Senin, 17 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Nama UNG di ganti, Mahasiswa gelar aksi Damai

Oleh Aslan , dalam Gorontalo Headline , pada Sabtu, 26 Agustus 2017 | 09:41 AM Tag: , ,
  MAHASISWA UNG memasang lilin di gerbang UNG, sebagai bentuk protes atas perubahan nama UNG menjadi Universitas BJ Habibie. Jumat (25/8). pukul 20.00 Wita.

GORONTALO Hargo.co.id – Ratusan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar aksi damai di depan gerbang UNG, Jumat (25/8) malam. Mereka menyalakan lilin mengenang nama kampus peradaban UNG yang segara menjadi kenangan. Karena secara resmi Senat UNG telah memutuskan, untuk mengganti nama kampus dari UNG menjadi Universitas Bacharudin Jusuf Habibie (Univ.BJ Habibie).

“Hari ini UNG yang telah membesarkan kita semua, kini berganti BJ Habibie,”kata Candra, ketua senat mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNG, membacakan puisinya, semalam. Ia termasuk mahasiswa yang menolak pergantian nama itu.

Aksi menyalakan lilin dibarengi dengan pembacaan puisi secara bergantian dari mahasiswa di gerbang kampus UNG itu, memang sebagai bentuk penolakan penggantian nama.

Para mahasiswa menilai, penggantian nama UNG menjadi Universitas BJ Habibie sangat tidak substansial jika hanya mempertimbangkan soal peningkatan kualitas.

“Seharusnya jika alasan kualitas pendidikan menjadi pertimbangan maka yang dilakukan adalah peningkatan kualitas para dosen maupun bahan ajar serta fasilitas yang ada di Kampus UNG, bukan malah mengganti nama kampus,”kata Wakil Presiden Mahasiswa UNG Mohammad Affandi saat ditemui Gorontalo post jumat (25/8) kemarin.

Ia mengatakan, pergantian nama kampus sebaliknya malah akan membebankan pendanaan kampus, karena nantinya akan banyak dilakukan perubahan ataupun pergantian fasilitas kampus yang kini masih menggunakan nama UNG. Hal yang sama juga disampaikan oleh Koordinator koalisi senat mahasiswa Se-Universitas Negeri Gorontalo, Yandi Mooduto.

Ia mengklaim, sampai saat ini mahasiswa tidak sepakat dengan pergantian nama, bahkan mengaku terkejut, karena putusan pergantian dilakukan terkesan diam-diam. “Kami cinta bapak Habibie, kami sangat menghormatinya sebagai seorang bapak teknologi yang hebat, tapi kami tak ingin UNG berganti nama,” tegasnya. “Besok (Hari ini, red) kami akan menggelar dialog terbuka bersama Rektor untuk menyampaikam penolakan kami, “tandasnya.

Tak hanya aksi mahasiswa di gerbang kampus. Dunia maya juga diramaikan dengan perubahan nomenklatur UNG ini. Ada yang setuju karena memandang nama besar Prof.Dr.Ir.Ing. BJ Habibie, tapi tak sedikit pula yang menolak dan lebih memilih nama UNG, beberapa wrganet juga memberikan saran jika lebih tepat adalah diberinama Universitas Nani Wartabone.

Salah satu yang menolak pergantian nama kampus adalah mantan Rektor UNG Prof.Nelson Pomalingo, M.Pd. Kepada Gorontalo Post, Jumat (25/8), ia mengeaskan sangat tidak setuju UNG diganti nama menjadi Universitas BJ Habibie.
“Pertama, pergantian nama itu saya termasuk orang yang tidak setuju,” tegas Nelson Pomalingo (25/8).

Alasannya kata Nelson jelas, ia adalah sejarah dari berdirinya kampus UNG sendiri. Dimana sejak berdiri tahun 1963 yang hanya merupakan fakultas ilmu pendidikan (FKIP) IKIP Jogjakarta cabang Manado di Gorontalo, berubah menjadi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), naik ‘kelas’ menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP), hingga menjadi UNG.

