Kamis, 7 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Abadi Dengan Karya

Oleh Berita Hargo , dalam Post , pada Selasa, 27 Februari 2018 | 00:29 Tag: , ,
  

Hargo.co.id, Zetizen-GP- Sejarah menyisahkan banyak hal, begitulah kiranya. Kita di zaman sekarang mampu belajar darinya karena beribu tulisan yang di torehkan. Sejarah pun dapat terus digulirkan. Tulisan adalah hasil kreasi. Baik apa yang ditulis, ataupun siapa yang menulis, tulisan selalu mengabadikan. Wangi nama mereka tak lekang tersaput kala.

Namun menulis bukan sekadar menggoreskan pena, lalu selesai. Seorang penulis berderajat universal, Gabriel Garcia Marquez meyakini bahwa dalam menulis, ketekunan lebih mendatangkan maslahat dari pada sekadar peniruan. Yang mau menulis harus rela berpeluh untuk menemukan rahasia dibalik derai-derai halaman buku yang menampilkan deretan aksara itu. Lalu si penulis mesti menyatukan kembali patahan-patahan makna dan memahaminya, kemudian mengungkapnya dalam bentuk tulisan.

Sebut saja Imam Bukhori, Imam Muslim, Ibnu Majah dan para periwayat Hadist lainnya. Bagaimana jadinya jika mereka tidak menuliskan, mengabadikan apa yang pernah dilihat dan didengar langsung dari Sang Nabi? Atau Soe Hok-gie, tokoh nasional mahasiswa tahun 1960-an yang banyak menuangkan kejadian tahun-tahun itu dalam buku hariannya. Bagaimana Bapak Revolusi tergantikan bersama runtuhnya orde lama, seperti apa Tragedi G30S 1965, pembantaian PKI dimana-mana. Dapatkah kita tahu kejadian-kejadian itu jika Gie dan banyak penulis lain saat itu tidak menuliskannya?

Bahkan untuk mengenal Tuhan saja kita butuh karya para penuang aksara. Bagaimana kita bisa menyembah-Nya ketika mengenal Dia pun tidak? Maka melalui tulisanlah perkenalan itu hadir. Seorang penulis memerlukan pemaknaan yang dihadirkan dari rahim semesta. Menjadi penulis sama halnya dengan menjadi pemimpi yang sadar akan keharusan berbagi cerita.

Tan Malaka, R.A Kartini, Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, dan banyak lagi penuang aksara lainnya, adalah mereka yang abadi dengan karya. Abadi. Karena tak ada yang lupa. Karena hingga saat ini kehadiran mereka masih senantiasa terasa melalui setiap kata, setiap kalimat yang mereka torehkan. Ke-abadian yang begitu Abadi, lewat Karya yang Abadi. (ZT-11/hargo)

 

Siti Khumaira Dengo
Penulis Wattpad

Dua Cara untuk Abadi 
Menurutku abadi dengan karya itu bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, menggeluti karya tersebut. Ini udah pasti ya. Kedua, jangan gengsi. Gengsi di sini dalam artian kalau dikasih feedback (kritik/saran) dari orang lain, jangan gengsi untuk menerimanya. Kadang gengsi itu malah membuat karya kita mati secara perlahan. Untuk keabadian itu sendiri, saya rasa tidak perlu karena yah, manusia berubah setiap saat. Hari ini kita berkarya A. Belum tentu besok kita masih bertahan. Bisa jadi kita ‘selingkuh’ ke karya B. Pun, ada slogan terkenalnya bos. “Tidak ada yang abadi di dunia ini”. (ZT-10)


Mega Mutia Rahman
Kedokteran, Universitas Tadulako

Cukup Menjadi Bermanfaat 
Sebagai seorang manusia, banyak hal yang dapat kita lakukan, menjadi orang yang dikenang sebenarnya mimpi setiap orang, tapi tidak setiap orang bisa mencapai itu, kecuali buat mereka yang ingin mencoba. Ketika ditanya bagaimana menjadi orang yang mudah dikenang, sebenarnya itu pertanyaan yang membuat saya berpikir tentang seorang ilmuan, atau menjadi seorang public figure, yang cukup membawa nama mereka hingga saat ini, walaupun banyak diantara mereka yang telah meninggal dunia. Tapi jauh dari itu semua, sebenarnya yang membuat kita agar bisa dikenang orang lain, adalah dengan selalu melakukan feedback terhadap diri sendiri dan orang lain, pribadi yang baik dan bermanfaat itu juga diperlukan. Dan saya rasa tidak perlu menjadi seorang ilmuan agar bisa dikenang, cukup dengan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dalam konteks hal yang positif itu bisa saja terjadi. (ZT-10)


Ardita

SMA Negeri 1 Boliyohuto 

Menjadi Baik Terlebih Dahulu
Menurutku, menjadi baik adalah hal penting yang harus dilakukan setiap orang terlebih dahulu apabila ingin punya karya yang abadi.
Sebab, dengan kebaikan yang kita miliki, orang pasti akan mengenang kita dan tidak akan melupakan kita terlebih ketika kita punya karya, maka karya kita pasti akan abadi dan dihargai. Karena menurutku akan menjadi percuma apabila karya kita tidak didukung dengan kebaikan yang kita punya. (ZT-08)

(Visited 18 times, 1 visits today)

Komentar