Rabu, 25 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Bye…. Gorontalo Fitrah Mandiri Kolaps

Oleh Berita Hargo , dalam Features Gorontalo Headline , pada Kamis, 5 Oktober 2017 | 13:13 Tag: , , ,
  

GORONTALO, hargo.co.id – Berdiri pada 3 Juni 2002. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Gorontalo Fitrah Mandiri (GFM) diharapkan bisa menjadi pelopor sekaligus leader perekonomian Gorontalo.

Selang 15 tahun berlalu. Cerita indah tentang BUMD justru menjadi kabar buruk. Harapan sebagai leader perekonomian Gorontalo tak kunjung terwujud. Yang ada kini malah BUMD Gorontalo kolaps akibat merugi dan terlilit utang.

Sebelumnya, BUMD Gorontalo Gorontalo didirikan sebagai penyangga program utama Pemprov Gorontalo. Yakni program pertanian serta kelautan-perikanan. Awalnya, BUMD Gorontalo didirikan dengan nama PT BUMD Agro Gorontalo. Setahun berjalan nama tersebut kemudian berubah menjadi BUMD PT. Gorontalo Fitrah Mandiri.

Untuk bidang usaha yang digeluti dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, Divisi Produksi yang meliputi Pertanian-Perkebunan, dan Pengolahan rumput laut.

Kedua, Divisi Perdagangan dan Properti. Bidang usaha ini meliputi Perdagangan (jagung), Properti/Real Estate (perumahan PNS dan Umum).

Selanjutnya ketiga adalah Divisi Jasa dan Penjaminan Kredit. Divisi ini terdiri bidang usaha jasa rental (traktor/alsintan, kendaraan dinas operasional) dan bidang usaha kelistrikan daerah (penyewaan genset ke PLN).

Pada awal pendirian, PT GFM dipimpin oleh Marten Taha. Hanya saja kepemimpinan Marten Taha tak sampai setahun. Posisi Marten sebagai Anggota Deprov Gorontalo membuat dirinya tak bisa menempati jabatan pimpinan PT GFM.

Dari Marten Taha berpindah ke Heru. Setelah itu kendali PT GFM diserahkan ke Meagaung Amin Daud. Pada 2006, kepemimpinan PT GFM diserahkan kepda Abdul Halim Usman. Lebih kurang 8 tahun memimpin PT GFM, Abdul Halim Usman memutuskan mundur.

Kepemimpinan PT GFM lantas diserahkan kepada Mahmud Bakulu pada 2012. Dua tahun berjalan, pucuk pimpinan PT GFM kembali berganti. Budiyanto Napu didaulat menggantikan posisi Mahmud Bakulu.

Dalam dalam rentang 15 tahun beroperasi, beberapa usaha yang dilakoni PT GFM pernah memberikan peluang menjanjikan. Di bidang pertanian dan kelautan, PT GFM pernah mengekspor jagung dan ikan kerapu ke sejumlah negara. Seperti Filipina, Malaysia dan Korea. Termasuk pengapalan rumput laut ke Surabaya melalui pabrik rumput laut milik PT GFM di Pulubala, Kabupaten Gorontalo.

Dalam bidang usaha properti, PT GFM membangun kawasan perumahan pejabat Perum Fitrah Mandiri di Kelurahan Limba U II, Kota Selatan serta perumahan umum di Kelurahan Wongkaditi Kecamatan Kota Utara. PT GFM juga pernah berkecimpung di sektor konstruksi jalan yakni sebagai distributor aspal.

Di sektor jasa, PT GFM pernah menyewakan genset ke PLN Gorontalo. Termasuk menyewakan Kendaraan Dinas Operasional (KDO) bagi pejabat eselon II dan III.

Di sektor jasa, PT GFM juga ikut mengembangkan hotel Quality sebagai salah satu pesaham. Keterlibatan PT GFM dalam pengembangan hotel bintang 3 itu dilakukan melalui anak perusahaan PT Gorontalo Wisata Mandiri.

Ekspansi usaha yang dilakukan PT GFM membawa perusahaan milik Pemprov Gorontalo itu sebagai finalis BUMD Award pada 2008. PT GFM juga tercatat sebagai terbaik 3 Indocement Developer Award untuk kategori Perusahan Developer Menengah. Termasuk sang Direktur Halim Usman dinobatkan sebagai Terbaik 5 CEO BUMD se-Indonesia.

Selain itu pada 2006, PT GFM juga telah meraih ISO 9000:2001. Yaitu pengakuan atas pengelolaan usaha dengan sistem dan manajemen mutu berstandar Internasional.

Namun segudang catatan positif itu tak lantas membawa PT GFM mampu eksis sebagai inkubator ekonomi untuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Menyandang perusahan milik daerah, usaha yang digeluti PT GFM lambat laun makin merosot. Keuntungan yang diharapkan, yang ada malah kerugian.

Direktur PT GFM Budiyanto Napu mengaku, sejak 10 tahun terakhir PT GFM tak lagi menerima penyertaan modal dari pemerintah, sebab banyak masalah terkait pengelolaan usaha dan keuangan. Sehingga selama 10 tahun belakangan, GFM berjalan pelan tanpa ada kontribusi ke pemerintah.

“Jadi BUMD terima penyertaan modal itu sejak berdiri sampai 2007, total sekitar Rp 42 M. sejak itu tidak lagi terima dana,” kata Budiyanto saat diwawancarai Gorontalo Post, belum lama ini.(dan/san/hargo)

 

(Visited 14 times, 1 visits today)

Komentar