yang sudah mendaftar tersebut. Pemberangkatan 10 bus itu rencananya pada Rabu (3/10) hari ini atau Kamis besok. “Gubernur Gorontalo Rusli Habibie akan memimpin langsung proses evakuasi tersebut pada Rabu atau Kamis besok,” ujarnya.

Marten Suleman mengatakan, pemulangan ini hanya dikhususkan untuk warga Gorontalo atau setidaknya memilik sanak saudara di Gorontalo untuk ditempati nanti. Makanya pemprov mensyaratkan, harus ada keluarga yang akan menjemput di Gorontalo.  Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo Budiyanto Sidiki mengatakan, pemulangan warga Gorontalo dari wilayah bencana di Palu menjadi arahan langsung Gubernur.

“Ada arahan dari pak gubernur agar warga kita di Palu yang ingin dievakuasi untuk secepatnya kita evakuasi ke Gorontalo,” jelas Budi.

Awalnya, pada Senin kemarin Pemprov telah melayangkan surat ke Pangilma TNI untuk meminjam pesawat Hercules guna evakuasi. Namun skenario tersebut berubah menyusul sulitnya evakuasi menggunakan jalur udara.

“Saat ini suasana evakuasi Hercules tidak memungkinkan, karena kita dapat informasi bandara Palu dipenuhi oleh warga yang ingin keluar. Ada alternatif untuk mengevakuasi warga menggunakan bus melalui jalur darat,” imbuhnya.

“Insyaallah pak Gubernur tiba besok dari Jakarta dan akan menggelar rapat gabungan. Rencananya akan bertolak Rabu sore atau paling lambat Kamis pagi,” sambung Budi.

Warga Gorontalo di Palu yang terdampak diminta untuk berkumpul dan mendata diri di Posko BPBD Pemprov Gorontalo yang sudah berada di Palu. Catatan pentingnya, warga yang ingin ke Gorontalo benar benar warga yang memiliki sanak saudara atau famili di Gorontalo yang bisa menampung mereka nanti.

Pemprov Gorontalo tidak menyiapkan posko penampungan di Gorontalo, sebab semua terkonsentrasi di Palu. Dibuka kesempatan bagi warga Gorontalo untuk menampung pengungsi Palu yang tidak memiliki keluarga di Gorontalo.

Posko BPBD dan Satpol PP berlokasi di Kantor Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah di Jl. Prof. Muhammad Yamin, kompleks Kantor Gubernuran. Untuk informasi terkait pemulangan ini, bisa menghubungi Marten Suleman di nomor 0812-4255-5558.

Korban bertambah

Sementara itu, jumlah warga Gorontalo yang meninggal terus bertambah. Kemarin (2/10) ditemukan satu korban bernama Suleman Mile yang beralamat di Jalan Ahmad Yani, Lorong 4 Kota Palu. Dengan demikian sudah ada 6 warga Gorontalo yang meninggal. “Yang bersangkutan sudah dikebumikan, pukul 16.00 Wita,” kata Mahyudin yang mendapatkan informasi duka tersebut melalui grup KKIG Palu.

Ada juga seorang ibu dan anaknya yang hingga kini dinyatakan hilang. Yaitu Wahda Hidayat dan anaknya Algifari. Wahda sendiri dikatakan Mahyudin merupakan seorang guru yang tinggal di jalan Puisula, Kelurahan Petobo Kecamatan Palu Selatan. Sampai dengan semalam keduanya masih dalam status pencarian dan belum ditemukan keberadaannya. “Dibeberapa pengungsian belum ditemukan. Kita doakan Ibu dan anak ini bisa ditemukan,” terang Mahyudin.

Sulit Dapat Bantuan

Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG) di Palu mengeluhkan bantuan dari pemerintah provinsi, kabupaten-kota di Provinsi Gorontalo maupun dari masyarakat yang tidak langsung menyasar warga korban bencana.

Bantuan dari Gorontalo hampir seluruhnya berpusat di Dinas Sosial Sulawesi Tengah (Sulteng). Sementara banyak warga Gorontalo yang mengungsi di beberapa titik, kesulitan mendapatkan bantuan. Disebabkan harus mengantri begitu panjang, serta tidak menjadi prioritas saat mau mengambil bantuan di Dinas Sosial Sulteng.

“Di hari kedua dan ketiga, kami sudah mencoba untuk meminta makanan dan minuman di posko bantuan yang berada di Dinas Sosial Sulteng. Kami mengaku masyarakat Gorontalo, sangat membutuhkan makanan dan minuman. Tetapi pelayanan disana mengecewakan. Kami mengantri begitu lama, dan ada yang tidak mendapatkan bantuan. Kami sangat kecewa,” ucap Mahyudin Piu.

Bantuan yang disalurkan oleh masyarakat dan pemerintah Gorontalo begitu besar untuk korban Tsunami dan gempa. Namun bantuan tersebut, menurut Mahyudin Piu hanya diberikan secara umum kepada masyarakat terdampak bencana.

Untuk masyarakat Gorontalo yang berada di Palu sendiri secara langsung belum tersentuh bantuan dari Gorontalo, baik pemerintah maupun masyarakat yang telah menyalurkan bantuan di Palu.

Untuk masyarakat atau pemerintah yang menyalurkan bantuan tersebut, sebagian bisa disalurkan lewat Posko yang berada di sekretariat KKIG Palu di jalan Nuri, nomor 1, Kota Palu. Atau langsung menghubungi Mahyudin Piu di nomor 08114504666.

“Jangan harap masyarakat Gorontalo disini akan mendapatkan bantuan yang seperti diharapkan. Sebab kami merasa tidak diprioritaskan ketika meminta bantuan di posko Dinas Sosial Sulteng. Padahal kami sangat membutuhkan.

Harapan kami bahwa Pemerintah kabupaten/kota maupun provinsi bisa berkoordinasi dengan kami KKIG yang ada di Palu. Karena kami tahu lokasi-lokasi masyarakat Gorontalo yang mengungsi di posko pengungsian. Kita juga sudah keliling. Tapi hingga saat ini, kami belum mendapatkan informasi atau dikontak oleh pemerintah Gorontalo,” jelas Mahyudin.

Dirinya serta beberapa kerabat KKIG sendiri hanya melakukan kontak dengan instansi dimana tempat mereka bekerja. “Seperti saya, bantuan dari Telkom karena saya bekerja disitu, bantuan yang saya terima saya berikan kepada masyarakat Gorontalo. Karena memang mereka membutuhkan makanan dan minuman, gas elpiji serta selimut.

Bantuan dari anak saya juga saya alihkan kepada masyarakat Gorontalo disini. Sementara pemerintah Gorontalo sendiri belum kami jangkau,” bebernya. Mahyudin berharap agar pemerintah bisa lebih peka dengan kondisi masyarakat Gorontalo yang ada di Palu maupun Donggala. “Minimal kami dilibatkan. Kami memohon pemerintah bisa lebih menjangkau kami, karena pemerintah Provinsi Gorontalo harapan kami untuk meringankan musibah kami disini,” terang Mahyudin. (tr-58/dan/ndi)

(Visited 6 times, 1 visits today)

Komentar