Sabtu, 4 Juli 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Begini Tradisi Masyarakat Gorontalo Sambut Bulan Ramadhan

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Senin, 6 Juni 2016 | 12:54 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id Gorontalo – Sebagai salah satu dari 19 daerah adat di Indonesia. Provinsi Gorontalo menyimpan beragam tradisi saat awal Ramadan. Selain kuliner yang didominasi sajian lauk daging ayam dan sajian tiliaya, masyarakat Gorontalo juga memiliki tradisi khusus untuk menyambut Ramadan.
Di antaranya, tradisi Langgilo. Tradisi ini dilakukan dua atau sehari menjelang datangnya bulan Ramadan.

Saat itu Syaraa dan para istri membuat ramuan langgilo yang merupakan ramuan dedauan. Berupa Dungo (Daun) onumo, timbuale moonu, sungo alawahu,dungo ponda, humopoto, dungo limututu, dan dungo meme.
“Dedaunan itu direbus di periuk tanah lalu airnya digunakan untuk membilas kain cucian yang sebagai makna air bilas pakaian yang akan dipakai kain salat,” kata Anggota Dewan Adat Provinsi Gorontalo Yamin Husain.

BACA  Gubernur Tak Punya Akun FB, Karo Humas: Jika Ada, Itu Akun Palsu

Tradisi lainnya Bonggoiladu. Tradisi itu dilakukan dengan mencampurkan irisan dedauan ramuan langgilo dengan parutan kelapa. Bahan-bahan itu selanjutnya dimasukkan ke dalam tempayan besar. Selanjutnya dimasukkan bara api ke dalam campuran tersebut lalu ditutup rapat.

Langkah tersebut dilakukan berulang kali hingga campuran kelapa mengering. “Selanjutnya campuran kelapa yang sudah mengering digunakan untuk keramas,” ungkap Yamin Husain.

Kemudian ada pula tradisi monggoyode limu atau memotong jeruk purut. Tradisi ini umumnya dilaksanakan selasai salat tarawih. Pada saat itu jamaah akan mendatangi rumah Syara, Bila, Hatibi, Kasisi dan Saladaa untuk memohon memotong jeruk purut.

BACA  Pemprov Gorontalo Terima 10 Unit Wastafel Portable dari BUMN

Setelah dipotong (dibelah,red) jeruk tersebut direndam. Air rendaman jeruk selanjutnya digunakan untuk mandi pada hari pertama Ramadan sekaligus memanjatkan doa kepada Allah SWT agar diberi ksehatan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.

“Jeruk mengandung arti bahan yang cepat membaur dengan air (motombowata wolo taluhu), baunya harum,” kata Yamin Husain.
Menyambut datangnya Ramadan, masyarakat Gorontalo juga memiliki tradisi melihat bulan atau dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan istilah Motonggeyamo atau deloa lohulalo.

Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat dan pemuka/tokoh masyarakat dengan naik ke dataran tinggi untuk melihat penampakan bulan.

BACA  1.245 Petani Jagung di Pohuwato Terima Bantuan Benih, Rusli : Manfaatkan dengan Baik

Terakhir tradisi mongadi atau mengaji (tadarus,red). Tradisi ini dilaksanakan sekurang-kurangnya di setiap rumah disediakan dua buah Alquran. Alquran tersebut ditempatkan di atas meja mini sepanjang 2 meter dan lebar 60 centimeter serta tinggi 40 centimeter. Meja dialas kain putih dan taburi bunga raihan rampel.

“Keberadaannya itu menjadi petanda bahwa perlahan setiap malam akan ada datang orang mengaji yang didominasi oleh remaja putra putri setelah selesai salat tarawih di bawah pengawasan yang mampu. Tentu saat mongadi tak lupa sajian kue tradisional menghiasi seperti popolu onde, kalakala, nagasari, dokodoko, aliwadala, sanggala hungololoyo,” tutur Yamin Husain.(csr/hargo)


Komentar