Jadi kata Nelson, hingga saat ini UNG merupakan universitas pendidikan, yang memang dibuat untuk menciptakan calon-calon pendidik. Walaupun pada akhirnya berkembang dengan jurusan-jurusan non pendidikan. “Jadi tidak cocok dengan nama BJ Habibie yang begitu besar sebagai tehnokrat,” tegas Nelson.

Jika memang ada keinginan untuk menjadikan nama BJ Habibie sebagai nama universitas di Gorontalo, dan agar perguruan tinggi besar lahir di Gorontalo maka harus lahir univerasitas baru. Ia mengusulkan Universitas Tehnik Indonesia (UTI) BJ Habibie, yang khusus menjadi pusat pendidikan ilmu tehnologi di Gorontalo. Dengan begitu UNG tetap berdiri, dan UTI BJ Habibie juga menjadi kampus unggulan.

“Sehingga ada ITBnya Indonesia Timur di Gorontalo. Kalau ITB di Bandung yang begitu besar sebagai pusatnya di Indonesia Barat, maka ada UTI BJ Habibie menjadi pusat pendidikan teknik di Indonesia Timur,” jelasnya. Menurutnya, UTI BJ Habibie ini sangat sejalan dengan cita-ciia daerah untuk menjadikan Gorontalo sebagai pusat pendidikan bagian Indonesia Timur khusus disebelah utara.

“Ini bisa dilahirkan dari pengabungan Politehnik Gorontalo dan Fakultas Tehnik UNG. Sehingga tahap awal, Poligon itu bisa menjadi UTI BJ Habibie,”saranya.

Tokoh masyarakat Suwawa, Yos Wartabone menyarankan agar lebih mempertahankan nama UNG ketimbang harus berubah nama. Sebab dibalik label nama kampus UNG, mengandung makna yang mendalam utamanya dalam membawa nama kebesaran daerah Provinsi Gorontalo. “Dulu juga pernah saat rektor pak Nelson, ibu Megawati Soekarno Putri usulkan UNG harus diganti nama.

Tapi sekarang kalau pake nama Bj Habibie oke-oke saja cuma sebagaimana dengan nama nama kampus diluar daerah lainnya itu juga bawa nama kebesaran daerah masing-masing dan ini menjadi identitas,”ujar pria yang juga putra pahlawan nasional Nani Wartabone itu.

Ia mengatakan, bukan maksud ikut campur urusan UNG, namun dulu ketika Nani Wartabone ikut memperjuangkan kampus di Gorontalo (UNG,red) bersama tokoh-tokoh masyarakat seperti Ina Moo, Jamal Hulukati, Musa Neno, Samiun Djafar, tak sedikitpun untuk menggunakan namanya menjadi nama kampus. “Silahkan kalau ada kampus lain yang bangun terus pake nama Habibie kah atau lainnya tapi alangkah baiknya kita pertahankan nama kampus UNG,”tandasnya.

Namun apa boleh dikata, senat UNG telah memutuskan pergantian nama. Keputusan tertinggi institusi perguruan tinggi itu, mendukung sepenuhnya penggantian nama dari UNG menjadi Universitas BJ Habibie.

Bahkan informasinya, rapat senat yang dipimpin Ketua Senat UNG Prof Syamsu Qamar Badu pada Kamis (24/8) itu, seluruh anggota senat aklamasi dan tidak mempersoalkan pergantian nama. Sebetulnya, senat sudah pernah membahasnya pada tahun 2013 lalu. Kala itu ditetapkan agar UNG mengusulkan pergantian nama kampus.

Tahun 2014, Rektor UNG Prof Syamsu Qamar Badu bersama seluruh kepala daerah di Gorontalo menemui Prof BJ Habibie di kediaman pribadinya di JL Patra Kuningan XIII, Jakarta, dan menyampaikan surat permohonan penggunaan nama BJ Habibie mengganti nama UNG.

