Kamis, 21 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



ASITA Yakin Menpar Arief Yahya Mampu Membawa Pariwisata Indonesia Take Off

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Nusantara , pada Senin, 10 April 2017 | 16:45 PM Tag: , , ,
  

Hargo.co.id JAKARTA – Naiknya peringkat daya saing pariwisata Indonesia dari ranking 50 ke 42 dunia ikut dikomentari Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA).
Lewat Ketua Umumnya, ASITA meyakini, strategi dan kebijakan Kementerian Pariwisata yang dinakhodai Arief Yahya sudah berada di track yang benar. Goal-nya akan berujung pada kebangkitan sektor pariwisata Indonesia.
“Ini pertanda akan bangkitnya pariwisata Indonesia. Ini patut disyukuri dan harus dijaga oleh semua elemen Pentahelix, ABCGM (Academician, Business, Community, Government, Media-red). Saya salut dengan komitmen Presiden Jokowi dan Pak Menpar Arief Yahya.
Kalau pemimpin negara seperti ini, saya yakin Pariwisata Indonesia akan maju bersama masyarakatnya,” ujar Ketua Umum ASITA Asnawi Bahar, Minggu (9/4).
Pengusaha kelahiran Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara, 3 April 1961 yang sudah lama malang melintang di bisnis pariwisata ini meyakini, kebijakan Pemerintah menggenjot sektor pariwisata secara masif dan komprehensif yang dilakukan saat ini menjadi awal kebangkitan sektor pariwisata Indonesia.
Sejak awal, Menpar Arief Yahya sudah memperlihatkan kinerja yang impresif. Strategi pariwisata dengan membangun landasan branding yang kokoh sudah membuahkan rangking branding yang melompat melampaui Thailand dan Malaysia.
Country Branding Wonderful Indonesia melesat lebih dari 100 peringkat menjadi ranking 47, mengalahkan Truly Asia Malaysia di ranking 96 dan Amazing Thailand di ranking 83.
“Dan setelah itu, Menpar langsung mengkalibrasi 14 pilar yang menjadi kriteria dan menentukan peringkat dunia tersebut. Yang minus langsung diperbaiki dengan standar internasional. Langsung diimplementasikan,” katanya.
Setelah sukses mengangkat rangking branding Wonderful Indonesia, Menpar Arief Yahya memang makin kencang berlari mengejar ketertinggalan pariwisata Indonesia. Sebanyak 14 pilar yang dinilai masih lemah langsung diperbaiki.
Komplain di sosial media dalam pelayanan wisatawan masuk via imigrasi misalnya Persoalan yang kerap dikeluhkan wisman Tiongkok dan Timur Tengah langsung dicari solusinya.
Hasilnya? Lahirlah MoU dengan Kemenkumham dan Dirjen Imigrasi. Bersama Kementerian Pariwisata, dua instansi tadi berkomitmen untuk mengawal persoalan ini secara bersama-sama.
Ini sangat cerdas. Petugas imigrasi itu adalah first impression-nya wisatawan mancanegara. Para petugas itu adalah Public Relation Negara, dalam melayani wisman. Melayani costumers dengan cara yang baik, akan menciptakan kesan baik pula,” ujar Asnawi.
Bidang kesehatan dan kebersihan juga ikut disorot. Ikut diperbaiki. “Kesehatan dan kebersihan sangat penting.
Kalau kita tidak melakukan itu, maka kita tidak akan bisa bersaing. Yang saya tahu, Menpar Arief Yahya selalu ingin mengetahui posisi kita ada dimana? Harus berbuat apa? Kapan dan darimana?”  katanya.
(Visited 1 times, 1 visits today)

Laman: 1 2


Komentar