Sabtu, 6 Maret 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Alkes Ilegal Bernilai Ratusan Juta Disegel

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Metropolis , pada Rabu, 21 Maret 2018 | 10:46 WITA Tag: , ,
  


Hargo.co.id– Tim terpadu kesehatan menyegel satu gudang yang menyimpan alat kesehatan (Alkes) senilai ratusan juta rupiah yang diduga ilegal, kemarin, Selasa (20/3). Terinformasi, bahwa gudang yang sudah beroperasi hampir setahun itu bahkan sudah menyuplai alkes ke dua rumah sakit swasta di Gorontalo.

Sebelumnya, tim terpadu kesehatan yang terdiri dari sejumlah instansi kesehatan baik Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dan Polda Gorontalo. Operasi berjuluk Opson ini sendiri merupakan operasi global di bawah koordinasi Interpol yang bertujuan mengidentifikasi dan memberantas jaringan kejahatan terorganisir di balik perdagangan makanan ilegal.

Hasilnya, petugas mendapat informasi tentang keberadaan salah satu gudang alkes yang diduga tidak berijin dan terletak di tengah Kota Gorontalo. Petugas gabungan pun langsung mendatangi gudang itu. Sekilas terlihat dari luar, gudang alat kesehatan yang terinformasi telah beroperasi selama hampir setahun itu memang tidak menarik perhatian karena letaknya yang terletak di salah di kompleks kos-kosan mahasiswa.

BACA  Gubernur Gorontalo Pantau Kick Off Vaksinasi

Bahkan, diduga untuk mengelabui petugas, kantor dari distributor alat kesehatan itu hanya menggunakan salah satu kamar kos-kosan. Namun upaya ini ternyata tidak dapat mengelabui petugas yang telah mencium praktek ilegal di tempat itu. Di kamar kos-kosan yang disulap menjadi kantor itu, petugas mendapati salah seorang perempuan paruh baya yang diduga menjadi salah satu karyawan dari distributor alkes itu.

 

(F. YUDHISTIRAH SALEH/GORONTALO POST

Wanita yang tidak diketahui identitasnya itu langsung diintrogasi oleh petugas. Hasilnya, wanita berjilbab itu dengan polosnya mengakui bahwa mereka memang menjadi salah satu suplaier alkes di dua rumah sakit besar di Kota Gorontalo.Ironisnya, wanita itu tidak mampu menunjukkan izin resmi peredaran alkes di Gorontalo.

Tak berapa lama kemudian, salah seorang pria paruh baya yang diduga merupakan pimpinan dari karyawan wanita itu tiba di lokasi kejadian, setelah dihubungi oleh petugas sebelumnya. Dari keterangan pria yang belakangan diketahui bernama Rantau itu, pihaknya memang belum memiliki izin distribusi alkes itu di Gorontalo.

BACA  Peringati HPN, Wartawan dan Polisi di Gorontalo Menyapa Pemulung

Fakta pun terkuak, dari keterangan dari Rantau, pihaknya sudah sejak dua bulan belakangan ini mulai memasok sejumlah model alat kesehatan di dua rumah sakit swasta Kota Gorontalo, masing-masing RS Multazam dan RS Siti Khadijah.

Rantau juga mengakui jika pihaknya memang belum mengantongi izin resmi distributor. Namun Rantau berkilah jika hal itu tidak sengaja dilakukan, karena dirinya menganggap izin distribusi dari perusahaan induk Makassar yang memasok alkes ke tempatnya sudah cukup digunakan di Gorontalo. “Kami ada ijinnya kok dari Makassar, cuma untuk Gorontalo kami memang belum punya,” terangnya. Namun demikian, Rantau mengaku, pihaknya tengah mengurus izin resmi dari pemerintah Gorontalo jika memang perlu, agar pihaknya bisa beroperasi di Gorontalo.

Tapi meski demikian, pengakuan dari Rantau itu tidak menghentikan langkah dari petugas gabungan untuk menindak tegas dugaan distribusi alkes tak berizin itu. Petugas langsung menyegel kantor serta gudang tak berizin itu. Pita kuning berlabel BPOM Gorontalo dibentangkan untuk menutup akses masuk ke dalam Kantor dan Gudang.

BACA  Pemprov Targetkan Pembangunan Secaba TNI-AD Dimulai Maret

Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Susiyana Muis menegaskan, upaya ilegal yang dilakukan oleh perusahaan milik Rantau, tidak dapat ditolerir. Olehnya, petugas gabungan langsung mengambil langkah tegas dengan melakukan penyegelan. “Ini sudah jelas-jelas melanggar aturan karena setiap penyaluran seharusnya memiliki izin resmi,” tegasnya.

Lebih lanjut Susiyana mengatakan, dari hasil penyelidikan sementara, perusahaan itu sudah beroperasi sejak setahun belakangan ini. “Mereka memasok sejumlah alat kesehatan seperti, Disposibel, pompa asi, hingga poli kateter ke dua rumah sakit,” tambahnya. Selanjutnya, menurut Susiyana, pihaknya kembali akan memeriksa dan menindaklanjuti persoalan ini.(tr-45/hg)


Komentar