Rabu, 17 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Berkas Kasus Pertambangan Ilegal di Pohuwato Masuk Tahap II

Oleh Admin Hargo , dalam HumKam , pada Sabtu, 16 Juli 2022 | 22:05 Tag: ,
  Anggota Ditreskrimsus saat menyerahkan DPO pertambangan ilegal beserta barang bukti ke Kejari Pohuwato, baru-baru ini. (Foto : Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Penegakkan hukum terhadap Pertambangan Tanpa Izin (PETI) emas di Pohuwato terus digencarkan tidak hanya oleh Polda namun juga oleh Polres Pohuwato. Apa yang menjadi tuntutan masyarakat atas penertiban pertambangan ilegal selama ini menjadi atensi Kapolda Gorontalo untuk penanganannya dengan menggunakan pola preemtif, preventif dan juga represif penegakkan hukum. 

Dalam penanganan pertambangan, Polri dalam hal ini Polda Gorontalo dan Polres Pohuwato tidak bekerja sendiri melainkan melibatkan stakeholder terkait. Salah satu bukti keseriusan Polda Gorontalo dalam hal ini Ditreskrimsus dalam penegakkan hukum PETI emas di wilayah Kabupaten Pohuwato yaitu dengan diprosesnya AK pelaku penambangan emas tanpa izin di Kecamatan Dengilo Kabupaten Pohuwato.

AK salah satu tersangka PETI beberapa waktu lalu sempat ditetapkan sebagai DPO karena setelah ditetapkan sebagai tersangka yang bersangkutan menghilang tanpa diketahui keberadaannya. Hal ini dijelaskan oleh Kabid Humas Polda Gorontalo Kombes Pol. Wahyu Tri Cahyono,SIK kepada awak media, Sabtu (16/7/2022).

“Setelah penyidik Ditreskrimsus keluarkan status DPO kepada AK pada tanggal 12 Mei 2022, beberapa hari kemudian penyidik memperoleh informasi dari masyarakat tentang keberadaan AK di komplek RS Aloe Saboe Kota Gorontalo di salah satu rumah yang berdekatan dengan sekolah Madrasah selanjutnya tim mengajak aparat kelurahan Dembe Jaya mendatangi rumah tersebut sekaligus memperlihatkan surat perintah penangkapan terhadap AK, yang kemudian dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka untuk selanjutnya dilakukan penahanan sejak tanggal 18 Mei 2022,” terang Wahyu. 

Setelah pemeriksaan selesai dan berkas perkara dikirim ke Kejati (Tahap I), selanjutnya berdasarkan Surat Kejaksaan Tinggi Gorontalo Nomor : B-1187/P.5.1/Eku.1/2022, tertanggal 14 Juli 2022 tentang penyidikan perkara, sudah lengkap.

“Setelah berkas perkara AK dinyatakan P21. Selanjutnya penyidik Ditreskrimsus pada tanggal 15 Juli menindaklanjutinya dengan tahap II yakni menyerahkan tersangka AK beserta barang buktinya antara lain dua unit alat berat, tiga unit dompeng, delapan buah pipa peralon, satu buah pompa pasir, satu buah selang spiral dan setengah karung material hasil pertambangan ke Kejaksaan Negeri Pohuwato,” terang Wahyu.

AK diduga telah melakukan penambangan tanpa Izin/ PETI Emas dengan menggunakan alat berat berupa eksavator yang dilakukan di Kecamatan Dengilo, Kabupaten Pohuwato.

“Tersangka dijerat dengan pasal 158 UU No. 3 Tahun 2020 tentang perubahan atas UU No 4 Tahun 2009 Tentang Minerba Jo pasal 55 KUHP dengan ancaman pidana paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah),” tutupnya. (***)

 

Rilis : Humas Polda Gorontalo

(Visited 79 times, 1 visits today)

Komentar