Senin, 12 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Bila Tak Dapat Distribusi Air, 41 KK di Suwawa Konsumsi Air Sungai

Oleh Berita Hargo , dalam Metropolis , pada Sabtu, 17 September 2016 | 10:29 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id BONBOL – Krisis air bersih yang melanda sebagian besar masyarakat Gorontalo, harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Hingga saat ini tercatat ribuan warga mengalami krisis air bersih, bahkan untuk mendapatkan air, sebagian warga terpaksa harus menggunakan air sungai, jika tidak memperoleh distribusi air bersih.

Hal ini seperti yang dialami  masyarakat yang tinggal di dua desa di Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango (Bonbol), masing-masing Desa Boludawa dan Desa Helumo. Hingga kini, masyarakat di wilayah setempat hanya mengandalkan distribusi dari PDAM Kabupaten Bonbol.

BACA  Personel Polsek KPG Gagalkan Penyelundupan Cap Tikus Lewat Jalur Laut

Kondisi yang dialami masyarakat di Kecamatan Suwawa ini,  seperti halnya yang melanda mayarakat yang ada di Kecamatan Pulubala Kabupatan Gorontalo.

Krisis air yang melanda dua desa tersebut bukan baru kemarin terjadi. Melainkan sudah bertahun-tahun. Sebelumnya, masyarakat sekitar hanya mengandalkan air dari Danau Perintis. Namun sering waktu, Danau tersebut saat ini sudah kotor. Masyarakat sekitar tak dapat lagi memanfaatkanya.

BACA  Simpan Narkoba dalam Sepatu, Dua Calon Penumpang Lion Air Diciduk

“Yang terdampak air bersih di dua desa itu memang tidak semuanya. Hanya sebagian wilayah yang lokasinya berada di dataran tinggi. Ada sektiar 41 KK yang terdampak krisis air bersih ini,” kata Camat Suwawa Achril Y. Babyonga ketika diwawancarai, kemarin, (16/9).

Menurut Acril, pihaknya sudah berulang kali mencoba melakukan berbagai macam cara untuk bisa membantu warga tersebut. Tahun 2015 kemarin, pemerintah pernah mencoba melakuakan pengeboran sumur suntik hingga kedalaman ribuan meter. Namun sampai kedalaman itu, belum juga ditemukan mata air.

BACA  Lagi, Polres Gorontalo Kota Amankan Ratusan Liter Cap Tikus

Akhirnya pemerintah terpaksa menghentikan pekerjaan itu. “Pernah juga dengan cara mengalirkan air yang berasal dari penampungan yang ada di kawasan Lombongo dengan menggunakan grafitasi. Namun, lagi-lagi cara itu gagal,” kata Acril.
Menurutnya, salah satu faktor tidak maksimalnya penanganan krisis air di dua desa itu karena letaknya yang berada di dataran tinggi dan jauh dari jangakauan air.

Laman: 1 2


Komentar