Selasa, 27 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Berkat HT Berhasil Evakuasi

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Kamis, 8 Maret 2018 | 12:13 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id– KABAR Hilangnya pesawat Casa Nusantara (CN) 212 seri 200 milik Merpati Nusantara Airlines menggemparkan tanah air pada awal tahun 1991. Tim SAR bersama ABRI dikerahkan pemerintah untuk mencari lokasi jatuhnya pesawat produksi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) 1985 itu.

Hilang kontak dengan pesawat dan cuaca buruk menyulitkan tim SAR melalukan pencarian. Sementara di bandara Djalaludin Gorontalo, para keluarga penumpang gelisah menanti kabar terbaru hilangnya pesawat Merpati. “Padahal mereka lalu lalang di atas kami. Kami melihat helikopter dan pesawat mereka.

Tapi mereka tidak menemukan kami,”ujar Erwin Giasi, salah satu penumpang pesawat nahas itu, kepada Gorontalo Post, (7/2) kemarin. Ia mengingat betul peristiwa nahas yang hampir merenggut nyawanya pada 27 tahun silam itu. Erwin kaget saat Gorontalo Post menyambanginya untuk menceritakan kembali kisah kelam di tengah hutan Tihengo, saat pesawat yang ia tumpangi jatuh di hulu Atinggola. “Oh iya, benar ini pesawatnya.

Sama persis. Ternyata ada masyarakat yang bisa sampai disana. Saya enam hari di hutan itu. Hampir mati,”kata Erwin saat koran ini menunjukan foto penemuan bangkai pesawat yang viral di media sosial. Sesaat ia mengambil album foto dari laci meja kerjanya. “Lihat dulu semuanya, setelah itu tanyakan apa yang kamu ingin tanyakan,”ujar Erwin akrab.

BACA  Sembuh Dari Covid-19, Pasien Bergejala Disarankan Isolasi Selama Tujuh Hari

Di dalam album tersusun rapi foto-foto dan kliping koran pemberitaan kecelakaan pesawat yang ia tumpangi. “Kebetulan ada penumpang yang bawa tustel (kamera menggunakan roll film), jadi kami foto di lokasi,”kenang Erwin. Salah satu pengusaha di Gorontalo itu mengatakan, mukjizat Tuhan menjadi faktor seluruh penumpang dan awak pesawat selamat.

Melihat kondisi pesawat yang menabrak pohon di gunung dan berhari-hari tidak makan, potensi untuk hidup sangat tipis. “Kami semua selamat,”ungkap dia. Sudah hari ketiga di lokasi jatuhnya pesawat atau 1 februari 1991, mereka belum ditemukan. Beruntung, Paul Sumampow, Kadis PU Sulawesi Utara yang juga salah satu penumpang membawa Hendy Talky (HT). Komunikasi dilakukan Paul Sumampow dengan sembarang frequnsi. “Tersambung dengan Sinar Karya Batudaa. Kami sampaikan kami kecelakaan dan selamat.

Tapi setelah itu komunkasi tidak berhasil lagi,”kata Erwin. Ia yang berpengalaman dengan HT, lalu mengambil alih komunikasi lewat perangkat radio itu. Erwin yang ketika itu menjabat Direktur Cabang PT Wenang Sakti Gorontalo memang banyak menggunakan HT sehingga ia tahu persis frequensi apa saja yang sering digunakan. “Saya gunakan frequensi 500. Tersambung dengan Atinggola. Pemilik toko Ponompia di dekat pasar Atinggola yang berkomunikasi dengan saya,”ujar Erwin. Sang pemilik toko merupakan pedagang harian di kecamatan Atinggola.

BACA  Cuti Bersama Jangan Lahirkan Klaster Baru

Ia selalu menggunakan radio HT untuk memesan bahan pokok di wilayah-wilayah untuk dijual di Atinggola. Erwin Giasi kenal betul dengan pemilik toko itu. “Mereka kaget. Ternyata kami masih selamat,”ungkap Erwin. Hasil komunikasi itu membaut heboh masyarakat. Tim SAR lalu mengarahkan pencarian ke Atinggola. Pilot Yus Pagau bersama Erwin kemudian menginformasikan posisi kordinat mereka. “Pilot ambil peta, dan sebut lintang kordinatnya kepada tim SAR,”kata Erwin. Hanya saja pencarian tidak lakukan saat itu.

Cuaca buruk menjadi kendala utama. Barulah pada hari keempat tim SAR berhasil menembus lokasi kecelakaan. Helikopter milik Polisi Udara mengirimkan mereka makanan nasi bungus. Tim SAR yang lainya meluncur dengan tali dari helikopter ke lokasi dengan membawa alat penebang pohon. Mereka membuat helipad di tengah hutan.

Hari keenam atau 4 Februari 1991 pagi, mereka mulai dievakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat. Helikopter Puma milik TNI AU dan Helikopter Polri bergantian mengangkut mereka menuju posko di Desa Tuntung, Kecamatan Pinogaluman, Bolaang Mongondow yang berbatasan. Sekira pukul 12.00 wita, seluruh korban jatuhnya pesawat diterbangkan dengan helikopter ke stadion 23 Januari di Telaga, Kabupaten Gorontalo.

BACA  Kasus Covid-19 Meningkat di Kota Gorontalo, Ditunggu Langkah Konkrit Pemerintah

Mereka disambut ribuan warga Gorontalo. Isak tangis haru menyambut mereka. Setelah turun dari helikopter, para korban langsung dibawa dengan ambulance ke Rumah Sakit Aloe Saboe. “Saya flao karena kedinginan. Tapi hanya dirawat sebentar dan sudah pulang ke rumah.

Sampai di rumah saya mandi. Sudah 6 hari tidak mandi,”kenang Erwin. Saat dievakuasi, ia tidak membawa barang-barangnya. Ia hanya membawa tiga pelampung sebagai kenang-kenangan. “Ini pelampung tidak bisa dibawa. Karena pesawatnya jatuh di hutan, maka saya bawa saja, saya simpan sebagai kenang-kenangan.

Masih bagus,”ungkap Erwin sambil memperlihatkan tiga buah pelampung penumpang pesawat. “Saya tidak pernah lagi bertemu dengan korban yang lain. Pilot kabarnya sudah membawa pesawat besar. Padahal kalau kami bertemu, suasananya pasti haru,”kata Erwin.

Ia menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelamatkan 20 nyawa manusia dari gunung Tihengo, seperti masyarakat, tim SAR, TNI dan Polri. “Kapolres saat itu, Kapolda, Danrem. Termasuk pak Murad Ismail, dia Kasat Sabhara Polres Gorontalo saat itu. Pernah jadi Dankor Brimob, pangkat Irjen,”tandasnya. (tro/hg)


Komentar