Rabu, 25 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Berharap Tak Ada Pemadaman Listrik, PLTG Harus Bisa Ready

Oleh Berita Hargo , dalam Features Gorontalo , pada Rabu, 11 Oktober 2017 | 19:51 Tag: ,
  

GORONTALO, hargo.co.id – Perhitungan di atas kertas, kemampuan listrik di Gorontalo terbilang cukup.

Selain Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Telaga yang usianya sudah uzur, Gorontalo memiliki sumber pembangkit lain. Yakni Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Molotabu (2 x 11 MW) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PTLG) Paguat (100 MW).

Dengan kondisi yang ada itu, tak salah bila banyak masyarakat mengganggap kondisi kelistrikan di Gorontalo seharusnya tak sering padam lagi. Apalagi dengan durasi mencapai lebih dari 6 jam atau setengah hari.

“Kita (Gorontalo) sudah punya PLTG dengan kapasitas 100 MW. Seharusnya begitu jaringan interkoneksi putus, PLTG bisa langsung Ready dan menyuplai listrik,” ungkap Amirullah, warga Kota Tengah, Kota Gorontalo.

Menurutnya, setiap kali pemadaman terjadi, maka informasi yang disampaikan adalah adanya gangguan pada interkoneksi. “Sementara kita punya pembangkit sendiri. Ada PLTU, PLTD serta PLTG,” tandasnya.

Hanya pandangan umum warga itu ternyata tak semudah dalam kenyataannya. Untuk menghidupkan PLTG ternyata masih membutuhkan pasokan listrik. Dan hal itu dilakukan melalui PLTD Telaga yang jaraknya mencapai ratusan kilometer.

Manajer PLN Area Gorontalo Nayusrizal menjelaskan, karena daya mampu PLTD hanya sebesar 7 Mega Watt (MW), maka PLN hanya fokus untuk menyuplai tenaga listrik ke PLTG Paguat yang memiliki daya mampu 100 MW.

“Jadi, PLTD sifatnya emergency saja. Pertama-tama, kita usahakan kirimkan tenaga dulu ke PLTG Paguat. Karena PLTG adalah pembangkit peaker, jadi tunggu tegangan dulu baru bisa suplai. Dan itu butuh waktu,” terang mantan Manager PLN Area Payakumbuh ini.

Menurut Nayusrizal, listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listik tidak serta merta langsung disalurkan kepada masyarakat. Listrik PLTD Telaga masih akan disuplai dulu ke GI Botupingge, setelah itu ke GI Isimu, ke GI Marisa kemudian ke PLTG Paguat. Begitu juga yang terjadi pada pembangkit di wilayah Sulut yang memiliki 20 GI.

“Jadi, listrik yang masuk ke gardu induk itu masih akan dinormalkan dulu, dikasih beban beberapa jaringan, kemudian dikirim ke gardu induk selanjutnya. Makanya saya katakan membutuhkan waktu,” terang Nayusrizal.

Namun demikian, pada intinya pihaknya tetap berkomitmen memberikan pelayanan yang terbaik. Khusus penyebab total black out listrik Sulutgo, pihaknya masih menyelidikinya.

“Kita tetap cari tahu agar kejadian ini tidak terulang lagi,” tambahnya. Olehnya, mewakili PT PLN (Persero), Nayusrizal kembali memohon maaf kepada masyarakat Gorontalo atas insiden yang tidak direncanakan ini.(axl/san/hargo)

 

(Visited 17 times, 1 visits today)

Komentar