Saat itu, BJ Habibie mengaku, selain UNG ia juga mendapati tawaran dari Universitas Teknologi Pare-parte untuk menggunakan namanya. Namun, BJ Habibie lebih memprioritaskan Gorontalo, ia menginginkan daerah leluhurnya ini menjadi pusat pendidikan dan kebudayan di Indonesia bagian timur.

Perubahan nama ini, bagi para anggota senat UNG, tentunya sangat menguntungkan, karena nama presiden RI ke 3, BJ Habibie adalah seorang teknokrat dunia yang juga sangat peduli dengan dunia pendidikan, khususnya di Gorontalo.

Salah satu anggota tim pengkaji, Prof. Dr. Yulianto Kadji, menyampaikan jika saat pembahasan pergantian nama tersebut, ada lima nama yang masuk dalam usulan, yaitu Nani Wartabone, Ahli Geologi asal Gorontalo Prof. Jhon Ario Katili, Pakar Bahasa dan Sastra asal Gorontalo Prof. HB Jasin, pakar Bahasa asal Gorontalo Prof. JS Badudu, dan Presiden RI ke 3 BJ Habibie.

“Semua usulan tersebut sudah digodok oleh tim, dan pembahasannya memang sangat panjang, dilihat dari berbagai aspek, mulai dari sejarahnya hingga keilmuannya,”ungkap pria yang akrab disapa dengan Prof. YK ini. Dan pada saat itu, menghasilkan BJ Habibie yang akan diusulkan untuk menjadi nama baru UNG.

“Pembahasannya ini sudah sejak tahun 2013, pro kontra-nya sudah dibahas, dan sekarang sudah tidak lagi yang perlu diperdebatkan. Hanya saja pada saat diusulkan 2014 ke Kemendikbud, masih ditunda oleh Kemendikbud karena akan sama dengan Institut Teknolgi BJ Habibie, yang ada di pare-pare Sulewesi Selatan.

Sekarang dibuka kembali lagi, dan sudah disahkan oleh senat universitas,”ungkap Prof. YK. Ia juga membantah jika ada anggapan dari orang-orang bahwa nama ini bernuansa politis, karena dikaitkan dengan nama Gubernur Gorontalo saat ini Rusli Habibie.

“Saya perlu tegaskan lagi, ini tidak ada hubunganya dengan politik. Kita ini lembaga pendidikan. Sehingga nama ini digunakan untuk kepentingan pengembangan pendidikan di Gorontalo,”kata Prof. YK. Sementara itu, rektor UNG, Prof. Dr. Syamsu Q Badu, menyampaikan, dengan adanya pengesahan senat ini, memang menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat. Pihak kampus menurut Prof Syamsu, menghargai segala perdebatan yang ada di masyarakat itu.

“Banyak juga yang bertanya pada saya tentang perubahan nama ini, tapi semuanya saya hargai baik yang sependapat maupun yang tidak sependapat. Bagi saya, dengan adanya respon dari berbagai kalangan masyarakat ini, menandakan bahwa UNG sudah semakin maju dan diperhatikan oleh semua kalangan,” ungkapnya.

Rektor UNG dua periode ini menambahkan, dengan nama yang baru, yaitu Universitas BJ Habibie ini, menjadi spirit bagi UNG, dalam mewujudkan visinya menjadi Leading University dalam pengembangan kebudayaan dan inovasi berbasis potensi regional di kawasan Asia Tenggara 2035.

“Sekarang ini bukan zamannya berlari lagi, tapi harus melakukan lompatan-lompatan, nama dar presiden RI ke 3, BJ Habibie yang akan menjadi spirit bagi kampus,” ungkapnya. SEMENTARA Itu Direktur Pascasarjana UNG, Prof. Dr. Sarson Pomalato, juga menyampaikan bahwa Universitas BJ Habibie sudah sangat cocok untuk Gorontalo, karena BJ Habibie dikenal juga sebagai orang Gorontalo.

Terkait dengan BJ Habibie yang merupakan seorang teknokrat dunia, sehingga dikhawatirkan akan menghilangkan identitas dari UNG sebagai universitas kependidikan, Prof. Sarson menyampaikan bahwa itu adalah paham yang keliru.

