Kamis, 7 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ada Hubungan Misterius Apa antara Jaksa Agung AS dengan Rusia?

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Dunia , pada Jumat, 3 Maret 2017 | 09:39 Tag: ,
  

Hargo.co.id – Belum genap sebulan menjabat, Jaksa Agung Amerika Serikat (AS) Jeff Sessions tersandung masalah. Rabu malam waktu setempat (1/3), harian Washington Post melaporkan bahwa tokoh 70 tahun itu dua kali bertemu Duta Besar Rusia Sergei Kislyak pada masa kampanye pemilihan presiden (pilpres). Padahal, di hadapan Kongres saat hearing terakhir sebelum dilantik, dia bersumpah tak pernah bertemu dengan pejabat Rusia.

”Saya tidak pernah bertemu dengan pejabat Rusia untuk membahas kampanye pilpres. Saya tidak habis pikir dari mana tuduhan semacam itu muncul. Semua itu tidak benar,” papar Sessions dalam pernyataan tertulisnya. Dalam hearing Senat 10 Januari lalu, dia mengaku tidak pernah bertemu pejabat Rusia, siapa pun itu. Sayang, saat itu, dia tidak menambahkan keterangan tentang membahas topik kampanye pilpres.

Sebab, jika yang dimaksud adalah bertemu pejabat Rusia pada masa kampanye, Sessions dua kali melakukannya. Yakni, pada Juli dan September. Gedung Putih pun membenarkan adanya dua pertemuan tersebut. Tapi, yang terjadi bukanlah seperti yang Washington Post laporkan. Menurut Gedung Putih, tidak ada yang istimewa dalam pertemuan Sessions dan Kislyak. Dua pejabat itu hanya membahas hal-hal normal.

Pertemuan itu terjadi saat Sessions masih menjadi senator dan tercatat sebagai anggota Komite Angkatan Darat Senat AS. ”Sessions bertemu sang dubes dalam kapasitasnya sebagai anggota komite Senat. Bukan sebagai penasihat tim sukses Trump. Itu artinya, tidak ada pelanggaran yang terjadi di sana,” terang pejabat Gedung Putih. Washington lantas melontarkan dugaan keterlibatan Partai Demokrat dalam isu tersebut.

”Itu menjadi serangan paling baru yang dilancarkan pendukung Demokrat terhadap pemerintahan Trump,” kata pejabat yang tidak disebutkan namanya tersebut. Gedung Putih bersikukuh membela Sessions. Washington juga menegaskan bahwa kesaksian politikus senior tersebut saat Senat melakukan fit and proper test awal Januari lalu sudah benar.

Sarah Isgur Flores, jubir Departemen Kehakiman, menepis anggapan bahwa Sessions telah sengaja membuat Senat salah paham. ”Dalam hearing itu, dia ditanya tentang komunikasi antara Rusia dan tim sukses Trump. Bukan tentang pertemuan yang dia lakukan saat menjabat anggota salah satu komite Senat. Itu bukan pertanyaan yang sulit dan dia sudah menjawabnya dengan benar,” katanya.

Pada Juli lalu, Sessions bertemu dengan Kislyak dan beberapa dubes yang lain. Tidak jelas apa dasar pertemuan tersebut. Tapi, jelas pertemuan itu meninggalkan kesan tersendiri bagi Sessions. Sebab, tidak sampai satu bulan kemudian, Sessions kembali bertemu Kilsyak. Kali ini, pertemuan berlangsung tertutup. Sayang, baik Sessions maupun Kilsyak memilih bungkam saat diminta menjelaskan lebih lanjut soal hal itu.

Menguatkan keterangan Gedung Putih, Kremlin pun merilis pernyataan resmi. Kemarin (2/3) Nikolai Lakhonin mengatakan bahwa Kedutaan Besar Rusia di AS rutin berkomunikasi dengan Washington. Dia menyebut pertemuan diplomat Rusia dan AS sebagai hal yang wajar dan topik yang dibahas pun normal layaknya dua pejabat negara. Dia menegaskan, hal yang sama dilakukan Rusia dengan negara-negara lain.

”Kedutaan tidak mengomentari pertemuan yang terjadi antara kami dan mitra lokal. Itu terjadi setiap hari dalam konteks hubungan diplomatik,” papar Lakhonin kepada Kantor Berita Interfax. Sebelumnya, tentang skandal yang memaksa Michael Flynn mundur dari kursi penasihat kepresidenan bulan lalu pun Moskow tak mau berkomentar. Mereka menganggap hal-hal seperti itu adalah urusan dalam negeri AS.

Dari ibu kota Rusia, Alexey Pushkov menganggap para politikus AS terlalu paranoid terhadap Kremlin. ”Hampir semua elite politik AS yang sekarang berkuasa, ternyata, punya hubungan dengan Rusia. Termasuk, jaksa agung. Paranoia tak akan ada ujungnya,” tegas senator Rusia tersebut, mengkritik para politikus AS.

Sementara itu, para petinggi Demokrat mendesak Sessions mundur. Nancy Pelosi, ketua minoritas House of Representatives, menyebut orang pilihan Trump itu telah berbohong. ”Setelah berbohong di bawah sumpah kepada Kongres tentang interaksinya dengan Rusia, jaksa agung harus mengundurkan diri,” tuntut politikus perempuan tersebut. Desakan yang sama dipaparkan sejumlah pejabat Demokrat yang lain.

Michael McFaul, dubes AS untuk Rusia di era Barack Obama, mengimbau Trump dan jajaran pemerintahannya lebih terbuka. Terutama tentang hubungan mereka dengan Rusia. ”Yang membuat saya tidak paham adalah mengapa Trump dan orang-orangnya harus semisterius itu tentang komunikasi dan interaksi mereka dengan Rusia. Jika tidak ada yang ditutupi, katakan saja apa adanya,” ujarnya.

Selain Sessions yang dituduh berbohong, media AS ramai memberitakan pidato perdana Trump di hadapan Kongres. Pidato yang disiarkan langsung oleh stasiun-stasiun televisi nasional Negeri Paman Sam itu menuai pujian banyak pihak. Tidak hanya dari Partai Republik, tapi juga sejumlah kalangan. Tapi, seiring berlalunya pidato panjang itu, banyak pertanyaan bermunculan.

Kepada sekitar 48 juta pasang mata yang menyaksikan pidatonya, Trump mengobarkan semangat persatuan. ”Rakyat Amerika, kita siap memulai babak baru,” tandas pengganti Obama tersebut. Tapi, Demokrat menanggapinya dengan skeptis. Chuch Schumer, ketua kubu Demokrat di Senat, mengimbau publik tak terlalu banyak berharap. Sebab, seperti biasa, Trump selalu menggunakan kata-kata populis.

Trump boleh berbicara panjang lebar tentang infrastruktur. Namun, saat dia mengalokasikan banyak anggaran ke pos pertahanan, fokus pemerintahannya pun bakal ke militer. Dengan ambisi memangkas defisit, akan sulit bagi Trump untuk mewujudkan pembangunan infrastruktur ideal tanpa meningkatkan anggarannya. Tentang Obamacare yang Trump ngotot harus dihapus pun, Washington belum punya gambaran pengganti. (AFP/Reuters/BBC/CNN/hep/c17/any)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar