Rabu, 1 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ber-SNI, Jutaan Ton Limbah Slag Jadi Bahan Material

Oleh Aslan , dalam Ekonomi Headline , pada Selasa, 26 Desember 2017 | 20:14 PM Tag: ,
  

Hargo.co.id – Seiring dengan dikeluarkannya kebijakan terkait Standar Nasional Indonesia (SNI), perusahaan besi baja yang tergabung dalam The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) akan mengoptimalkan jutaan ton limbah slag menjadi bahan material lapis fondasi dan lapis fondasi bawah.

Wakil Ketua IISIA Ismail Mandry mengungkapkan, slag atau kumpulan oksida selama ini masuk dalam kategori limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3). “Memang selama ini slag menjadi masalah karena dianggap sebagai limbah B3. Nah, kalau setiap tahun menghasilkan slag, lalu mau diapakan slag ini kalau bukan dioptimalkan dengan mencarikan sebuah solusi, padahal potensi slag sendiri sangat besar,” kata Ismail di Surabaya, akhir pekan lalu.

Ismail memaparkan, di kawasan Cilegon Jawa Barat terdapat sejumlah perusahaan besi baja yang menghasilkan slag mencapai 1,4 juta ton per tahun. Sedangkan di Jawa Timur mampu menghasilkan slag hingga 600 ribu ton per tahun.

”Padahal, kalau di Korea dan Jepang, slag dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembangunan jalan raya,” jelasnya.

Dikatakan oleh Ismail, setelah pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkerja sama dengan asosiasi baja IISIA, terlebih dengan peran akademisi dalam melakukan penelitian pada beberapa tahun terakhir ini, slag kini diakui sudah memiliki SNI.

“Pencapaian ini kami harapkan dapat menggerakan industri besi baja di Indonesia. Peleburan baja sendiri terbanyak ada di wilayah Jatim, disusul Jakarta, Banten, lalu Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan,” imbuhnya.

Sementara itu, Amshor, selaku Kepala Sub Direktori Pengumpulan dan Pemanfaatan Limbah B3 Direktorat Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3, Dirjen Pengelolan Sampah, Limbah dan B3 KLHK menjelaskan, slag yang telah mendapatkan SNI, akan memberikan kesempatan industri baja untuk bisa memanfaatkan slag sebagai agregat.

”Namun demikian, untuk menggunakan limbah slag mejadi material, perusahaan harus mengajukan izin kepada KLHK,” kata Amshor.

Menurutnya, penggunaan slag sebagai agregat bahan pembangunan jalan setidaknya bisa menggantikan material awal seperti batu alam yang semakin lama habis karena ditambang.

”Hingga sekarang ada satu industri yang sudah mengajukan izin pengolahan slag yakni Krakatau Posco. Harapannya industri lain akan mengikuti,” kata dia.

Adapun SNI Slag ini baru dikeluarkan tahun ini dan sedang dalam sosialisasi kepada pengusaha baja, kontraktor maupun kepolisian. (mif/hen)

(sb/mif/jek/JPR/hg)

(Visited 8 times, 1 visits today)

Komentar