Kamis, 8 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Angkot Trayek Batudaa-Kota Keluhkan Pendapatan Minim

Oleh Berita Hargo , dalam Metropolis , pada Jumat, 22 Desember 2017 | 13:05 Tag: ,
  

Hargo.co.id Gorontalo – Para supir angkutan kota (angkot) trayek Batudaa-Kota yang mangkal di terminal jalan Raja Eyato, Kelurahan Limba B, Kecamatan Kota Selatan, mengeluhkan kurangnya pendapatan mereka beberapa tahun belakangan ini. Pasalnya, penumpang potensial mereka sudah “direbut” oleh bentor.

Keberadaan angkot di lokasi terminal tersebut sudah lebih dari 10 tahun lamanya. Tarifnya pun disesuaikan dengan lokasi yang dituju. Untuk rute Bongomeme dikenakan tarif Rp 10.000 per penumpang, Tabongo Rp 8.000 per penumpang dan Batudaa Rp 6.000 per penumpang. Namun sekarang, kejayaan angkot ini seakan direbut dengan menjamurnya produksi bentor di Gorontalo.

Salah seorang supir angkot, Firman Idrak (29), mengakui jika berkurangnya pendapatan mereka sudah berlangsung sejak beberapa tahun belakangan ini. Mereka para supir angkot tak pernah bisa lagi terisi penuh oleh para penumpang. “Kalau beruntung, satu hari bisa dapat Rp 200 Ribu.

Sekarang rata-rata tinggal Rp 100 Ribu pendapatan sehari. Itu belum dipotong beli bensin Rp 70 Ribu. Jadi kalau dihitung-hitung kurang,” jelas Firman.

Para supir angkot mengklaim jika berkurangnya pendapatan mereka akibat banyaknya bentor saat ini, terutama yang melayani antar penumpang hingga ke wilayah Bongomeme, Batudaa dan Tabongo, “Mereka juga antar penumpang di emperan pertokoan. Kita juga tidak bisa masuk disana,” kata Firman.

Para supir angkot trayek Batudaa-Kota ini pun bisa diperhatikan oleh pemerintah, “Selama ini kami sebagai supir angkot selalu patuh dengan prosedur kebijakan dari pemerintah untuk bisa beroperasi,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kota Gorontalo, Iskandar Moerad mengatakan, sejatinya lokasi mangkal angkot di jalan Raja Eyato tersebut bukanlah sebuah terminal, melainkan hanya tempat persinggahan para supir angkot yang menuju Batudaa, Tabongo dan Bongomeme. “Seharusnya mereka berada di terminal kompleks pasar Sentral,” terang Iskandar.

Terkait keluhan kurangnya penumpang, Iskandar mengakui hal itu sudah lumrah terjadi karena penumpang tidak ingin berlama-lama menunggu calon penumpang lain. Apalagi jika kendaraan bentor mengantar sampai ke depan rumah meski berada di dalam lorong.

Akan tetapi, kata Iskandar, yang harus diketahui masyarakat bahwa ketika terjadi kecelakaan saat naik angkot maka para penumpang sudah dijaminkan dengan asuransi, tapi tidak untuk bentor. “Naik bentor jika terjadi kecelakaan tidak mendapatan asuransi, semuanya dikembalikan kepada pilihan masing-masing masyarakat itu sendiri,” tandas Iskandar.(tr-59)

(Visited 9 times, 1 visits today)

Komentar