Senin, 30 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Berwisata Religi ke Masjid “Betawi” KH Hasyim Asyari

Oleh Fajriansyach , dalam Kabar Nusantara , pada Selasa, 18 April 2017 | 09:00 WITA Tag: ,
  


Kentalnya budaya Betawi juga menjadi ciri khas tersendiri bagi desain arsitektur Masjid KH Hasyim Asyari. Tidak seperti masjid pada umumnya, masjid yang menghabiskan biaya Rp170 miliar ini tidak memiliki kubah melainkan dibangun bercirikan pelana dan limasan di rumah adat Betawi. Dipadukan juga dengan bangunan joglo sebagai ciri bangunan nusantara.
Sementara, atap masjid yang mulai dibangun sejak 2013 saat Jokowi masih menjabat Gubernur DKI Jakarta ini berbentuk huruf “T”. Huruf “T” adalah pertemuan garis vertikal (hablumminallah) dan garis horizontal (hablumminannas).
Garis tengah memanjang sebagai gedung utama masjid yang menjadi pusat ibadah yang bisa dilihat sebagai “batang” dengan dua “dahan” yang merentang ke kanan dan kiri.
Batang dan dua dahan menyimbolkan iman (aqidah), Islam (ibadah), dan ihsan (akhlak, kebaikan, keluhuran) dalam Islam.
Iman adalah batang yang membuahkan Islam (ibadah) dan ihsan (akhlak) seperti halnya bangunan masjid ruang tengah sebagai sarana utama untuk ibadah, sementara bangunan kanan kiri sebagai sarana penunjang untuk kegiatan keumatan; pendidikan, kesehatan, layanan sosial, dan lainnya.
Dengan segala kekhasan desain arsitekturnya, Masjid Raya KH Hasyim Asyari menjelma menjadi destinasi wisata baru bagi masyarakat Ibu Kota maupun luar kota. Sejak diresmikan, rombongan masyarakat tampak mengunjungi masjid ini.
“Saya datang bersama rombongan ibu-ibu pengajian dari Bekasi, penasaran gimana masjidnya. Kemarin lihat di TV bagus, terus besar bener pas diresmiin Pak Jokowi,” kata Susi (38), warga Bekasi, saat sedang bersantai di pelataran masjid.
Menurut ibu tiga anak itu, setelah memasuki dan berkeliling mengitari isi masjid, dirinya merasa kagum dengan arsitektur atau bentuk bangunan masjid.
“Kita tadi muter-muter di dalam, berasa mewah banget masjidnya. Enggak nyangka dilihat langsung ternyata bagus bener,” ujarnya.
Area parkir pun terlihat dipenuhi bus-bus pariwisata yang berjejer tepat di ruas akses Masjid Raya KH Hasyim Asyari, terutama di hari libur. Selain itu, pedagang kaki lima (PKL) ikut menyemut, mulai dari pedagang es krim, bakso, soto, gado-gado, hingga pernak-pernik.
Dengan lahan parkir yang luas dan daya tampung hingga 12.500 jemaah, Masjid KH Hasyim Asyari siap menjadi tujuan wisata religi bagi warga Jakarta maupun luar kota. Kehadirannya memberi rasa kebanggaan tersendiri untuk upaya pelestarian budaya Betawi. (Hg)
BACA  Berkunjung ke Daerah, Doni Monardo Ingatkan Soal Protokol Kesehatan

Laman: 1 2


Komentar