Airlangga Sebut Amali Potensi Masuk Kabinet

Hargo.co.id, JAKARTA – Partai Golkar punya jatah kursi menteri pada kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) periode 2019-2024 mendatang. Sebagai partai pengusung dan penyumbang kemenangan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019, Golkar diprediksi mendapat jatah lebih dari kursi menteri. Kabarnya, Presiden Jokowi sudah meminta daftar nama-nama calon menteri dari Partai Politik termasuk Golkar.

Salah satu kader Golkar yang berpotensi mendapat jatah menteri adalah putra Gorontalo, Zainudin Amali. Hal itu disampaikan langsung ketua umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Tidak hanya Zainudin Amali, namun empat kader Golkar lain disebut Airlangga juga berporensi, masing-masing Dedi Mulyadi, Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Ibnu Munzir.

“Satu nama-nama tersebut tentunya punya potensi (jadi menteri, Red),” ujar Airlangga di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (18/7).

Kendati demikian, Menteri Perindustrian itu mengatakan, Zainudin Amali dan empat nama lainya itu belum ia sodorkan ke Jokowi. Menurut Airlangga, mengajukan nama calon menteri presiden akan dilakukan pada momen yang tepat.

“Jadi nanti pada waktunya. Kita ini belum bicara secara detail,” katanya.

Airlangga mengatakan, Partai Golkar memiliki kader-kader yang unggul. Di luar lima nama itu, siapa saja sebetulnya bisa diajukan. “Golkar kadernya banyak. Jadi siapapun bisa,” pungkasnya.
Zainudi Amali memang diprediksi sejak awal akan masuk dalam daftar calon menteri yang akan diusulkan Golkar ke Jokowi. Bahkan anggota DPR RI fraksi Golkar dapil Gorontalo (2004-2009) itu, disebut menjadi kandidat calon Menteri Sosial menggantikan Idrus Marham yang mundur lantaran tersandung kasus korupsi.

Kursi Menteri Sosial itu akhirnya diisi koleganya, Agus Gumiwang Kartasasmita, sementara Zainudin Amali memilih tetap di DPR RI sebagai ketua komisi II. Selain partai Golkar, partai NasDem juga berpotensi mengusulkan putra Gorontalo untuk mengusi kursi menteri. Kader NasDem potensial itu adalah Rachmad Gobel.

Sebelumnya, Rachmat pernah menjabat Menteri Perdagangan pada awal-awal pemerintahan Jokowi periode pertama. Ketika itu Rachmat dipilih dari kalangan non parpol atau kalangan profesional. Hanya saja, ditengah perjalanan sebagai Menteri Perdagangan, Rachmat dicopot Jokowi. Ia kemudian diberi tanggungjawab sebagai utusan khusus Presiden untuk hubungan Diplomatik RI-Jepang. (jp)

-