Minggu, 13 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



51 Pegawai KPK di Pecat, PKS: Nurani Publik Tersakiti!

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Kabar Nusantara , pada Selasa, 1 Juni 2021 | 07:05 WITA Tag: , ,
  Ketua KPK Firli Bahuri (Dery Ridwansah/JawaPos.com)


Hargo.co.id, JAKARTA – Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu menanggapi pemecatan 51 pegawai KPK yang tidak lulus tes wawasan kebangsaan (TWK) beberapa waktu lalu. Menurutnya, tidak sepantasnya para pejuang anti korupsi ramai-ramai disingkirkan atas nama wawasan kebangsaan.

Apalagi, hal ini dilakukan secara terbuka di hadapan seluruh rakyat Indonesia. Hal ini kian diperburuk dengan fakta bahwa hampir semua pegawai KPK yang dipecat adalah orang-orang yang tengah mengusut kasus korupsi besar.

BACA  Penumpang Kapal Ferry Wajib Bawa Surat Hasil Negatif Covid-19

“Nurani publik tersakiti karena ketika agenda pemberantasan korupsi dilemahkan. Di saat yang sama dana bantuan sosial yang seharusnya diperuntukkan untuk rakyat yang terdampak pandemi justru dikorupsi habis-habisan oleh para pejabat negara yang korup,” ujar Syaikhu kepada wartawan, Senin (31/5).

Pemecatan ini dinilai Syaikhu jelas membuat publik bertanya-tanya, mengapa mereka yang aktif mengusut kasus korupsi yang jelas merugikan bangsa justru dianggap tidak nasionalis dan cinta NKRI oleh KPK di bawah pimpinan Firli Bahuri.

BACA  Gelar Konsolidasi, Partai Emas Segera Mendaftar di Kemenkumham

“Apakah sikap anti korupsi bukan sikap yang Pancasilais dan cinta NKRI?” tanya Syaikhu.

Karenanya, Syaikhu menegaskan agar KPK bisa segera berbenah diri dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.

BACA  75 Pegawai KPK Bawa Polemik TWK ke MK

“Jangan sampai hanya karena segelintir oknum yang ingin melemahkan pemberantasan korupsi, institusi KPK jadi tumpul. Jika itu terjadi, maka rakyatlah yang dirugikan,” imbuhnya. (ba/gw/jawapos/hargo)

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JawaPos.com, dengan judul: “Firli Bahuri Pecat 51 Pegawai KPK, PKS: Nurani Publik Tersakiti!“. Pada edisi Senin, 31 Mei 2021.

Komentar