“Saya perlu jelaskan pak BJ Habibie itu adalah orang pendidikan yang bergerak dalam bidang ilmu teknologi. Justru dengan adanya nama BJ Habibie maka akan memperkuat pendidikan di Gorontalo, khususnya yang ada di kampus Universitas BJ Habibie,” kata guru besar dalam bidang ilmu pendidikan ini. Dirinya juga menambahkan jika BJ Habibie juga sangat berperan dalam kemajuan pendidikan di Gorontalo.

Salah satu contohnya adalah dengan mendirikan sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cendekia, yang menghasilkan cendekiawan muda dari Gorontalo. “UNG yang menghasilkan guru, para pendidikan. Seiring dengan perkembangannya, Fakultas Ilmu Pendidikan ini juga menghasilkan beberapa fakultas non keguran. Fakultas non keguruan itu justru yang akan menguatkan pendidikan di UNG,” katanya.

Dekan Fakultas Ilmu Perikanan dan Keluatan UNG, Dr. Abdul Hafidz Olii menyampaikan bahwa dengan adanya BJ Habibie ini, maka harus bisa dijiwai oleh seluruh civitas akademika, dengan membawa semangat dari BJ Habibie.
“Cerminan dari BJ Habibie tersebut harus tergambar pada civitas akademika UNG,” ungkapnya.

Dekan Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) UNG, Dr. Harto Malik,M.Hum menyampaikan bahwa dengan adanya nama BJ Habibie ini, maka semakin memperkuat FSB. “Teknologi yang berkembang, tentunya tidak pernah terlepas dari peran budaya. Apalagi Gorontalo yang sangat dikenal dengan daerah adat dan budaya,” ungkanya. Dekan Fakultas MIPA UNG, Prof. Dr. Evi Hulukati, juga menyambut dengan gembira adanya perubahan nama tersebut.

“Ini akan menjadi kemajuan teknologi dan sains di Gorontalo, dan insya Allah akan lahir BJ Habibie baru dari Gorontalo,” pungkasnya. Dari sisi dewan adat, Ketua Dewan Adat Gorontalo Karim Pateda menyambut baik rencana perubahan nama kampus UNG menjadi Universitas BJ Habibie. Menurutnya, perubahan nama itu sudah tepat karena BJ Habibie memiliki benang merah dengan Gorontalo. “Saya juga sudah mensosialisasikan ini ke seluruh pemangkut adat sampai ketingkat bawah. Saya perlu sampaikan semua masyarakat adat 100 persen mendukung perubahan nama UNG menjadi Universitas BJ Habibie,” ungkap Karim ketika diwawancarai Gorontalo Post, kemarin,(25/8).

Lebih lanjut disampaikan Karim Pateda, sebanarnya, sejak awal Dewan Adat pun sudah menyampaikan dukungan tersebut. Karim mengaku termasuk yang mengusulkan pengantian nama. Saat itu Universitas di Pare-pare berhasil di ubah namanya menjadi Universitas BJ. Habibie Pare-Pare. Nah, untuk Gorontalo sempat tertunda mengingat kajiannya adalah kampus negeri, berbeda dengan universitas pare-pare yang merupakan kampus swasta.

“Akan tetapi saya kira hal tersebut bukan jadi alasan. Bukankah di Makasar ada Universitas Hasanudin (Unhas) yang statusnya negeri. Begitu juga di Manado, ada Universitas Samratulangi (Unstar),” terangnya. Ketua Ikatan Alumni Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Drs.Roni Imran, menilai perubahan nama Universitas Negeri Gorontalo UNG) tersebut menjadi Universitas Bj Habibie, sah selama dilakukan sebagaimana mestinya.

“Tentu diharapkan perubahan nama tersebut bisa menjadi spirit baru bagi lembaga untuk terus maju sebagai kampus terkemuka dalam mencetak generasi-generasi cerdas dimasa-masa mendatang,”tandas Roni Imran. (tro/tr-45/csr/nat/wan/and/hg)

(Visited 13 times, 1 visits today)

Komentar