Selasa, 26 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Berburu Kuliner Maknyus di Jalur Mudik Jalan Surabaya–Solo

Oleh Aslan , dalam LifeStyle , pada Rabu, 28 Juni 2017 | 01:00 AM Tag: ,
  

Hargo.co.id – jalan Surabaya–Solo padat dengan pemudik. Namun, ada juga yang menyempatkan berburu kuliner.

ANWAR BAHAR BASALAMAH, Nganjuk

LOKASINYA sangat strategis. Berada di tepi Jalan Raya Surabaya–Solo, tepatnya di Desa Karangtengah, Kecamatan Bagor. Dari perempatan Guyangan, jaraknya hanya sekitar 5 kilometer ke arah barat. Setelah lapangan Desa Selorejo, ada sebuah warung di selatan jalan yang selalu ramai pembeli.

Warung Nasi Tiwul 786 begitu familier bagi pemudik atau penggemar kuliner di Kabupaten Nganjuk. Yang membedakan dengan warung lainnya adalah menu yang disajikan. Nasi tiwul (nasi dari ketela) menjadi andalan warung milik Suparti itu.

Lauknya juga tidak kalah khas. Salah satunya adalah iwak kali yang dimasak dengan bermacam-macam olahan. Ada yang digoreng, dibotok, disayur, dan dibakar. Untuk melengkapi makanan itu, Suparti menyediakan sambal mentah. Nasi, ikan, dan sambal adalah perpaduan yang pas.

’’Itu ciri khasnya,’’ kata Suparti kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Setiap hari warung yang berdiri sejak 2009 itu selalu ramai. Sepeda motor berjajar rapi diparkir di depan warung.

Bahkan, tidak jarang mobil pribadi terlihat menyesaki parkiran. Pelat nomornya tidak hanya AG, Nganjuk dan sekitarnya, tetapi juga banyak dari luar kota.

Sebelum buka di Desa Karangtengah, Bagor, Suparti dan suaminya pernah berjualan di Surabaya pada 2002. Namun, saat itu kurang sukses. Warungnya sepi.

Selanjutnya, pada 2008, mereka mencoba peruntungan dengan pindah ke Lampung. Di Pulau Sumatera itu, nasib mereka juga belum berubah. Akhirnya, mereka memutuskan pulang kampung dan membuka warung di Karangtengah.

’’Ternyata suksesnya di kampung sendiri,’’ kenangnya.

Saat Lebaran, jumlah pengunjung warungnya semakin banyak. Banyak pemudik yang melintas di Jalan Surabaya–Solo yang mampir ke warungnya. Apakah dia sengaja menambah menu selama Lebaran ini? Suparti menggeleng.

Jumlah menu yang dijual tetap sama seperti biasa. Selain nasi tiwul, warung itu menyediakan nasi putih dan jagung. Untuk lauknya, ada 14 macam. Di antaranya iwak kutuk, iwak wader, ayam goreng kampung, ayam bakar, aneka botok, tempe, tahu, urap-urap, trancam, dan sayur tempe gembos.

’’Yang paling disuka biasanya iwak kutuk,’’ beber perempuan 50 tahun itu.

Setiap hari Suparti memasak sekitar 10 kilogram nasi tiwul. Sementara itu, nasi putih dan jagung masing-masing 25 kilogram.

Saat mudik Lebaran seperti sekarang, perempuan asli Desa Karangtengah tersebut harus menambah jumlahnya. ’’Naik dua kali lipat,’’ katanya.

Nasi tiwul yang biasanya hanya 10 kilogram naik menjadi 20 kilogram. Kemudian, nasi putih dan nasi jagung masing-masing menjadi 50 kilogram. Sedangkan jumlah lauknya menyesuaikan.

Lonjakan pembeli, menurut Suprapti, terjadi sejak H-7 Lebaran. Sejak saat itu pula, Suparti harus menambah stok nasi dan lauknya. Dibantu 11 orang pekerja, dia memasak di dapur warung mulai pukul 05.00. Seluruh menu berikut nasinya harus siap pada pukul 07.00.

Bagaimana bisa menyiapkan belasan menu itu dalam waktu terbatas? Suparti mengaku tidak langsung memasak dalam jumlah banyak. Melainkan memasak secara bertahap.

Saat ada menu tertentu yang jumlahnya menipis, pembantunya akan memasak lagi. Karena itulah, aktivitas di dapur terus berjalan. Ada yang bertugas memasak nasi, menggoreng lauk, hingga membuat botok dan sambal.

’’Ada pembagian tugas. Jadi, tidak terlalu lama masaknya,’’ terang ibu tiga anak itu.

Karena pembeli terus berdatangan, Suparti dan pegawainya tidak punya waktu istirahat di dapur. Padahal,di luar Lebaran, mereka bisa santai saat ada waktu luang.

’’Selama mudik, buat duduk sebentar saja susah. Pembelinya banyak,’’ katanya, lantas tersenyum.

Para pembeli berasal dari berbagai daerah. Selain warga di sekitar Nganjuk, banyak pemudik dari luar Jawa yang singgah ke warungnya setiap kali pulang kampung. Mulai dari di Sumatera Utara, Jakarta, sampai Kalimantan.

Menu yang jadi jujukan mereka adalah nasi jagung dan tiwul. Sementara itu, lauk andalannya botok. ’’Botok iwak kali yang sering dicari. Karena mungkin di daerah lain jarang ditemukan,’’ terang istri Misdi itu. (*/ut/c19/diq/hg)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar