Kamis, 15 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Anak Pasien 97 Tolak Hasil Swab Test, Simak Berita dan Videonya

Oleh Berita Hargo , dalam Indonesia 99 Kata Kab. Gorontalo , pada Rabu, 3 Juni 2020 | 00:20 WITA Tag: , , , , ,
  Anak Pasien 97, Alfian Lateka menjelaskan alasan menolak hasil swab test. (foto : tangkap layar video)


Hargo.co.id, GORONTALO – Keluarga pasien 97 asal Kabupaten Gorontalo tidak percaya dengan hasil swab test. Rasa tidak percaya ini disampaikan Alfian Lateka anak pertama dari pasien berjenis kelamin perempuan itu ketika diwawancarai hargo.co.id melalui sambungan telepon seluler, Selasa (02/06/2020) malam.

“Sebelum meninggal, ibu saya diambil darahnya untuk dilakukan rapid test oleh Tenaga Kesehatan (Nakes) di Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS). Hasilnya negatif. Sampai mereka tulis di papan, ibu Ani Usman negatif. Terus ibu saya juga tidak pernah kontak dengan pasien positif Covid-19. Begitu juga dengan kami keluarganya. Makanya saya tidak menerima jika ibu saya dinyatakan positif Covid-19,” tegas Alfian.

Alasan lain Alfian Lateka tidak percaya dengan hasil swab adalah pernyataan salah seorang Nakes di RSAS bahwa jika virus Corona  tidak hidup pada orang yang telah meninggal dunia.

“Ada seorang dokter yang mengatakan pada saya saat berada di RSAS bahwa virus Corona tidak akan hidup pada orang yang sudah mati (meninggal dunia). Nah, sampel ibu saya diambil setelah 4 jam menghembuskan nafas terakhir,” beber Alfian Lateka.

Dirinya lantas menceritakan, almarhumah ibunya mengalami kesulitan bernafas. Oleh keluarga, pasien 97 itu dilarikan ke RS Bunda. Namun, karena kurangnya fasilitas medis. Ibunya kemudian dirujuk ke RSAS. Setibanya di rumah sakit rujukan pasien Covid-19 itu, almarhumah belum mendapat penanganan.

BACA  Pemkab Gorontalo Siap Selenggarakan Belajar Tatap Muka

“Satu jam kemudian mama saya baru dapat pelayanan. Mereka memakaikan gelang bukan atas nama ibu saya. Di gelang itu bertuliskan Yasni Usman. Padahal, saat tiba saya sudah memberikan KTP ibu saya kepada mereka. Singkat cerita, ibu saya kemudian dipasang oksigen dan mulai membaik. Namun, nafasnya tidak stabil. Dua jam kemudian mereka sarankan Ibu saya dirawat di ruang intensif. Mereka tidak bilang ruang isolasi,” jelasnya.

Lanjut katanya, setelah beberapa jam mendapat perawatan, Alfian Lateka mengaku jika kondisi ibunya semakin membaik.

“Kemudian saya disuruh menandatangani surat tentang ruang perawatan ibu saya. Menurut mereka, ibu saya akan dirawat di ruang yang steril. Tak lama kemudian, tiba-tiba muncul pernyataan bahwa kami tidak bisa menemani ibu kami di ruang tersebut karena ruang itu steril,” tambahnya.

Alfian Lateka mengakui jika dirinya diminta untuk mempercayakan agar ibunya dirawat oleh mereka. Selanjutnya, keluarga hanya bisa pantau dari monitor CCTV. Alfian lantas ke RS Bunda untuk menyelesaikan administrasi. Tiba-tiba adiknya menghubungi agar datang menandatangani pemasangan alat untuk membantu pernafasan.

“Awalnya kami menolak. Sebab saya berfikir mengapa hal itu tidak dilakukan beberapa jam yang lalu. Saya pun mengiyakan, karena saya berfikir demi keselamatan ibu. Selang beberapa jam kemudian, saya menerima kabar ibu saya meninggal dunia. Saya pun protes ke mereka mengapa tidak memberitahu kepada keluarga, biar kami bisa mendampingi ibu saat sakratul maut. Alasan mereka kalau ingin mendampingi harus menggunakan jas hujan. Di situ saya emosi. Sebab saya merasa aneh, harusnya mereka beritahu hal itu sebelum ibu saya meninggal biar kami sudah sediakan,” keluh Alfian.

BACA  Kunci Liburan di Gorontalo, Ria Ricis Kunjungi Objek Wisata Hiu Paus 

Emosi Alfian makin memuncak ketika dirinya tidak diizinkan pihak RS Aloei Saboe membawa pulang jenazah ibunya. Sebab akan dikebumikan sesuai protokol Covid. Bahkan, kata Alfian, jika pihak keluarga memaksa membawa pulang jenazah, maka harus diambil sampel terlebih dahulu.

“Jenazah ibu saya ditahan dan akan dikebumikan sesuai protokol Covid. Kami menolak. Terus dia mengatakan, kalau menolak, air liur ibu saya akan diambil untuk dilakukan swab test. Mendengar hal itu, saya semakin marah. Apa alasannya mengambil air liur orang yang sudah mati. Karena dokter bilang tadi, ini Corona tidak hidup pada orang mati. Kalaupun mau ambil, harus ada keluarga yang menyaksikan. Tetap petugas masuk sendiri keluar sendiri dari ruangan ibu saya. Jadi saya bantah saat itu, ini bukan hasil tes nanti,” ungkap Alfian.

BACA  Nelson-Hendra Temui Keluarga Alm. Haji Amang di Limboto

Rasa tidak percaya Alfian makin bertambah ketika mendengar data inisial nama ibunya AIU.

“Sudah tidak beres ini. Di rumah sakit nama ibu saya jadi Yasni Usman. Sekarang jadi Ani I. Usman,” tandas Alfian.

Lebih jauh Alfian mengungkapkan, terkait hal ini, dirinya bersama keluarga diundang oleh pemerintah desa setempat untuk menjelaskan persoalan ini. Namun, kata Alfian, dari penjelasan para pemangku kebijakan dari desa hingga tingkat kecamatan bahkan dari seorang dokter hanya soal protokol Covid.

“Saya kurang puas dengan penjelasan mereka. Sebab yang mereka utarakan hanya tentang protokol Covid. Saya pun langsung bertanya pada salah satu dokter yang hadir tentang apa yang saya dengar dari dokter di rumah sakit. Dan dokter itu menjawab benar, Corona tidak akan hidup pada orang yang sudah mati. Mendengar hal itu, pak camat tiba-tiba ke luar dari ruangan pertemuan dan sudah tidak kembali lagi hingga akhir pertemuan. Akhirnya, tadi saya minta Kades untuk membantu dalam hal ini. Saya juga berharap media mendampingi saya untuk mengusut hal ini. Jujur sampai sekarang saya tidak menerima ini,” pungkas Alfian. (rwf/hg)


Video


Komentar