Selasa, 27 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Aksi Demo Omnibus Law di Gorontalo Berakhir Ricuh

Oleh Berita Hargo , dalam Headline Indonesia 99 Kata , pada Kamis, 8 Oktober 2020 | 20:35 WITA Tag:
  Aksi demonstrasi penolakan Omnibus Law yang dilakukan gabungan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Gorontalo yang berakhir ricuh, Kamis (8/10/2020). (Foto : Ramadan/GORONTALO POST)


Hargo.co.id, GORONTALO – Aksi demo mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Gorontalo yang menolak Undang-Undang (UU) Omnibus Law, Kamis (8/10/2020) berakhir ricuh.

Informasi yang berhasil dihimpun, kericuhan dipicu ketika para demonstran meminta sejumlah teman mereka yang diduga diamankan oleh aparat dilepaskan. Adu mulut antara petugas keamanan dan mahasiswa tak terelakkan.

Situasi semakin memanas. Para pendemo mulai melemparkan batu ke arah aparat kepolisian. Aparat pun mengambil tindakan tegas dan terukur. Pendemo yang berjumlah ratusan orang itu dipukul mundur menggunakan semprotan air dari mobil watre canon. Mahasiswa yang mengatas namakan Aliansi Masyarakat Peduli Gorontalo makin menjadi. Kepolisian kemudian menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa.

BACA  Vaksin Tak Menggantikan 3M, Tetap Jalankan Protokol Kesehatan

Hidayat Musa, koordinator lapangan massa aksi mengatakan, awalnya aksi mereka berjalan aman dan tertib. Namun, menurutnya ada pihak yang melakukan tindakan provokatif.

“Kami sangat sayangkan, ada beberapa teman yang ingin bergabung di Kantor DPRD dihalangi aparat. Begitu juga saat kami disimpang lima Telaga, ada yang memprovokasi,” ujar Hidayat.

Akibat dari aksi saling lempar baru itu, terdapat dua mahasiswa yang mengalami luka dan harus dilarikan kerumah sakit. “Ada enam orang yang ditangkap aparat tadi, hingga kini kita belum tau kondisi mereka. Lalu ada 10 orang yang hilang diantara kami juga, kami akan bertahan hingga mereka kembali bergabung bersama,” ujarnya.

BACA  Jika Tak Terbukti, Golkar Akan Persoalkan Rekomendasi Bawaslu ke DKPP

Hanya saja, ia tidak merinci siapa-siapa mereka yang hilang dan ditangkap itu. Hidayat Musa menegaskan, aksi mereka murni untuk menolak penetapan UU Ciptakerja yang disahkan DPR RI. Undang-undang penuh kontroversi itu, lanjut Hidayat, sama sekali tidak berpihak kepada masyarakat dan lingkungan.

Sementara itu, Kepala Biro Ops Polda Gorontalo, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Pratama ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya hanya datang mengamankan aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa.
“Berdasarkan maklumat Kapolri dan instruksi Gubernur, kita dilarang berkerumun, ini dasar kami. Apalagi mereka ini tidak mengantongi izin,” ujar Pratama.

BACA  Bahas Omnibus Law, Gubernur Kumpul BEM Perguruan Tinggi Gorontalo

Ia mengaku harus membubarkan massa, karena mencoba menuju wilayah Kabupaten Gorontalo. Padahal, korlap mengaku titik aksi hanya di Simpang Lima Kota Gorontalo. “Anggota kita ada tiga yang terluka kena lemparan batu,”katanya.

Kombes Pol Pratama, memastikan, tidak ada mahasiswa anggota masa aksi yang ditangkap seperti yang ditudingkan. “Bukan ditangkap tapi diamankan, jangan sampai ada amuk masa atau ada warga yang menghakimi,”katanya.(tr-69/hg)


Komentar