Minggu, 28 November 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Cerita Abdul Muthalib Pakaya, Pemuda Gorontalo yang Kuliah di Luar Negeri

Oleh Admin Hargo , dalam Podcast , pada Kamis, 21 Oktober 2021 | 12:05 PM Tag:
  Abdul Muthalib Pakaya

Hargo.co.id, GORONTALO – Abdul Muthalib Pakaya, pemuda asal Desa Didingga, Kecamatan Biau, Kabupaten Gorontalo Utara ini berhasil melakukan proyek penelitian tentang karya ilmiah di luar negeri. Dirinya lantas menceritakan kisahnya selama berada di luar negeri.

Meski dari desa, pemuda berumur 19 tahun tersebut kini kuliah di salah satu perguruan tinggi yang ada Amerika Serikat. Selain kuliah di luar negeri, dirinya juga pernah melakukan proyek penelitian di beberapa negara, di antara Polandia dan Jerman.

Dalam channel YouTube Kristina Udoki Podcast, pemuda yang biasa disapa Abdul ini, menceritakan kisahnya sebelum berhasil diterima di salah satu kampus di Amerika, serta awal mula dirinya sukses dalam proyek penelitian

“Awalnya saya mendaftar dari kelas satu SMA. Karena menurut saya ini interesting (Menarik) buat saya ikut program ini. Sebenarnya saya belum terlalu tahu. Sebab baru kelas satu SMA,” kata Abdul memulai ceritanya.

Abdul bercerita, sejak dirinya masih duduk di bangku kelas tiga SMA, dia sudah berada di Amerika Serikat untuk mengikuti Program Kennedy- Lugar Youth Exchange and Study (KL YES) dari Departemen luar negeri Amerika Serikat.

“Sebenarnya saya belum terlalu tahu. Sebab baru kelas satu SMA. Tapi saya mencoba untuk memberanikan diri, di samping itu juga saya dapat suport dari beberapa pihak. Termasuk doa dari orang tua,” kata Abdul.

Ketertarikannya untuk mengikuti program itu, kata Abdul, dirinya tidak semata untuk mencoba. Dirinya memang sudah sejak lama berniat untuk ke sana. Menurutnya, dengan mengikuti program tersebut, pengetahuannya akan bertambah.

Abdul menyebutkan beberapa syarat yang akan diuji dalam penyeleksiannya. Mulai dari tes personality, Bahasa Inggris sampai kemudian tes wawancara. Diantara tes tersebut, menurutnya yang paling utama adalah tes personality.

“Karena kita di sana itu dijaga ketat, mereka menilai di setiap gerakan kita. Mulai bangun tidur sampai pada aktivitas lainnya dan itu tidak diberi tahu. Kuncinya itu di situ. Bagaimana kita berinteraksi dengan orang orang,” tuturnya.

Saat mengikuti program, dirinya juga sempat mengajak beberapa temannya serta kerabatnya. Namun, kata abdul, mereka enggan untuk mencoba. Padahal menurutnya, mereka memiliki prestasi dan pengetahuan yang lebih baik daripada dirinya.

“Saya punya teman. Orangnya lebih hebat dari saya, dari nilainya pun bagus. Tapi teman saya bilang ke saya, ia takut untuk mencoba. ‘Ya udah, dengan begitu dengan keberanian saya ikut aja. Yang namanya rezeki diatur sama Allah,” pikirnya.

Menurutnya, wajar jika ada orang yang berpikir begitu. Sebab, proses yang dilalui untuk bisa lolos seleksi program KL YES itu sangat ketat. Tingginya persaingan membuat peserta harus benar benar berusaha ekstra jika ingin lulus. 

“Seleksinya ketat. Dari Gorontalo yang dinyatakan lolos berkas untuk melanjutkan sesi berikutnya itu ada dua orang. Yaitu Tasya Man Cendekia dan saya Sendiri. Setelah itu kita di kirim ke tingkat Nasional. Nah, dari situ ada 17 orang yang ikut, yang lolos kalau dihitung sekitaran sembilan orang. Termasuk saya,” jelasnya.

Dirinya, kata abdul, membutuhkan waktu lebih dari satu untuk mempersiapkan semuanya hingga kemudian dinyatakan lolos dan berkesempatan ke beberapa negara bagian Amerika.

Dengan niat dan kegigihannya waktu itu. Kini Abdul bisa berkuliah di negeri paman sam sambil mengikuti beberapa proyek penelitian yang tentunya akan semakin menambah pengetahuan serta pengalamannya. (***)

 

Penulis : Herman Abdullah

(Visited 2.214 times, 1 visits today)

Komentar