Minggu, 23 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Atasi Banjir, Warga Dulupi Buat Tanggul Darurat Swadaya

Oleh Admin Hargo , dalam Kab. Boalemo , pada Sabtu, 4 Desember 2021 | 00:05 AM Tag: , ,
  Camat Dulupi, Ramly Masi bersama sejumlah warga, gotong-royong mengangkat material untuk pembuatan tanggul darurat. (Foto : Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Tak ingin dilanda banjir terus-menerus, warga Desa Dulupi, Kecamatan Dulupi, Boalemo, akhirnya bergotong-royong membuat tanggul darurat, di area bantaran sungai Dusun Satu, Dulupi, Kamis, (02/12/2021).

Herman Djibu, salah seorang warga setempat mengemukakan, Bakti Sosial (Baksos) tersebut, merupakan inisiatif Pemerintah Kecamatan Dulupi. Selain warga, turut terlibat pada pelaksanaan Baksos tersebut, pemerintah Desa Dulupi.

“Alhamdulillah, kurang lebih 100 karung berisi pasir dari hasil swadaya masyarakat berhasil kami susun, untuk mengatasi banjir,” kata Herman Djibu, kepada Hargo.co.id, Jumat malam, (03/12/2021).

Herman Djibu berujar, kerap kali Dusun satu tersebut, menjadi langganan banjir Bilamana musim penghujan datang. Jika hujan mengguyur terlalu lama katanya, bisa dipastikan air di sungai ini pun, ikut meluap. Akibatnya, sejumlah pemukiman rumah warga Dulupi, akan terendam.

Solusinya menurut Herman Djibu, adalah normalisasi sungai. Adapun terkait aspirasi masyarakat ini lanjutnya, telah disampaikan ke Camat Dulupi. Dan telah mendapat respon yang cukup baik.

Tepi sungai yang akan dibuatkan tanggul mengingat setiap musim hujan air selalu meluap lewat bekas jalan gerobak tersebut. (Foto: Istimewa)
Tepi sungai yang akan dibuatkan tanggul mengingat setiap musim hujan air selalu meluap lewat bekas jalan gerobak tersebut. (Foto: Istimewa)

“Menurut pak Camat, nanti beliau akan cek lagi ke Kantor Balai Sungai di provinsi tentang normalisasi sungai itu,” katanya sembari menambahkan, bahwa Sungai Dulupi saat ini mengalami pendangkalan, akibat bukit-bukit yang mulai gundul.

Sementara itu, Camat Dulupi, Ramly Masi, ketika dikonfirmasi Hargo.co.id, pada Jumat malam, (03/12/2021), menuturkan, banjir terakhir yang melanda Desa Dulupi, menggenangi sedikitnya sekitar 30 rumah warga yang ada di Dusun satu, dan di Dusun Malahu. Ketinggian air katanya, mulai dari 15 hingga 30 centimeter.

Bukan hanya rumah warga. Dikatakan Ramly Masi, bahkan Rumah Dinas Jabatan (Rujab) Camat saja, turut digenangi air, saat banjir terakhir yang melanda pada Ahad, (28/11/2021) malam.

“Sumber air berasal dari sungai, saya dapati di sana ada jalan lama bekas akses gerobak. Jalur ini yang sering jadi jalan masuk air ketika meluap. Karena itu saya berinisiatif, saya surati Kepala Desa, untuk bagaimana memikirkan dan mencari solusi bersama-sama,”tutur Ramly Masi.

Tak menunggu waktu lama, lanjutnya, akhirnya inisiatif untuk mengadakan karung yang berisi material untuk pembuatan tanggul darurat, disepakati bersama. Baik oleh Pemerintah Desa Dulupi, dan para warga itu sendiri.

“Tadinya saya berpikir, akan membeli sekitar 100 karung bekas dulu. Tapi Alhamdulillah, sudah ada warga yang berpartisipasi mengadakan itu. Dan yang tidak saya bayangkan, ternyata antusias warga begitu luar biasa. Pada saat pembuatan tanggul darurat, tiba-tiba saja warga banyak yang datang. Sehingga hanya sekitar 2 Jam dikerjakan,”ujarnya.

Lebih lanjut mantan Sekretaris Dikpora Boalemo itu berkata, saat ini perlu adanya dilakukan pembangunan bronjong, maupun tanggul sungai Dulupi, guna penanganan banjir secara maksimal. 

“Saya mengharapkan harus ada tanggul disitu, kemudian, kita harus menormalkan saluran-saluran. Saya yakin kalau saluran-saluran yang ada saat ini normal, pasti banjirnya dapat teratasi. Namun, semoga tanggul darurat yang dibuat bersama masyarakat ini, setidaknya dapat mengatasi air masuk. Walaupun masuk, minimal tak sebesar kemarin,” harapnya.

Terkait bukit-bukit yang gundul sambung Camat, memang pada prinsipnya salah satu yang menjadi penyebabnya, adalah hal tersebut. Namun, disisi lain yang menjadi pertimbangan. Yakni masyarakat petani yang memanfaatkan hal itu.

“Sehingga itu, sasaran saya tak lain hanyalah saluran dan tanggul. Itu penting menurut saya. Untuk gunung-gunung yang gundul, pasti kan kita punya masyarakat petani disitu,” kuncinya.  (***)

 

Penulis : Abdul Majid Rahman

(Visited 122 times, 1 visits today)

Komentar