Rabu, 18 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Amerika Ugal-ugalan Buru Imigran

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Dunia , pada Senin, 6 Maret 2017 | 14:35 Tag: ,
  

Razia Rumah, Gereja, hingga Sekolah

Hargo.co.id – Immigration and Customs Enforcement (ICE) adalah satu di antara dua lembaga yang menjadi tujuan memo Donald Trump mengenai kebijakan imigrasi anyarnya bulan lalu. Surat sakti berisi limpahan wewenang bagi para personel ICE itu meresahkan imigran.

PIPI Fatima Avelica masih basah oleh air mata. Dengan dua tangan yang gemetar, dia memperlihatkan detik-detik penangkapan sang ayah, Romulo Avelica-Gonzales, oleh dua agen ICE pada Selasa waktu setempat (28/2). Lidah remaja 13 tahun itu kelu. Dia masih tak bisa berkata-kata. Dia hanya menangis saat diminta menceritakan penangkapan pria keturunan Meksiko yang sudah dua dekade tinggal di AS tersebut.

”Kami sedang mengalami masa yang sangat sulit,” kata Brenda Avelica, kakak Fatima. Kepada ABC7, gadis yang baru beranjak dewasa itu menyatakan bahwa sang adik merekam diam-diam penangkapan ayah mereka dari jok belakang mobil. Saat itu, sang ayah mengantarkan Fatima sekolah. Tiba-tiba, dua petugas dengan jaket bertulisan polisi menghentikan mobil mereka dan menangkap sang ayah.

Dua petugas itu lantas membawa Avelica-Gonzales ke sebuah mobil yang terlihat seperti kendaraan pribadi. Sebab, tidak ada tulisan apa pun di badan mobil yang terparkir di dekat sekolah Fatima di kawasan Highland Park tersebut. Dari sana, bapak dua anak itu langsung dibawa ke kantor ICE untuk diinterogasi.

Sejauh ini, belum ada keterangan resmi dari ICE tentang penangkapan tersebut. Namun, seorang sumber Al Jazeera di ICE mengungkapkan bahwa Avelica-Gonzales punya lebih dari satu catatan negatif. Di antaranya, pernah mengemudi dalam kondisi mabuk pada 2009, melakukan jual beli kendaraan dengan prosedur yang tidak sah, dan mendapatkan surat perintah deportasi pada 2014.

”Saya tidak pernah membayangkan semua ini akan menimpa keluarga kami. Terlalu menyakitkan bagi kami untuk menyaksikan dan merasakan orang-orang tercinta tercerai-berai seperti ini,” ungkap Brenda. Dia mengakui, keluarganya sudah menyewa seorang pengacara untuk memperjuangkan hak tinggal ayah mereka di Negeri Paman Sam. Tepatnya di Kota Los Angeles yang menjadi rumahnya selama ini.

Kisah pilu Fatima dan Brenda yang terancam berpisah dengan sang ayah hanyalah satu di antara ribuan kepedihan imigran AS sejak Trump menjabat presiden. Taipan 70 tahun yang kini menjadi commander-in-chief itu menjadikan imigrasi sebagai fokus pemerintahannya. Target utamanya adalah 11 juta imigran tak berdokumen alias imigran gelap di seluruh penjuru AS.

Setelah perintah eksekutif yang diteken pada akhir Januari lalu terganjal gugatan publik dan terpaksa harus mandek, Trump mengeluarkan jurus baru berupa memo. Memo untuk ICE dan Customs and Border Protection (CBP) itulah yang kini berlaku. Tak lagi menyasar mereka yang hendak masuk AS, kini suami Melania Knauss itu mengulik imigran gelap di negaranya.

Jika pada era Barack Obama razia imigran gelap hanya terjadi di sekitar perbatasan atau area dengan radius 160 kilometer dari perbatasan, tidak demikian pada era Trump. ICE dan CBP berhak melakukan penangkapan di semua wilayah tanpa batas. Jadi, penangkapan besar-besaran terjadi di hampir semua wilayah AS. Terutama di kota-kota suaka yang selama ini dikenal ramah imigran, termasuk imigran gelap.

”Para petugas imigrasi cenderung lebih agresif dan tidak segan beraksi di area sensitif seperti gereja atau sekolah,” kata Cesar Vargas, pengacara pertama yang mengakui dengan terbuka bahwa dirinya adalah imigran gelap. Lewat memonya, Vargas menyampaikan bahwa Trump telah memberikan cek kosong kepada para personel ICE dan CBP untuk berbuat sesuka mereka asalkan bisa menangkap imigran gelap.

”Tampaknya, Trump tetap merasa nyaman setelah menerbitkan aturan yang menargetkan para kriminal sekaligus kaum ibu,” tandas Vargas kepada Agence France-Presse kemarin (4/3). Pendiri DREAM Action Coalition itu menyebutkan, kebijakan sang presiden merupakan penyebab utama tercerai-berainya banyak keluarga. Karena itu, dia berusaha melawan kebijakan Trump tersebut.

Saat penangkapan masif bisa terjadi di sekolah, gereja, dan area pengadilan, hal yang lebih mengerikan terjadi di kota-kota suaka. Terutama di permukiman kumuh yang menjadi tempat tinggal para imigran gelap. ”Semua bermula dari ketukan di pintu sebelum fajar menyingsing,” ucap salah seorang penduduk lingkungan miskin tersebut yang minta disebut Jenny.

Ketukan yang membuyarkan aktivitas pagi buta para imigran gelap itu lantas diikuti dengan teriakan ”polisi.” Begitu mendengar bahwa ada polisi di balik pintu, penghuni rumah akan semburat kabur dari jendela atau pintu belakang. Mereka cari selamat. Lantas, para petugas ICE yang mengaku sebagai polisi tersebut masuk rumah secara paksa dan melakukan penggeledahan, bahkan penangkapan jika masih bisa.

Selain mereka yang kabur, ada yang bergegas membukakan pintu saat mendengar kata polisi. Sebab, mereka mengira polisi di depan rumah itu bakal memberitahukan informasi yang penting. Misalnya, kebakaran atau kerabat meninggal dunia. ”Menurut mereka yang memilih membukakan pintu, kejadian selanjutnya adalah mimpi buruk yang terus menghantui hidup mereka,” tutur Jenny.

Petugas ICE langsung menangkap siapapun yang dijumpai di balik pintu. Setelah itu, mereka masuk ke dalam dan menggeledah rumah. Jika ada penghuni lain, mereka langsung melakukan penangkapan. ”Petugas menangkap semua penghuni rumah meskipun sebenarnya mereka bukan target,” terangnya. Selanjutnya, mereka yang tertangkap segera menjalani proses deportasi.

”Pemerintahan Trump membuat kami seperti sedang naik roller coaster. Tidak ada kepastian,” tegasnya. Selain itu, Trump membuat para petugas ICE tak seramah dulu. Tidak lagi ada komunikasi. Petugas langsung menangkap yang ada di depan mata, tanpa basa-basi. Sebisanya, mereka mengupayakan agar imigran tersebut dideportasi. Semua demi America First. Semua demi Trump. (AFP/aljazeera/hep/c16/any)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar