Rabu, 14 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Aksi Heroisme Dokter Aloei Saboe Dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Selasa, 23 Februari 2021 | 04:05 WITA Tag:
  DR. Dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N


Oleh: Dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N

SETELAH kemerdekaan Indonesia diproklamasikan  pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia harus berjuang mempertahankan kemerdekaan dari dua ancaman yaitu ancaman Sekutu dan NICA (Nederlands Indies Civil Administrasion) yang berniat mengembalikan kembali kekuasaan Belanda di Indonesia pada satu sisi, dan di sisi lainnya ada ancaman makar dari sekelompok anak bangsa yang hendak memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemerintah dan rakyat Indonesia bahu membahu berjuang menghadapi ancaman dan tantangan tersebut. Sebagai seorang pejuang, Dokter Aloei Saboe melakukan aksi heroik dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo.

Mempertahankan RI dari ancaman NICA

DALAM buku Perjuangan Rakyat di Daearah Gorontalo terbitan IKIP Manado Cabang Gorontalo (1981) dijelaskan bahwa beberapa hari setelah menyerahnya Jepang, maka delegasi tentara sekutu di bawah pimpinan Letnan Kolonel Muir dari Australia tiba di Manado untuk serahterima kekuasaan dengan Laksamana Hamanaka. Turut serta dalam delegasi itu tentara NICA yang betugas menyelidiki tawanan Belanda, yang diduga akan menegakan kembali pemerintahan kolonial Belanda. Informasi ini diterima oleh para tokoh pejuang Gorontalo. Oleh karenanya maka pada September 1945 dibentuk dewan nasional yang diketuai oleh Nani Wartabone dan beranggotakan 17 orang tokoh pejuang termasuk Dokter Aloei Saboe. Pada rapat perdana Dewan Nasional dihasilkan keputusan yang dikenal dengan sebutan ”Putusan Dharma Dua” yang isinya: 1) Pemerintahan di Gorontalo adalah cabang dari pemerintahan Republik Indonesia. 2) Pemerintahan di Gorontalo dipimpin oleh seorang pegawai dengan gelar kepala daerah. Keputusan ini menunjukkan bahwa rakyat Gorontalo menolak masuknya NICA yang ingin kembali ke daerah yang sudah merdeka

Tentara Sekutu di bawah pimpinan Mayor Wilson dua kali datang ke Gorontalo yaitu pada bulan Oktober 1945 dan November 1945. Sebagai anggota dewan nasional, Dokter Aloei Saboe bersama Nani Wartabone ikut terlibat dalam dua kali perundingan dengan tentara sekutu yang meminta penyerahan pemerintahan Gorontalo kepada pihak sekutu. Pada perundingan yang kedua di atas kapal Piet Hein, Nani Wartabone ditahan dan langsung dibawa ke Manado. Tentara NICA segera turun dari atas kapal, menduduki tempat penting di Gorontalo,memasang bendera Belanda dan melarang pengibaran bendera merah putih. Tindakan tentara NICA tersebut telah memicu perlawanan rakyat. Pada Desember 1945, para pemuda yang tergabung dalam laskar berani mati yang dipimpin Yusuf Junus melakukan penyerangan ke markas tentara NICA di Gorontalo. Pada penyerangan tersebut, Harun Honggo tewas tertembak dan 6 orang mengalami cedera. Keenam orang pemuda yang luka parah tersebut dirawat oleh Dokter Aloei Saboe di rumah sakit. Tentara NICA dibawah pimpinan Kapten Bouwman mendatangi rumah sakit dan menangkap Dokter Aloei Saboe dengan tuduhan telah mempengaruhi laskar berani mati untuk menyerang NICA. Beliau dipenjarakan di markas tentara NICA selama tiga minggu. Setelah bebas, Dokter Aloei Saboe dikenakan tahanan rumah. Selama menjadi tahanan rumah, beliau mengundang sejumlah tentara NICA pribumi yang masih memiliki jiwa nasionalisme untuk membantu laskar berani mati melakukan perlawanan terhadap NICA. Gerakan ini ternyata tercium oleh NICA sehingga Dokter Aloei Saboe ditangkap untuk dikarantina di atas kapal perang ”Piet Hein” dan dipindahkan ke kapal torpedo ”Yan Van Brackel”.

