Selasa, 27 September 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Membentuk Kepribadian Anak Melalui Dramaturgical

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Rabu, 24 Januari 2018 | 11:54 Tag: , ,
  

 HIDUP Bagaikan  Panggung Sandiwara”, itulah kalimat yang tak asing lagi di telinga. Mungkin terlintas dalam pikiran kita bahwa Panggung sandiwara tersebut identik dengan tokoh, naskah, perwatakan,pesan dan kesan, serta alur cerita dalam suatu drama,sinetron, atau film. Semua itu memang benar adanya.Namun bukan hanya itu, Akan tetapi bagaimana kita memahami  dan memerankan sandiwara tersebut dalam kehidupan fakta sosial.

Yakni panggung sandiwara depan (front region) dan apa yang ada di balik panggung sandiwara(back stage)tersebut.Ide dasar Goffman dalam kar yanya Abercrombie et al.,(2010:164) adalah bahwa dalam interaksi setiap orang mengadakan sebuah pertunjukkan terhadap satu sama lain, memanggungkan kesan yang diterima pihak lain.Peran-peran sosial dengan demikian analog dengan peran-peran di teater setiap orang memproyeksikan citra-citra diri mereka sendiri dengan cara yang terbaik untuk mencapai tujuan mereka karena informasi semacam itu membantu dalam menentukan situasi dan menciptakan harapan yang sesuai. Sedikitnya, seperti seorang guru ketika berada di dalam kelas begitu santun, sabar, riang, lembut tutur kata kepada setiap muridnya. Bisa saja setelah ia keluar dari kelas raut wajah nampak murung karena suatu hal misalnya.

Seorang bawahan akan tunduk dan patuh kepada atasannya, sebagai upaya agar dirinya aman tidak mendapat teguran bahkan pemecatan.Sosok kasir bank yang berpenampilan rapi dan menarik, ramah da santun kepada setiap nasabah yang datang, juga dituntut untuk bersikap formal. Dan ternyata setelah jam istirahat, kasir bank tersebut nampak lebih santai, bersenda gurau dengan sesama teman kerjanya. Pedagang yang dengan lemah lembut menawarkan barangnya  kepada pemebeli.

Semuanya itu dilakukan karena adanya peran yang dimiliki. Secara sosiologis mengenai penampilan diri di hadapan orang lain, Erving Goffman dalam karya Poloma(2010:251) sendiri menggunakan bahasa dan tamsi l teater yang berbagai kegiatan serta hasil suksesnya ditentukan oleh pilar-pilar struktural serta struktur yang pasti atau situasi sesaat, maupun aturanaturan atau norma-norma yang mengatur pertunjukkan. Itulah pemahaman kita tentang dramaturgical. Tanpa kita sadari dramaturgi dalam kehidupan sosial seakan sudah melekat dalam aktivitas keseharian. Bukan hanya disaat memainkan peran dalam suatu pekerjaan di luar. Bahkan di dalam rumah (keluarga) pun kita sering bahkan penting untuk memainkan dramaturgi tersebut.

Kepribadian seorang anak baik dan buruknya ditentukan oleh keluarga, yaitu orang tuanya sendiri. Karena orang tua merupakan bagian dari sosialisasi primer. Dalam buku karangan Muin (2013: 125), Peter L. Berger dan Luckman sendiri mendefinisi kan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Dari usia 1-5 tahun sepenuhnya anak  menjadi tanggung jawab orang tuanya. Mulai mengenal dan membedakan antara dirinya dan orang lain,belajar mengucapkan kata demi kata, beraktivitas fisik, dan sebagainya.

Pada usia 5 tahun ke atas, anak akan mulai bersosialisasi dengan dunia luar, yaitu sosialisasi sekunder. Misalnya melalui dunia pendidikan ( s e k o l a h ) d a n teman sepermainan.Dengan tidak melalaikan sosialisasi primer yang diperoleh dari orang tua, bahkan sampai anak itu tumbuh dewasa.

Inilah pentingnya keseimbangan anatara pendidikan luar, dengan pendidikan orang tua terhadap masa depan anak. Dramaturgi dapat dijadikan sebagai sarana  untuk memudahkan sekaligus membimbing dalam tantangan atau masalah yan dialami orang tua dalam membentuk dan mendidik kepribadian anak.

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, konflik sudah menjadi hal yang biasa bahkan sering timbul antara suami dan istri. Akan tetapi biasanya ketika konflik mulai memuncak seakan tak disadari. Terkadang sebagai orang tua, kita tak sadar telah memberikan dampak negatif kepada anak sendiri. Bagaimana tidak, ketika konflik timbul dalam satu keluarga keadaan pun berubah. Tak perlu diungkapkan, bahasa tubuh pun sebenarnya telah menjelaskan kebenarannya. Makan, tidur, nonton TV, duduk santai di depan teras rumah, atau sebagainya merupakan budaya bersama dalam suatu keluarga. Sehari saja ketika budaya ini tidak terlaksana, pasti anak akan cenderung bertanya mengapa terjadi demikian. Tanpa raguragu atau disembunyikan, biasanya orang tua menjelaskan kebenaranya . Sangat disayangkan, hal ini yang sebaiknya dihindari.

