Jumat, 27 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Bagaimana Kalau Produk? Bolehkah Bergabung ITX?

Oleh Fajriansyach , dalam Kabar Nusantara , pada Jumat, 16 Desember 2016 | 11:27 WITA Tag: , ,
  


Hargo.co.id SURABAYA – Bagaimana kalau produk barang? Bukan jasa seperti yang diprogram Kemenpar? Bolehkah bergabung di ITX? Indonesia Travel Xchange, Digital Market Place yang diendors oleh Kemenpar? Pertanyaan itu juga mencuat di Forum Diskusi Go Digital be The Best, bersama industry pariwisata di Kantor Disbudpar Jawa Timur, Surabaya, 14 Desember 2016. “Tentu boleh, asal produk barang itu terkait dengan industri pariwisata,” jawab Claudia Ingkiriwang, Ketua Probis ITX.

Pertanyaan itu mewakili para UMKM yang bergerak dalam produksi madu dari Kediri, Jawa Timur. Lalu disusul oleh pertanyaan serupa, pada produsen roti brownis dari Malang. Juga perusahaan kopi atau kakao dari Blitar, dan produsen batik di Malang. Mereka bukan industri yang secara langsung menangani wisatawan, mancanegara dan nusantara. Tapi produknya untuk konsumsi para visitor. “Boleh! Itu semua masih terkait erat dengan sector pariwisata,” papar Claudia.

BACA  Ini Sosok Polwan Cantik yang Sempat Tersandera Kelompok Bersenjata

Orang berwisata, tidak hanya melihat keindahan alam (nature). Juga tidak hanya mencari pengalaman dari budaya (culture) dan manmade (event buatan orang). Tetapi juga melihat proses, mencari pengalaman yang tidak semua orang bisa menjalaninya. “Itu bisa menjadi atraksi pariwisata,” kata dia.

Produksi batik, kata Claudia, tentu tidak sama dengan garmen yang menjual dalam volume besar. Batik sangat dibutuhkan di Pariwisata, baik proses membuat sampai barang jadinya yang khas di setiap daerah punya desainnya. “Kalau garment, itu urusannya dengan mesin potong kain, itu lebih ke industri. Sama-sama tentang kain, tapi beda dengan batik, tenun, songket dan sebangsanya yang dibuat dengan kerajinan tradisional yang menarik wisatawan,” katanya. Itu yang bisa dibuat booking system dan payment systemnya.

BACA  Arab Saudi Kembali Tutup Akses Umrah untuk Jemaah Indonesia

Soal akurasi booking system, ada juga yang menanyakan. Banyak kasus, orang sudah booking, sudah membayar, tetapi saat customer dating, ternyata kamar sudah habis terjual dan terisi, tidak ada sisa lagi. Bagaimana kasus yang seperti ini? “Booking system menyiapkan mesinnya. Tetapi up date soal jumlah kamar terisi dan kosong itu ada di operator hotel atau resortnya.

Kalau jumlah yang kosong tidak diinput datanya oleh petugas administrasi perusahaan? Ya salah di perusahaan itu, bukan salah di mesin booking systemnya. Karena begitu penuh, kamar hotelnya, maka system secara otomatis sudah nge-lock,” jelas Claudia.

BACA  Jumlah WNI Terpapar Covid-19 Meningkat, Ini Kata Bamsoet

Nanti bagaimana ITX membantu mempromosikan anggotanya? ITX itu bukan front end, tetapi back end. Tidak kelihatan. ITX itu hanya platform yang memudahkan pelaku bisnis untuk memproleh akses di pasar dunia.

  1. ITX itu B to B, business to business, bukan masuk ke B to C. Yang memasarkan adalah masing-masing website industri, sebaiah front end. “Makin kreatif pelaku industry, makin kuat potensi diterima pasar,” papar dia yang menyebut sistem ITX ini sudah diuji coba selama 10 tahun ke Australia.

Laman: 1 2


Komentar