BACA  Ini Lima Kesimpulan Hasil Sidang TP2GD Provinsi Gorontalo

Pada Maret 1946,  Dokter Aloei Saboe bersama sejumlah tokoh, membentuk organisasi Gerakan Kebangsaan Indonesia (GERKINDO) yang berkeinginan menolak kekuasaan Belanda dan tidak pernah berkompromi untuk mengembalikan penjajahan dalam bentuk apapun. Organisasi ini juga melahirkan Angkatan Pemuda Republik Indonesia (APRI). Pada masa kepemimpinan Dokter Aloei Saboe, APRI mengadakan sejumlah aksi sabotase kepada NICA. Oleh karena aktivitas perjuangannya tersebut, beberapa kali Dokter Aloei Saboe ditangkap dan dipenjarakan di sejumlah tempat diantaranya Balikpapan, Manggar (sebelah Utara Balikpapan), dan Makassar. Sewaktu dipenjara di Makassar, Dokter Aloei Saboe sempat menerima surat dari Gubernur Sulawesi, Sam Ratulangi yang menanyakan kondisi Gorontalo. Surat tersebut tersita oleh Belanda dan disimpulkan bahwa beliau masih menjalin komunikasi dengan para tokoh pejuang. Oleh karena itu, beliau dipenjarakan lagi ke Balikpapan kemudian dipindahkan ke Tanah Grogot dan Tandjung Aru. Pada Mei 1946 pengadilan militer NICA mengasingkan Aloei Saboe di pulau Morotai dilanjutkan menjadi tahanan rumah di Tilamuta pada tahun 1948. Walaupun berulang kali dipenjarakan, tidak menyurutkan semangat perjuangan Dokter Aloei Saboe untuk mewujudkan indonesia merdeka.

BACA  Ini Lima Kesimpulan Hasil Sidang TP2GD Provinsi Gorontalo

 Selama kurun waktu 1946-1947, Dokter Aloei Saboe mengirim sejumlah obat-obatan dan alat kesehatan yang berasal dari dump perang USA dan Australia kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku Menteri Pertahanan RI yang berkedudukan di Yogyakarta untuk membantu perjuangan kemerdekaan di Pulau Jawa.  Alat kesehatan dan obat-obatan tersebut ternyata beliau dapatkan dari seorang perwira Australia dengan cara ditukarkan dengan perhiasan milik dari istri Dokter Aloei Saboe. Sungguh suatu pengorbanan yang sangat luar biasa dan patut untuk diteladani

Mempertahankan RI dari PERMESTA

Sewaktu meletusnya peristiwa  PERMESTA pada 1958, Dokter Aloei Saboe ikut terlibat dalam membantu operasi penumpasan PRRI/PERMESTA di Gorontalo. Rumah beliau dijadikan sebagai markas dan benteng pertahanan bagi batalyon 512 Brawijaya.  Istri beliau dan keluarga membuka dapur umum di belakang rumah untuk menyediakan makanan bagi tentara TNI.  Selama berbulan-bulan sebelum kedatangan pasukan dari pusat, Dokter Aloei Saboe telah menyembunyikan bahan bakar, bahan makanan dan obat-obatan  di RS lepra di kampung Toto, Kabila (Sekarang RSUD Toto). Tentara TNI dari pusat dibawah pimpinan Mayor Agus Prasmono yang datang ke Gorontalo pada pertengahan Mei 1958, sebenarnya dalam  posisi yang tidak diuntungkan. Namun dengan taktik beliau yang menimbun bahan-bahan kebutuhan utama, akhirnya TNI mampu menghancurkan pertahanan PERMESTA.

BACA  Ini Lima Kesimpulan Hasil Sidang TP2GD Provinsi Gorontalo

Dokter Aloei Saboe juga menjalankan tugas-tugas kemanusiaan merawat mereka yang sakit dan mengobati korban yang terluka baik di pihak TNI, pasukan rimba dan PERMESTA. Dokter Aloei Saboe sempat merawat Mayor Agus Prasmono (komandan Batalyon 512 Brawijaya) yang sakit malaria, pernah mengirimkan obat-obatan kepada pasukan rimba yang dipimpin Nani Wartabone termasuk merawat anggota PERMESTA yang terluka. Oleh karena merawat orang PERMESTA, maka Dokter Aloei Saboe dianggap memihak PERMESTA dan sempat mengalami percobaan pembunuhan. Hal ini tidak dipahami oleh sebagian orang bahwa seorang dokter dalam mengobati pasiennya apalagi di medan pertempuran tidak boleh berpihak baik kepada kawan maupun lawan.

Atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekan Indonesia, maka Dokter Aloei Saboe mendapat anugerah tanda jasa dari pemerintah pusat diantaranya:Satyalencana Peristiwa Aksi Militer II dari Menteri Pertahanan RI Ir. Djuanda (1962), Satyalencana Keamanan dari Menko Pertahanan/Kasab Jenderal A.H.Nasution (1965), dan Satyalencana Penegak dari Menteri Utama Hankam Jenderal Suharto (1969). Semoga aksi heroisme Dokter Aloei Saboe menjadi motivasi dan inspirasi bagi para generasi penerus bangsa untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan demi terwujudnya Gorontalo unggul untuk Indonesia maju. (***)

*) Penilis adalah dosen Program Studi Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo, Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kota Gorontalo.


Komentar