Sabtu, 24 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Antraks Kembali Mewabah, Sembilan Warga Kabgor Positif Setelah Konsumsi Daging Sapi

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Post , pada Selasa, 13 Juni 2017 | 12:16 WITA Tag: , , , , ,
  


PULUBALA Hargo.co.id – Wabah antraks kembali menyerang sejumlah warga di Kabupaten Gorontalo. Penyakit yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis itu kembali ditemukan. Sembilan warga di Desa Batulayar, Kecamatan Bongomeme dan Desa Bakti Kecamatan Pulubala, dinyatakan positif antraks. Mereka diduga terinveksi antraks setelah mengkonsumsi daging sapi yang disembeli warga sekira dua pekan lalu. Sapi tersebut dalam keadaan sakit dan dipotong paksa sebelum mati. Sebelumnya, pada April 2016 lalu, antraks meresahkan masyarakat Gorontalo. Puluhan ternak sapi dan sejumlah warga terinveksi antraks. Penyebaran antraks saat itu tak hanya di wilayah Kabupaten Gorontalo, namun menyebar hingga Kabupaten Bone Bolango.

Informasi yang dihimpun Gorontalo Post (grup hargo.co.id), Senin (12/6) wabah antraks yang ditemukan di Kabupaten Gorontalo itu diketahui setelah sembilan warga masing-masing, Amrin Hamjati, Rabiah Latif, Maryam Latif, Wani Ontalu, Ira, Cani, Armin Mantali, Piini, dan Ateni mengalami kelainan dalam kulit dan badan mereka. Anggota tubuh mereka seperti tangan mengalami pembengkakan dan terdapat sejumlah luka, yang semakin hari makin menjalar.

Amrin Hamjati (56), warga Desa Bakti yang terindikasi mengidap penyakit antraks ini merupakan salah satu yang kondisinya paling parah. Gejala kelainan pada tubuhnya ia rasakan setelah keesokan hari usai mengkonsumsi daging sapi yang mereka sembelih. “Pas depe besok abis makan itu daging, tangan langsung bangka deng luka, makin hari makin ba jalan depe bangka – Besoknya setelah habis makan daging, tangan langsung bengkak dan luka, semakin hari bengkaknya semakin jalan,”kata Amrin sambil memperlihatkan tanganya yang bengkak dan luka saat ditemui Gorontalo Post, kemarin. Karena makin hari makin bengkak, ia kemudian memeriksakan ke Puskesmas. “Mereka (Puskesmas) bilang saya positif antraks,”ujarnya.

BACA  Masker Bekas Jangan Dibuang Disembarang Tempat

Kepala Desa Bakti, Kamarudin Mobilihu membenarkan warganya yang terinfeksi antraks. “Saat ini yang terdata sudah 9 warga dan sebagiannya merupakan warga dari Desa Batulayar yang terindikasi telah terserang antraks,”kata Kamarudin. Ia mengatakan, para warga itu mengkonsumsi daging sapi dari ternak sapi yang sedang sakit. “Sapi itu sakit, dan mereka potong (sembeli,red),”ujarnya. Terpisah, Kepala Seksi Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gorontalo, Asrieana Dunggio, saat dikonfirmasi membenarkan wabah antraks yang telah menyerang manusia itu.

BACA  Lewat HUT ke 75 TNI, Ini Pesan Korem 133/NWB Tentang Covid-19

Pihaknya juga telah meninjau langsung para warga dan lokasi tempat penyembelihan sapi yang diduga menyebabkan antraks. “Setelah kami turun ke lapangan, ternyata penyakit yang diakibatkan oleh bakteri Antraks berasal dari hewan sapi ini, sudah menyerang manusia. Ini setelah kita lihat dari kondisi kulit mereka yang menandakan ciri-cirinya, dan berdasarkan hasil pemeriksaan Puskesmas setempat mereka dinyatakan positif terserang antraks,” kata Asrieana.

Asriena menambahkan, sejumlah hewan sapi yang berada di sekitar Batulayar dan Bakti itu telah dilakukan vaksinasi untuk mencegah menyebarnya penyakit yang tergolong berbahaya tersebut. “Kami kembali menghimbau kepada masyarakat untuk jangan menyembelih sapi yang sudah dalam keadaan sakit. Dan jika mengetahui ada hewan sapi yang kondisinya sudah lemas dan sakit segera laporkan pada kami agar segera bisa ditangani dengan memberi antiobiotik,” tambahnya.

Hal yang sama disampaikan kepela bidang Peternakan Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo Agustina Kilapong. Kepada Gorontalo Post (grup hargo.co.id), Agustina mengatakan jika wabah antraks yang menyerang manusia itu disebabkan karena sapi sakit yang mereka sembeli laku dikonsumsi. “Yang parah adalah dia yang memotong (sembelih), karena pasti kena darah sapi. Itu bahaya. Jangankan untuk dikonsumsi, disentuh saja, jangan,”kata Agustina.

BACA  Wartawan Sepakat Boikot Rilis dari Polda Gorontalo

Memang kata Agustina Kilapong, daging dari sapi yang terinfeksi antraks bisa dikonsumsi, namun itu tidak disarankan. “Kalau cara masaknya benar, dimasak mendidih 100 derajat, itu bisa. Tapi tetap tidak disarankan. Saya curiga mereka yang kena ini, selain bersentuhan langsung dengan daging juga karena masaknya tidak benar. Bikin sate itu hanya setengah matang, itu pasti kena,”jelas Agustina.

Pihaknya bersama instansi terkait langsung bergerak, seperti melakukan vaksinasi terhadap ternak sapi lainya di kawasan itu. “Ini butuh kesadaran masyarakat. Sapi sakit itu jangan dipotong, laporkan dan segera kami beri tindakan. Kita selama ini terus memberikan sosialisasi,”ujarnya. Langkah lain yang ditempuh adalah memperketat jalur masuk sapi ke Gorontalo.

Semua ternak sapi harus mengantongi rekomendasi pemasukan, mengantongi surat keterangan kesehatan hewan (SKKH), uji laboratorium, uji rose bengal test (RBT), uji complement fixation test (CFT) brucellosis, morpologi antraks dan berita acara faksinasi antraks. “Satu saja tidak ada, ternak tidak bisa masuk Gorontalo,”tegasnya. (tr-55/hargo)


Komentar