Kamis, 22 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Aksi Tolak Omnibus Law di Gorontalo Kembali Berakhir Ricuh

Oleh Sri Aprilia Mayang , dalam Metropolis , pada Senin, 12 Oktober 2020 | 22:05 WITA Tag: , ,
  Kericuhan yang terjadi saat demo penolakan Omnibus Law di simpang lima Telaga, Senin (12/10/2020). (Foto : Nata Rahman/HARGO)


Hargo.co.id, GORONTALO – Penolakan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja (Ciptaker) yang dilakukan oleh mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Gorontalo yang berlangsung di simpang lima Telaga, Senin (12/10/2020) kembali ricuh.

Kericuhan dipicu adanya aksi pelemparan botol air mineral dan batu ke arah aparat kepolisian yang tengah mengamankan aksi tersebut. Suasana makin ricuh saat kepolisian mulai menyemprotkan gas air mata dan menyiram para pedemo dengan water canon.

BACA  Bahas Omnibus Law, Gubernur Kumpul BEM Perguruan Tinggi Gorontalo

Pedemo yang berhasil dipukul mundur oleh aparat kepolisian masih terus melancarkan aksinya dengan melempar batu ke arah petugas hingga di depan eks terminal andalas. Para pedemo juga sempat membakar ban dan memindahkan tempat sampah yang ada di sepanjang jalan John Ario Katili ke tengah jalan. Ini mereka lakukan untuk menghadang petugas kepolisian yang terus melakukan pengejaran untuk mencari biang provokator.

BACA  Adian Napitupulu Temui Pendemo di Kantor Polisi

Kericuhan ini usai setelah mahasiswa membubarkan diri di depan kampus III Universitas Negeri Gorontalo (UNG) atau tepatnya di depan pom bensin Andalas. Dari pantauan awak media, sejumlah provokator berhasil diamankan oleh pihak kepolisian.

BACA  Dukung Perjuangan Rakyat, Sukarelawan Jokowi Minta UU Cipta Kerja Dibatalkan

Sebelumnya, aksi yang sama juga berakhir ricuh, Kamis (8/10/2020). Akibat dari kericuhan itu, dikabarkan sejumlah pedemo dan anggota kepolisian mengalami luka-luka di sejumlha bagian tubuh.(rwf/hg)


Komentar