Kamis, 22 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Avatar, Tiktok, dan Selera Purba Kita

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Kamis, 3 September 2020 | 16:05 WITA Tag: , , ,
  Endi Biaro


Oleh: Endi Biaro

Gandrung aplikasi avatar (sketsa foto animasi), yang meruyak di kalangan pengguna Medsos, sebenarnya hanya membuktikan tentang kelelahan akal budi, yang kemudian dimenangkan akal bulus!

Lebih lanjut, kecanduan menampilkan foto atau video pamer diri dalam rupa-rupa aplikasi, juga adalah pertemuan dua titik yang mestinya saling kontrol, tapi kini malah berkoalisi.

Dua titik temu itu adalah: kecanggihan teknologi dan selera purba manusia.

Jika masih sulit dinalar, maka ada petunjuk mudah.

Manusia Indonesia secara laten memang berideologi narsis, mistis, dan sekaligus melankolis. Segala hal ingin dipamerkan. Semua sisi ingin dipublikasi. Rupa-rupa perkara ingin dibuka.

Maka yang laku adalah kosmetik, hiasan, atribut, dan segala fasilitas unjuk diri.

Kemudian yang populer adalah apapun yang yang memantik decak kagum.

Serta yang disukai adalah semua unsur dramatis dan hiperbolis.

Semua kultur itu yang mengemuka. Sayangnya, tak diimbangi dengan olah akal budi yang mendalam.

Jadinya yang menonjol adalah pesta, perayaan, upacara, dan tontonan.

Budaya umum kita terjejali narasi pertunjukan. Yang mudah dinikmati, enak ditonton, dan tak perlu pemikiran mendalam.

Lalu kemudian hari ini, semua kegandrungan itu ditopang kecanggigan teknologi.

Lengkap sudah. Pelbagi aplikasi Medsos, menyulut selera purba manusia Indonesia. Yang ingin ditonton dan menonton. Ingin ramai dan meriah. Tapi modalnya hanya fisik dan sesuatu yang bersifat material.

Kemudahan mem-posting peragaan diri via Medsos, tidaklah diisi dengan karya, prestasi, gagasan, serta hasil pemikiran. Melainkan dengan wajah, dengan kosmetik, dengan kegenitan.

Dalam terma filsafat, semua ini disebut hedonisme dan narsisisme. Alias bersenang-senang dengan kegenitan.

Lantas apakah itu bahaya?

Tentu saja. Lantaran kegilaan bersenang-senang dan kegenitan ber-Medsos mengubur sejumlah prinsip kemuliaan hidup (virtue, nobelty).

Pertama, yang lebih dulu runtuh adalah keadaban diri, untuk bersikap rendah hati. Mempertontonkan segala hal “istimewa” yang ada dalam diri kita, memang diizinkan. Namun tentu tetap dengan kontrol diri. Aplikasi sejenis Tiktok, yang mempertontonkan semata kecantikan, tubuh, dan goyangan, adalah bukti hilangnya keadaban diri.

Kedua_, kecanduan unjuk wajah dan peragaan milik diri, menghilangkan asas toleransi terhadap pihak lain yang memiliki keterbatasan. Mereka yg beken karena semata cantik, tentu berpesta di Medsos karena kecantikannya, lalu dipuja-puja. Sebaliknya, yang muka pas-pasan, hanya bisa ikut-ikutan. Atau malah bersedih, karena tak bisa seperti mereka yang mempesona.

Ketiga ini yang paling berbahaya. Menyedot fokus dan perhatian manusia Indonesia, yang mestinya tekun mencari jalan ke luar atas segunung persoalan, malah asyik menghamburkan kegenitan.

Kalaupun tak seekstrim itu, dalam jangka panjang, ini akan mengubah pola pikir netizen. Mereka hanya mati-matian menghibur diri, mengumbar canda, dan mempertontonkan fisik di Medsos. Bergaya di Medsos lambat laun menjadi cita-cita, saling berlomba. Karena memang yang paling banyak dipuja (viral) bisa menjadi kaya raya (seperti Selebgram Cantik, atau Youtuber jelita).

Masalahnya, negeri ini sesungguhnya tak perlu semua itu. Anak-anak dan generasi muda mestinya tak mengandalkan pesona fisik semata. Mereka harus bergelut dengan sungguh-sungguh, mengasah karya, akal budi, dan intelektualitas.

Negeri ini masih butuh banyak ilmuan, pemikir, arsitek, dokter, fisikawan, saintis, dan berbagai profesi mulia yang mengandalkan akal budi.

Negeri ini sesunggunya sudah cukup diracuni para penghibur yang mengumbar nafsu hewani.

Nyatanya, kegenitan ber-Medsos membolak-balikan semua itu. Anak-anak dan generasi muda saat ini berlomba-lomba mengumbar nafsu dan selera rendahan. Inilah yang kemudian dipuja dan dijadikan idola. Sepertinya begitu. (*)

*) Penulis adalah pengamat komunikasi publik

Komentar