Kamis, 15 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Balada Kusir Bendi di Tengah ‘Gempuran’ Kendaraan Modern di Gorontalo

Oleh Berita Hargo , dalam Kota Gorontalo Ragam , pada Kamis, 25 Maret 2021 | 23:06 WITA Tag: ,
  Salah seorang kusir bendi yang mangkal di Jalan S. Parkan Kota Gorontalo. (Foto: Rita Setiawati/HARGO)


‘Pada Hari Minggu kuturut ayah ke kota

naik delman istimewa kududuk di muka

Kududuk di samping pak kusir yang sedang bekerja

mengendalikan kuda supaya baik jalanya…’

Hargo.co.id, GORONTALO – Mungkin lagu seperti di atas tak didengar lagi saat ini. Bukan karena anak-anak zaman sekarang gemar tik tok, atau masuk pada generasi nunduk. Namun karena objeknya (bendi) sudah jarang terlihat lagi.

Cerita tersingkirnya moda transportasi dengan menggunakan tenaga kuda itu, dapat dilihat di Gorontalo. Tempat mangkal kusir bendi untuk mencari penumpang, kini pelan-pelan mulai berkurang. Bahkan pada waktu-waktu tertentu, tak ditemukan bendi yang sedang mangkal. Misalnya di kawasan Karsa Utama, Kota Gorontalo.

BACA  Ngunduh Mantu, Proses Penjemputan Mempelai Wanita oleh Orang Tua Mempelai Pria

Akibat persaingan itu, membuat penghasilan dari para kusir bendipun menjadi berkurang. Bahkan banyak diantara mereka beralih ke profesi lain yang lebih menguntungkan, yang berdampak terhadap jumlah kendaraan bendi yang semakin menyusut.

Balada kusir bendi di tengah ‘gempuran’ kendaraan modern, dialami Yusuf, salah seorang kusir bendi di Kota Gorontalo. Ditemui saat mangkal di Jalan S. Parman, atau di depan Karsa Utama, Yusuf mengaku bendi yang aksis tinggal tiga. Mereka juga sering mangkal di Jalan HOS Cokrominoto atau di City Mall Gorontalo.

“Kalau pagi hanya ada 2 bendi yang mangkal. Tengah malam ada 3 bendi,” kata Yusuf sembari membetulkan posisi bendi yang sebagian sudah mengambil badan jalan.

BACA  Nelson Pomalingo Segera Evaluasi Aparat Desa di Kabupaten Gorontalo

Lanjut katanya, mekipun hanya sedikit bensi yang mangkal, bukan berarti

penghasilan mereka menjadi lebih banyak. Mengapa? “Itu tadi. Sudah banyak moda transportasi modern seperti bentor dan ojek. Itu lebih cepat tiba ditujuan dan praktis,” katanya.

Yusuf menambahkan, sebelum transportasi modern menggempur, seorang kusir bendi bisa mendapat uang Rp 100 ribu perhari. Tapi sekarang, penghasilannya tidak menentu. Kadang dalam satu hari tidak dapat penumpang sama sekali dan harus pulang tanpa membawa uang.

“Sekarang sudah susah. Terlebih ketika Covid-19 menyerang, penumpang turun. Pernah saya satu hari mangkal itu tidak dapat penumpang sama sekali,” ungkap lelaki 62 tahun tersebut.

BACA  37 Kepala Keluarga di Dusun Embung Terisolasi

Orang-orang lebih suka naik bentor daripada naik bendi karena ketika menggunakan bentor untuk bepergian. Perjalanan menjadi lebih cepat dan mudah daripada menggunakan bendi. Selain itu bendi zaman sekarang sulit ditemukan dan hanya mangkal di tempat tertentu saja berbeda dengan bentor yang bisa ditemukan dimana saja.

“Kalau naik bendi tidak bisa cepat. Beda kalau naik bentor, cepat sampai di tujuan dan bisa bawa barang agak banyak,” kata Mei salah satu penumpang yang baru turun dari bentor.

Selain itu, frekuensi bentor di Gorontalo semakin hari semakin meningkat. Hal itu menyebabkan bendi semakin tersingkir di kota Gorontalo. (rita/ung/hargo)


Komentar