Saturday, 25 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Akademisi Gorontalo Tolak Rektor Dipilih Presiden

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Tuesday, 6 June 2017 | 12:54 PM Tags: , , , ,
  

GORONTALO Hargo.co.id – Wacana Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo agar rektor perguruan tinggi harus dipilih oleh presiden, menuai penolakan dari sejumlah akademisi di Gorontalo. Wacana itu dianggap sebagai langkah mundur. Karena pemilihan rektor melalui mekanisme penunjukkan Presiden sebelumnya sudah pernah dilakukan.

Guru besar kebijakan publik Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Prof. Dr. Yulianto Kadji mengatakan, tahun-tahun sebelumnya pemilhan rektor dilakukan oleh presiden. Dan itu terakhir dilakukan pada 2010 lalu.

“Beberapa tahun lalu, rektor itu dipilih Presiden. Tapi sekarang sudah dipilih berdasarkan pertimbangan senat ditambah 35 persen suara menteri. Sehingga kalau dikembalikan ke predisen itu sama saja langkah mundur pada perguruan tinggi,” kata Prof. YK.

Ia juga menambahkan bahwa anggota senat juga memilih rektor berdasarkan dengan berbagai pertimbangan, dan itu lebih demokratis di kampus. Bahkan suara menteri 35 persen itu, kalau bisa ditiadakan dan dikembalikan sepenuhnya pada anggota senat. “Biarlah anggota senat yang memilih rektor, setelah itu ditetapkan dengan keputusan presiden berdasarkan dengan usulan menteri,” ungkap Prof. YK yang juga anggota senat UNG.

Sementara itu, rektor UNG, Prof. Dr. Syamsu Q Badu, mengatakan kalau pada periode pertamanya tahun 2010 – 2014 dia menjadi rektor UNG atas SK dari presiden berdasarkan usulan pemilihan dari senat.

“Di periode pertama saya (2010-2014,red), ada tiga orang yang diusulkan oleh senat. Saya, pak YK, dan pak Mahludin. Itu diusulkan ke pusat, sampai kita dilihat rekam jejak. Dan alhamdulillah saya dipilih oleh presiden. SK saya ditanda tangani oleh presiden,” katanya.

Dan memasuki di periode kedua, sudah melalui sistem pemilihan di senat, ditambah dengan suara menteri 35 persen dari jumlah anggota senat. “Di periode kedua ini, sudah dipilih oleh senat, siapa suara terbanyak dan ditambah dengan suara menteri 35 persen, dia yang akan menjadi rektor. Jadi, pemilihan rektor ditunjuk oleh presiden itu bukan hal yang baru,” kata SQB.

Wacana yang digulirkan oleh Mendagri ini memang cukup seksi untuk Gorontalo. Pasalnya pada 2018 ada dua perguruan tinggi yang akan memilih rektor. Yaitu Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Gorontalo.

Khusus untuk pemilihan rektor UNG sudah ada beberapa nama kandidat yang bermunculan. Seperti, Eduart Wolok mantan wakil rektor II UNG yang saat ini tengah menyelesaikan studi S3-nya. Evi Hulukati Dekan Fakultas MIPA, Mahludin Baruadi wakil rektor I UNG, Harto Malik Dekan Fakultas Sastra dan Budaya, Fence M Wantu wakil rektor III UNG, Yulianto Kadji wakil direktur Pascasarjana, dan beberapa figur lainnya. (wan/hargo)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar