Rabu, 10 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Berlangsung Panas! Aleg Deprov Ini Banting Meja Di Tengah Rapat Banmus

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Selasa, 8 Agustus 2017 | 12:54 Tag: , , , , ,
  

GORONTALO Hargo.co.id – Selama ini jalannya rapat Badan Musyawarah (Banmus) di DPRD Provinsi (Deprov) Gorontalo tak memberi daya pikat bagi para wartawan untuk meliput jalannya rapat.

Karena materi yang dibahas hanya soal seremonial. Yaitu merumuskan dan menetapkan Rencana Induk Kegiatan (RIK) Deprov. Kapan rapat paripurna, kapan agenda reses, dan agenda-agenda kerja DPRD lainnya akan diputuskan dalam rapat Banmus.

Tapi, rapat Banmus kemarin (7/8) siang, menawarkan sesuatu yang baru. Bukan soal materi yang dibicarakan. Tapi dinamika yang berkembang dalam rapat yang dipimpin langsung oleh Ketua Deprov Gorontalo Paris Jusuf itu.

Rapat itu sempat diwarnai aksi banting meja oleh salah satu anggota Banmus, Fikram Salilama. Ketua Fraksi Golkar itu emosi karena saat sedang berbicara, salah satu pimpinan Deprov, Cony Gobel kerap memotong (menginterupsi) pembicaraannya.

Sesuai informasi yang dihimpun koran ini, insiden itu berawal saat pelapor Banmus Hidayat Bouti menyampaikan kesimpulan rapat di akhir pertemuan sekitar pukul 12.45 wita. Dalam penyampaiannya, Hidayat memaparkan beberapa poin yang sudah disepakati dalam rapat.

Antara lain pelaksanaan rapat paripurna pembicaraan tingkat dua atas ranperda keuangan pimpinan dan anggota DPRD yang akan dilaksanakan pada 21 Agustus. Namun salah satu anggota Banmus Alfian Pomalingo yang tidak mengikuti rapat dengan penuh karena melaksanakan salat zuhur, meminta agar rapat paripurna pada 21 Agustus dimajukan.

Alfian meminta rapat paripurna itu dilaksanakan hari ini (8/8). Sontak permintaan ini menuai reaksi. Para peserta rapat yang lain tak menerima usulan ini dengan alasan, penjadwalan rapat paripurna pada 21 Agustus sudah disepakati oleh peserta rapat.

Bahkan Pelapor Banmus Hidayat Bouti terinformasi sempat menggebrak meja. Usulan Alfian dianggap mementahkan hasil rapat yang sudah disetujui mayoritas peserta rapat. Dalam situasi itulah, Fikram Salilama meminta ijin pimpinan rapat untuk berbicara.

Saat Fikram sedang berbicara, Cony Gobel melayangkan interupsi ke pimpinan rapat. Tapi pimpinan rapat belum mengijinkan Cony untuk mengajukan interupsi. Pimpinan rapat tetap memberikan kesempatan Fikram Salilama untuk terus berbicara. Tapi pada saat yang sama Cony Gobel tetap berbicara. Pada saat itulah emosi Fikram Salilama memuncak.

Tak terima pembicarannya terus terpotong dengan interupsi, Fikram Salilama langsung membanting meja yang ada dihadapannya. Seketika itu juga Fikram Salilama terlibat cekcok dengan Cony Gobel.

Namun cekcok itu langsung cepat diredam oleh Ketua Deprov Paris Jusuf selaku pimpinan rapat. Dia meminta keduanya untuk tenang. Sementara peserta rapat lainnya terdiam untuk beberapa saat seakan tak percaya dengan insiden yang baru saja terjadi. Saat itu juga Paris Jusuf langsung menutup jalannya rapat internal Banmus tersebut.

Diwawancarai usai rapat, Fikram Salilama mengatakan, emosinya tersulut dengan sikap Cony Gobel yang seakan tidak menghargai pimpinan rapat dan tata cara rapat. Fikram tak mempersoalkan interupsi dari Cony Gobel. Tapi yang membuatnya emosi adalah sikap Cony Gobel yang seakan mengabaikan etika rapat. “Interupsi boleh saja. Tapi ada caranya.

Harus meminta persetujuan pimpinan rapat untuk mengajukan interupsi. Kalau diijinkan baru bicara. Tapi saat rapat tadi, yang bersangkutan belum diijinkan tapi bicara terus. Kalau seperti ini apa bedanya kita di pasar. Semuanya bicara tanpa ada yang mengatur,” tandas Fikram Salilama.

Fikram mengatakan, sebagai pimpinan DPRD, harusnya Cony Gobel bisa memahami tata cara rapat seperti yang sudah diatur dalam tata tertib. Apalagi pimpinan DPRD yaitu kolektif kolegial.

Jadi Ketua Deprov yang sedang memimpin rapat Banmus adalah cerminan dari pimpinan DPRD lainnya. “Kalau anggota biasa mungkin saya masih bisa maklumi. Tapi yang lakukan ini pimpinan Dewan,” jelasnya.

Karena itu Fikram mengatakan, sikapnya yang sampai membanting meja sesungguhnya merupakan akumulasi dari kekecawaan terhadap jalannya rapat di DPRD selama ini yang banyak mengabaikan tata cara rapat. “Ke depan ini harus tertib.

Tidak ada yang melarang berbicara. Tapi harus ikuti tata cara yang sudah diatur dalam tatib. Jangan bicara tanpa meminta ijin pimpinan rapat. Karena dia (pimpinan rapat) yang mengendalikan jalannya rapat,” tandasnya.

Sementara Cony Gobel yang diwawancarai terpisah mengatakan, interupsi yang dia layangkan karena pembicaraan di penghujung rapat seakan-akan mementahkan kembali apa yang sudah dibicarakan dari sejak awal.

Karena itu, dirinya ingin mengingatkan pimpinan rapat agar bisa tegas dan konsisten dengan apa yang sudah disepakati dalam rapat. “Sudah disepakati paripurna pada 21 Agustus. Tapi ada yang minta diubah besok (hari ini). Kalau seperti ini, mau jadi bagaimana hasil rapat nanti,” ujar Cony Gobel.

Cony Gobel menyayangkan sikap Fikram Salilama yang sampai membanting meja hanya gara-gara ada interupsi dari dirinya. Harusnya sikap yang diambil tidak sampai sejauh itu. Sebab itu hal biasa yang terjadi dan menjadi bagian dari dinamika dalam rapat. “Kenapa harus sampai sejauh itu. Apakah etis kalau sampai seperti itu (membanting meja.red),” jelasnya.

Cony Gobel mengatakan, selama ini dirinya juga sering mengalami kejadian yang sama. Saat sedang berbicara, ada peserta rapat lain yang melayangkan interupsi. Walau belum diijinkan oleh pimpinan rapat, yang melayangkan interupsi malah terus berbicara.

“Saya juga sering mengalami perlakuan yang sama. Tapi saya tidak mau sampai mengambil tindakan terlalu jauh. Karena saya menganggap itu bagian dari dinamika rapat,” ujar Cony Gobel. (rmb/hg)

(Visited 7 times, 1 visits today)

Komentar