Kamis, 2 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Artefak Budaya Dilindungi, Payung Hukum Sementara Digodok 

Oleh Admin Hargo , dalam Legislatif , pada Selasa, 16 November 2021 | 06:05 AM Tag: , , ,
  Anggota DPRD Kabupaten Gorontalo, Hendra Abdul

Hargo.co.id, GORONTALO – Salah satu cara agar bangunan lama yang mempunyai nilai sejarah tak punah maka perlu ada payung hukum. Apalagi bangunan lama tersebut menjadi salah satu identitas daerah yang berada di ambang kepunahan. 

Saat ini, DPRD Kabupaten Gorontalo telah menggodok Ranperda guna memberi perlindungan secara hukum terhadap bangunan yang dimaksud. Ranperda tersebut tentang Pelindungan, Pengelolaan dan Pengembangan Artefak Budaya di Kabupaten Gorontalo, yang kini telah dibahas oleh Pansus, Senin (15/11/2021)

Menurut Ketua Pansus, Hendra R Abdul, Ranperda Artefak dibentuk sebagai upaya menyelamatkan warisan peradaban bangsa di Kabupaten Gorontalo yang juga dikenal sejak dulu sebagai daerah lingkaran adat. Untuk merealisasikan hal itu dibutuhkan sebuah payung hukum yang secara khusus memberi perhatian, pengaturan, dan dukungan maksimal yang bisa menjamin terselenggaranya perlindungan, pengelolaan, pengembangan artefak budaya. 

“Berdasarkan pertimbangan ini perlu untuk membentuk Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan, Pengelolaan, dan Pengembangan Artefak Budaya di Kabupaten Gorontalo,” ungkap Hendra Abdul.

Pansus dan OPD terkait saat membahas Ranperda tentang Perlindungan, Pengelolaan dan Pengembangan Artefak Budaya, Senin (15/11/2021). (Foto: Istimewa)
Pansus dan OPD terkait saat membahas Ranperda tentang Perlindungan, Pengelolaan dan Pengembangan Artefak Budaya, Senin (15/11/2021). (Foto: Istimewa)

Politisi PPP itu menjelaskan, artefak budaya merupakan warisan tak ternilai dari rangkaian panjang peradaban bangsa di wilayah Kabupaten Gorontalo. Artefak budaya adalah bukti otentik tentang daya cipta suatu bangsa dan bagaimana keluasan interaksinya dengan bangsa-bangsa lain yang sama-sama memiliki peradaban melalui proses sejarah yang kompleks. 

“Zaman yang terus berubah, pergantian musim, bencana alam, dan perubahan generasi serta pergeseran praktik-praktik hidup, orientasi sosial ekonomi, dan pemanfaatan teknologi baru di masyarakat adalah faktor-faktor utama yang memberi pengaruh serius terhadap keberadaan fisik bagi setiap artefak budaya,” jelas Hendra Abdul.

Dengan demikian, sulit untuk dipungkiri bahwa fakta-fakta keaslian, kepemilikan, perpindahan, peletakan, kerusakan, perubahan persepsi dan pemanfaatan artefak-artefak budaya pun mengalami perubahan dengan tantangan yang semakin kompleks.  

“Artefak budaya memiliki nilai sejarah dan karakter lokalnya masing-masing yang unik dan bersifat kompleks sehingga membutuhkan jaminan-jaminan perlindungan, pengelolaan sampai pengembangan berdasarkan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan untuk menjamin keaslian dan keberlanjutannya,” tutur Hendra. 

Untuk mewujudkan partisipatif dan edukatif masyarakat atas artefak budaya, menurut Hendra baru bisa terselenggara maksimal apabila terdapat norma hukum dan pengaturan-pengaturan yang mengikat. 

“Target kami artefak budaya yang ada di daerah terus terjaga. Ranperda ini akan menjawab setiap hak dan kewajiban bagi unsur-unsur pemerintahan, masyarakat, dan pemangku kepentingan (stakeholders) secara jelas dan terbuka,” kuncinya. (***)

 

Penulis: Deice Pomalingo

(Visited 23 times, 1 visits today)

Komentar