Seorang anak tidak perlu tahu tentang suatu kebenaran adanya konflik antara orang tua (ayah dan ibu). Karena akan  berdampak buruk bagi kepriadiannya. Seperti timbulnya rasa takut, tidak tenang, kecewa, dan sebagainya. Oleh karena i tu, baiknya konflik tersebut diletakkan di belakang panggung. Dan memainkan peran seakan tidak terjadi apa-apa di panggung depan yaitu dihadapan anak.

Demikian bentuk penerapan dramaturgical. Contoh lain yang mungkin bisa untuk diterapkan yakni ketika sedang bepergian jalan santai dengan anak misalnya, di perjalanan berpapasan dengan sosok wanita tua atau anak kecil yang tengah meminta-minta dankebetulan terselip atau dengan sengaja membawa sediki t uang di sakunya. Meskipun tidak terlintas di pikiran atau dengan sengaja tidak ingin menyi s ihkan sebagian uangnya, karena sedang berjalan bersama anak, dengan ikhlas atau terpaksa harus memberi sebagian uang kepada sosok peminta tersebut.

Ini dikarenakan sebagai salah satu upaya untuk mengajarkan anak agar memiliki pribadi yang pemurah (suka memberi). Agar anak memiliki  pribadi yang religius, saat adzan berkumandang  alangkah baiknya bergegas untuk memainkan peran kita sebagai orang tua, yakni mendirikan sholat di tengahkeberadaan mereka (dapat dilihat anak). Atau membaca dan menghafal ayat-ayat Alquran untuk didengarkan kepada anak tersebut. Bukan  karena riya’sebagaimana kita ketahuisebagai bentuk larangan memamerkan (ibadah tersebut) agar dapat dipujiorang lain. Akan tetapi yang paling penting adalahbertujuan agar anak bisa meniru untuk melaksanakannya. Itulah beberapa contoh kegiatan dramaturgical dalam agama Islam. Penerapan juga bisa dilakukan untuk agama lain (seperti Kristen Protestan, Khatol ik, Hindu, Budha, Khonghucu, dst) dengan bentuk peribadatan dan sebutan yang berbeda-beda pula.

Hal ini mungkin sangat cocok dengan sebutan berpura-pura ibadah.Yang memang itulah bentuk kemunafikan. Namun,jangan hanya berfikir sebatas itu, tetapi tujuan dan dampak bagi kita dalam mendidik anak lah sebagai prioritas utama. Layaknya pertunjukkan suatu drama di atas panggung atau layar kaca adalah agar para penonton merasa terhibur.

Ibadah dipahami sebagai bentuk kewajiban untuk dilaksanakan, ketika keimanan mulai tergoyah dengan perasaan berat atau malas, kepurapuraan atau kemunafikan yang kita terapkan bahkan dengan keterpaksaan yang ada, kita dapat mengajarkan anak untuk beribadah. Ke depan lambat laun pengajaran tersebut akan dapat mengantarkan kita juga selaku orang tua untuk tetap istiqomah dalam menjalankan syariat agama.

Selain contoh tindakan orang tua dalam mendidik anak sebagaimana yang telah dijelaskan tersebut, sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang bisa bahkan penting untuk kita terapkan. apakah sandiwara  (dramaturgical) terebut harus diperankan di hadapan mereka (anak-anak) dalam jangka panjang atau terus-menerus? Tidak, faktanya sebagian besar orang tua sulit untuk melakukan demikian. Mungkin faktor kurangnya kesadaran yang dimiliki , perbedaan ukuran emosional , atau mungkin karena kurangnya motivasi untuk perubahan diri, dan sebagainya. Tapi, jika kita sendiri merasa mampu, mengapa tidak?

Be rd a s a r k a n b e n t u k sosialisasi yang dilakukan kepada anak dengan sistim dramaturgical ini sebenarnya memberikan dampak positif yang luar bisa. Betapa tidak, dari mudah sampai pada tingkat kesulitan sebagai upaya pembiasaan diri kepada anak dalam situasi yang mungkin kita sendiri tidak menghendakinya, akan berbuah manis untuk kepribadian anak itu sendiri bahkan sampai kelak mereka dewasa.

Bukan hanya itu, penerapan dramaturgical juga dapat melatih bahkan membimbing kepribadian kita sendiri sebagai orang tua. Demikianlah apa yang dimaksud dramaturgical (sandiwara) yang penuh dengan kepura-puraan, kemunafikan.
Namun dalam artian salah satu bentuksosiodrama(drama sosial) positif untuk penerapan dalam lingkungan keluarga khususnya untuk memperbaiki dan meningkatkan cara pandang dan aktivitas kita sebagai orang tua dalam mendidik anak agar memiliki pribadi yang lebih baik, sesuai harapan. Karena jika hanya terpaku dalam dunia pendidikan (sekolah saja misalnya) pun tidak cukup. Akan tetapi pendidikan keluarga yakni peran ayah dan ibu juga sangat penting sebagai penentu kepribadian masa depan  anak kita.

*Alumni Mahasiswa
Universitas Negeri Gorontalo
(UNG), Angkatan 2010,
Jurusan S1 Sosiologi

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar