Jumat, 30 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Catatan Akhir Tahun: Tahun Kecemasan Gorontalo

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Sabtu, 31 Desember 2016 | 13:05 WITA Tag: , ,
  


Oleh : Funco Tanipu
(Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo)

Di sini kami berdiri di ambang subuh jaman baru, jaman yang akan membawakan terang ke seluruh tanah air. Dan sekali jaman itu terbit, akan lebih banyak dituntut perjuangan, penderitaan, berperang dan memenangkannya – Kartini, Een Gouverneur-Generaalsdag

Surat Kartini begitu tepat. Ia telah mengerjakan sesuatu yang begitu berharga bagi bangsa ini. Ia menggagas adanya kebebasan, sebuah yang lapang. Kartini adalah seonggok sejarah yang menjadi inspirasi Gorontalo untuk merdeka, tepatnya bebas.

Surat Kartini begitu tepat. Ia telah mengerjakan sesuatu yang begitu berharga bagi bangsa ini. Ia menggagas adanya kebebasan, sebuah yang lapang. Kartini adalah seonggok sejarah yang menjadi inspirasi Gorontalo untuk merdeka, tepatnya bebas.

 Kronik Provinsi

Tepat memasuki 2016, inspirasi dari ambang subuh jaman baru Kartini telah berbuah hasil. Provinsi ini genap berusia lebih dari enam belas tahun. Banyak hal  telah terjadi. Banyak hal yang telah dilakukan. Di samping itu, banyak pula kenangan dan kepahitan yang telah kita lalui bersama. Kita dan sebagian besar rakyat Gorontalo, telah berada dalam strip kebebasan yang telah lama kita nantikan. Kebebasan yang juga kemerdekaan, adalah tanah air dan laut semua suara, kata Toto Sudarto Bachtiar.

BACA  Pemprov Gorontalo Siapkan Rp 1 Miliar untuk Lahan Secaba

Kita, di enam belas tahun yang lalu pernah bersama melalui persalinan yang begitu membahagiakan ; ambang subuh jaman baru. Di tengah kepedihan himpitan kolonial, baik koloni sesama maupun koloni asing. Kita, melewati persalinan ini dengan penuh legam. Semenjak era Matoduladaa, Eyato, Botutihe, hingga Nani Wartabone, telah banyak pejuang tanah ini dipenjarakan, hilang tak tentu rimbanya, atau diterjang peluru tajam karena mereka berpikir untuk Gorontalo yang merdeka. Saling genggam tangan, satukan suara dan pikiran, lalu melangkah maju, bertarung, hingga berkalang tanah.

Pun saat Orde Lama yang kita lalui, kita mempererat genggaman. Ada Permesta, komunis dan juga suara-suara partikelir lainnya. Begitu pula saat kita melewati Orde Baru di bawah koloni Sulawesi Utara, kita dengan keyakinan menjanjikan bahwa ‘dimanapun tirani harus tumbang!’. Dan, seketika itulah Gorontalo secara administratif mampu menjejakkan identitas di negeri yang bernama Indonesia. Kita membukukan sejarah pemekaran tanpa tumpahan darah. Kita melalui itu dengan sungguh hati dan tekad yang kuat.

Telah enam belas tahun yang lalu sejak tanah ini beroleh identitas administratif yang resmi, sejak derap kaum muda (HPMIG, HMI, dan berbagai organisasi kaum muda dan masyarakat) menggetarkan jalan-jalan utama dengan ‘bergerak dan bersatu, mendirikan Gorontalo’. Kita pernah buka paksa gembok jeruji pagar RRI untuk menyiarkan kedatangan Provinsi baru ini. Kita kuasai ruang-ruang terbuka dan penuhi mereka dengan impian dan harapan kita tentang Provinsi Gorontalo. Kita berkejaran dengan politisi oportunis (yang ingin menggagalkan provinsi) dan jengkal demi jengkal mereka terdesak ke pinggir. Di lubuk hati terdalam kita percaya bahwa Tuhan berpihak pada kemanusiaan Gorontalo.

BACA  Pemprov Siapkan Lahan Hibah untuk Kantor Bawaslu

Ironi Kecemasan

Saya tidak sedang mengajak semuanya untuk sekadar bernostalgia. Kronik kelahiran Gorontalo yang baru saya sampaikan mengandung pertanyaan tak terhingga. Kita baru sadar, saat ini Gorontalo sedang ditelikung oleh kekuatan-kekuatan yang memanfaatkan sepenuhnya ruang-ruang yang sudah kita buka dengan susah payah, kekuatan-kekuatan yang selalu berniat memenjarakan pikiran dan tubuh kita. Sekelompok manusia bengis memanfaatkan kesusahan kita membuka jeruji kebebasan ini. Banyak pemain tikungan yang tanpa bersusah payah apalagi bermandikan peluh hingga berdarah-darah dengan Gorontalo telah menunggu di tikungan untuk menelikung apa yang telah kita usahakan. Saya mendapati ironi ini setelah melihat sikap curang sebagian orang yang tak peduli dengan masa depan Gorontalo kita. Kelompok  yang hendak memperdagangkan apa yang kita cita-citakan dulu. Mereka menelikung kita di tikungan administrasi dan prosedur demokrasi. Mereka membabat harapan kita dengan kekuatan modal yang bergelimang. Kita, secara tidak langsung telah membiarkan mereka mengoyak-ngoyak kain renda masa depan tanah ini.

BACA  Penyebaran Covid-19 Landai, Warga Diingatkan Tetap Waspada

Saya mengajukan ini di tengah kecemasan yang melanda. Masa depan provinsi ini cukup mencemaskan. Di enam belas tahun yang telah lalu, gubernur dan bupati di negeri ini tak pernah dipilih langsung. Kini, kita bisa memilih mereka secara terbuka. Walaupun keterbukaan ini begitu mencemaskan disaat mobilisasi kapital telah merusak akar nurani politik lokal. Uang telah menjadi alat jual beli demokrasi. Martabat manusia Gorontalo direndahkan dengan seutas rupiah!

Saya ingin menegaskan bahwa ancaman yang kita hadapi saat ini bukanlah provinsi yang baik atau buruk. Kita seharusnya tidak terjebak dalam perang wacana itu, karena sekali lagi provinsi adalah proses. Kita sedang menghadapi pertarungan politik dan kultural. Kita sedang berebut ruang dan pengaruh untuk menentukan rambu-rambu kekuasaan politik dan merumuskan ke-Gorontalo-an dengan penuh keyakinan. Kita mesti menggergaji oknum yang mengacak derap kesatuan kita dalam membangun Gorontalo.

Laman: 1 2


Komentar