Minggu, 29 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Biaya Umrah Melonjak, 952 Jemaah di Gorontalo Ogah Berangkat

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Kamis, 5 November 2020 | 00:05 WITA Tag:
  Ilustrasi jemaah umrah (Dok.JawaPos.com)


Hargo.co.id, GORONTALO – Kesempatan umat muslim untuk bisa melaksanakan ibadah umrah di masa pandemi Covid-19, akhirnya terbuka. Setelah Pemerintah Arab Saudi membuka kota suci Makkah untuk pelaksanaan ibadah umrah.

Tapi kesempatan ini rupanya masih ingin dilewatkan oleh 952 jamaah umrah asal Gorontalo. Yang saat awal 2020 batal berangkat ke Makkah, akibat penutupan Kota Makkah oleh Pemerintah Arab Saudi, akibat pandemi Covid-19.

Ratusan calon jamaah umrah ini enggan untuk berangkat karena pembengkakan biaya akomodasi serta perubahan prosedur pemberangkatan.
Usai pemerintah Arab Saudi membuka kota suci Mekkah untuk pelaksanaan ibadah umrah, Kementerian Agama Provinsi Gorontalo sudah mengumpulkan 16 travel yang biasa memberangkatkan jemaah dari Gorontalo. Namun, tak satupun pihak travel yang siap memberangkatkan jemaah umroh dalam waktu dekat ini.

Kabid Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Provinsi Gorontalo Mahmud Bobihu mengatakan Menteri Agama sudah mengeluarkan keputusan terkait pelaksanaan haji dan umrah ditengah pandemi Covid-19. Dalam putusan itu, Kemenag mengatur semua prosedur dan tata cara pelaksanaan umrah. Putusan yang mengatur pelaksanaan hingga pembiayaan ibadah umrah sudah berdasarkan hasil masukan pemerintah Arab Saudi.

“Kita sudah kumpulkan semua travel resmi di Gorontalo, kita cek siapa yang lunas dan siapa yang sudah siap berangkat. Tapi dalam waktu dekat ini belum ada yang siap berangkatkan jemaah,” ujar Mahmud kepada awak media, Selasa (3/11).

BACA  Upacara HUT ke 75 Korps Brimob Digelar Secara Virtual

Ia menambahkan, sudah ada 253 jemaah Indonesia yang berangkat ke Arab Saudi saat pembukaan ibadah umrah pertama. Namun, tak satupun dari jemaah itu berasal dari Gorontalo. 952 jemaah Gorontalo yang gagal berangkat sejak bulan Februari belum bisa memastikan jadwal keberangkatan dalam waktu dekat. Perubahan aturan dan prosedur yang harus dipenuhi saat pendemi, menjadi alasan jemaah menunda keberangkatan ke kota suci Mekkah.

Setiap jemaah wajib menaati protokol kesehatan yang diterapkan Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Arab Saudi. “Ada aturan baru, jemaah yang berangkat harus berumur 18-50 tahun dan tidak memiliki penyakit bawaan. Jamaah juga harus melakukan pemeriksaan swab dan mendatangani surat pernyataan terkait Covid-19,” katanya.

Setiap calon jemaah wajib melakukan swab sebelum berangkat dan tiba di Indonesia. Bahkan, tiga hari sebelum keberangkatan ke Mekkah, jemaah wajib dikarantina selama tiga hari. Hal itu dilakukan agar, jemaah yang berangkat benar-benar dalam keadaan sehat.

Kemenag tidak memberikan kesempatan kepada jemaah yang masuk dalam kategori umur namun memiliki penyakit bawaan. Selama masa pandemi, pemerintah Indonesia hanya diberikan jatah 1.000 visa setiap harinya. Padahal biasanya sehari bisa mencapai 10 ribu visa.

BACA  Dinkes Daerah Diminta Persiapkan Program Vaksinasi Covid-19

Sebelum masa pandemi, maskapai dari Indonesia bisa membawa jemaah ke Mekkah. Namun, selama pandemi hanya Saudi Airline yang menyediakan jasa angkut jemaah untuk umrah. Kapasitas pesawat biasanya diisi 450 orang untuk sekali berangkat. Selama pandemi maskapai Saudi hanya menyediakan kursi untuk 200 orang. Untuk akomodasi selama pelaksanaan ibadah juga mengalami perubahan yang cukup signifikan.

“Biasanya satu kamar hotel diisi 4-6 orang. Sekarang maksimal 2 orang. Makanan yang dulunya prasmanan, sekarang tinggal makan dus yang diantar dikamar masing-masing,” ujarnya.

Perubahan prosedur dan protokol selama pandemi itu membawa dampak besar pada pembiayaan untuk ibadah umrah. Selama ini Kemenag sudah menetapkan standar harga Rp 20 juta sekali berangkat. Perbedaan harga yang diberikan travel tergantung layanan yang ditawarkan pada jemaah. Namun, karena ada perubahan dan pemeriksaan kesehatan yang berulang kali, membuat harga yang biasa ditetapkan travel harus bertambah.

Meskipun jemaah sudah melunasi harga keberangkatan pertama, harus merobek gojek lebih untuk menunaikan ibadah umrah ditengah pandemi ini. “Contoh pesawat kapasitas 450, tapi berangkat 200 orang. Yang bayar biaya kursi kosong itu jemaah yang berangkat. Itu salah satu contoh saja, belum lagi kamar hotel,” katanya.

BACA  Tradisi Walima di Gorontalo Tak Abaikan Protokol Kesehatan

Sejumlah jemaah Gorontalo akhirnya harus menunda keberangkatan dan menunggu hingga pemberlakuan prosedur normal diterapkan. Selama berada di Mekkah, setap jemaah hanya diberi kesempatan melakukan ibadah umrah sekali, tidak bisa melakukan ibadah umrah untuk orang lain atau biasa dikenal badal umrah. Setiap jemaah yang memasuki Makkah harus melakukan scaning menggunakan barcode. Satu jemaah hanya bisa melakukan sekali scaning dalam kurun waktu 14 hari. Jadi dipastikan tidak ada yang bisa melakukan tawaf lebih dari sekali saat sudah scaning barcode. Jemah harus menunggu 14 hari untuk bisa masuk ke tanah suci.

“Kalau memang ada yang sudah siap berangkat, kami sudah sediakan Asrama haji. Jemaah tidak perlu khwatir,” katanya.

Pihak Kemenag sudah mensterilkan lokasi Asrama yang sebelumnya digunakan untuk ruang isolasi pasien Covid-19. Semua peralatan dan fasilitas diganti agar calon jemaah merasa aman selama karangtina. “Saya harap dalam waktu dekat ada jemaah yang siap berangkat,” ujar Mahmud.(tr69/hg)


Komentar