Jumat, 16 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Beginilah Detik-detik Tenggelamnya Pompong Versi Korban Selamat

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Nusantara News , pada Senin, 22 Agustus 2016 | 14:18 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id TANJUNGPINANG – Korban selamat kapal pompong yang tenggelam saat menyeberang dari Tanjungpinang-Penyengat, Minggu pagi (21/8) hanya dua orang.

Keduanya adalah Resty Rindasari warga Kota Batam dan Said Umarullah, tekong warga Penyengat.

Seperti diberitakan batampos (Jawa Pos Group), hari ini (22/8), dalam kondisi trauma, Resty, 26, berusaha menceritakan peristiwa detik-detik pompong tenggelam yang menelan 10 korban tewas dan lima hilang itu.

BACA  Antrean Haji Capai Puluhan Tahun, Menag Tiadakan Dana Talangan

Berikut inti keterangan Resty kepada Basarnas:

1. Pompong berangkat pukul 08.30 WIB. Resty berada di Pelabuhan Penyengat untuk membeli tiket Kapal Pompong Menuju Pulau peyengat dengan kondisi Awan sudah mulai mendung.

2. Restyi menanyakan kepada Penjual tiket apakah perjalanan ke Penyengat aman atau tidak soalnya mendung.

3. Penjual tiket menjamin perjalanan ke penyengat aman walapun dalam keadaan mendung.

4. Pukul 09.00 WIB di depan pelabuhan SBP Antara Tanjungpinang dan Penyengat, tiba-tiba angin kencang disertai hujan lebat dan ombak kuat.5. Kemudian air laut mulai memasuki pompong dan para penumpang panik karena pompong semakin turun.
Pompong pun terbalik.

BACA  Mabes Polri Diserang OTK Bersenjata, Satu Orang Dilumpuhkan

6. Resty lalu melompat dan mencoba berenang meraih kapal yang terbalik sebagai tempat tumpuan agar tidak tenggelam.

7. Resty selamat bersama tekongnya, sementara 10 lainnya tewas dan lima masih hilang.

BACA  Kapolri Apresiasi Keberanian Sekuriti Hadang Pelaku Bom Bunuh Diri

Sementara itu, informasi dari masyarakat sekitar, pompong tidak layak laut mengingat kondisi cuaca buruk (angin barat) dan sebagian besar penumpang tidak pandai berenang sehingga banyak menimbulkan korban.

Pada saat terjadi Laka Laut sudah diketahui oleh banyak orang namun karena kondisi cuaca yang sangat buruk sehingga tidak ada yang berani untuk menolong karena berisiko. (nur/ray/jpnn/hargo)


Komentar