Minggu, 13 September 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Cerita Muslim Australia Sambut Lebaran di Tengah Teror COVID-19

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Kabar Dunia , pada Jumat, 22 Mei 2020 | 05:05 WITA Tag:
  Perayaan lebaran Idulitri di Australia tahun ini bertepatan dengan adanya pembatasan sosial akibat COVID-19, sehingga Nila bersama suaminya Peter Lilly (Muaz). Foto: ABC


Hargo.co.id, MELBOURNE – “Mohon maaf ibu-ibu, usahakan datang on time ya,” ujar Riska, seorang warga Indonesia yang kini tinggal di Melbourne, Australia.

Lebaran di Australia Selagi COVID

Ia sedang mengingatkan rekan-rekannya yang akan datang ke kediaman Riska untuk merayakan lebaran Idul Fitri, yang akan dilaksanakan pada hari Minggu (24/05/2020).

Lebaran kali ini, bagi umat Islam di Australia, menjadi tantangan tersendiri karena adanya pembatasan sosial terkait COVID-19.

Untung saja di Melbourne saat ini sudah diperbolehkan untuk menerima tamu di dalam rumah maksimal hingga lima orang untuk sekali bertamu.

Pasalnya, inti perayaan lebaran, apalagi bagi warga asal Indonesia, adalah kesempatan untuk saling bersilaturahmi, mengunjungi satu sama lain. Sambil bercengkrama menikmati menu-menu khas lebaran.

Kepada jurnalis ABC Farid M. Ibrahim, Riska yang sudah beberapa tahun tinggal di Melbourne, menjelaskan bahwa silaturahmi lebaran tahun ini harus disesuaikan dengan aturan pembatasan COVID-19.

“Kebetulan Riska baru tiga tahun di Ashburton (salah satu daerah di Melbourne). Tahun pertama iya, tahun kemarin engga karena gantian sama teman, terus tahun ini memang rencananya Riska mau adakan lebaran di rumah, tapi ternyata ada COVID,” ujarnya.

Photo: Riska (kedua dari kiri) saat merayakan lebaran bersama rekan-rekannya di Melbourne, Australia. Tahun ini, ia merayakan lebaran Idul Ftri dalam suasana pembatasan sosial terkait COVID-19. (Supplied)
Photo: Riska (kedua dari kiri) saat merayakan lebaran bersama rekan-rekannya di Melbourne, Australia. Tahun ini, ia merayakan lebaran Idul Ftri dalam suasana pembatasan sosial terkait COVID-19. (Supplied)

Selain meminta untuk datang tepat waktu, Riska juga memastikan agar tamu-tamunya datang di waktu yang berbeda-beda. Masing-masing dialokasikan waktu satu jam untuk sekali bertamu.

BACA  Sejumlah Bule Rusia Ikut Upacara HUT RI di Moskow

“Kalau tiba di rumah, jangan langsung ke pintu rumah saya, tunggu di mobil. Saya akan telpon apabila tamu-tamu sebelumnya sudah pulang,” katanya.

Riska juga menyediakan hand sanitiser di depan pintu dan meminta tamu-tamunya untuk menggunakan pembersih tangan ini sebelum masuk ke dalam.

Di dalam rumah pun, aturan untuk menjaga jarak tetap diterapkan sebagaimana dianjurkan oleh pemerintah setempat.

Menurut Riska, ia sudah menyiapkan aneka makanan khas lebaran berupa lontong sayur, rendang, sambal goreng hati, opor ayam, telur balado, gulai telur dan bakso.

Salat Idul Fitri di rumah

Selain silaturahmi, ritual lebaran lainnya adalah melaksanakan salat Idul Fitri di masjid atau di lapangan, yang kali ini sulit dilakukan di Australia karena adanya pembatasan kegiatan keagamaan hingga 10 orang saja.

Photo: Keluarga Nila dan Muaz saat merayakan lebaran di gedung Springvale City Hall, Victoria, dua tahun lalu. (Supplied)
Photo: Keluarga Nila dan Muaz saat merayakan lebaran di gedung Springvale City Hall, Victoria, dua tahun lalu. (Supplied)

“Rencananya kami akan salat Idul Fitri di rumah sesuai dengan himbauan pemerintah. Semoga suami bisa siapkan khutbah juga,” ujar Nila kepada ABC.

Wanita asal Sulawesi yang menikah dengan warga Australia Peter Lilly (Muaz) dan telah dikaruniai tiga orang anak ini selalu antusias menunggu lebaran karena sekaligus menjadi momen untuk mudik ke Indonesia.

“Tahun kemarin kami pulang ke Kendari,” katanya.

Dengan adanya pembatasan COVID-19, keluarga ini mengaku sedih perayaan lebaran kali ini menjadi berbeda dan hanya dilakukan bersama keluarga masing-masing di dalam rumah.

BACA  Perilaku Korup Terekam CCTV, Seribu Lebih PNS Dipecat

“Biasanya kita merayakannya di ruang terbuka dan bertemu sanak saudara dan kolega,” kata Nila.

Meski demikian, ia melihat sisi positif pembatasan COVID-19 karena Ramadan dan lebaran kali ini justru memperkuat ikatan antara anggota keluarganya.

“Suami saya mengatakan semenjak menjadi imam salat tarawih setiap malam secara rohaniah merasa lebih baik. Alhamdulillah,” ujar Nila.

Selain itu, selama Ramadan Nila saling mengirim makanan untuk berbuka puasa dengan kerabatnya.

“Keluarga yang di Indonesia juga merasakan tali silahturahmi semakin erat karena kami bisa saling mengirimkan hadiah dan doa untuk saling menguatkan,” katanya.

Nila menambahkan bahwa rumahnya tetap terbuka menerima tamu namun dibatasi hingga lima orang saja.

“Karena hanya boleh maksimal lima orang sekali bertamu, kami hanya mengundang teman satu keluarga untuk datang ke rumah,” ujarnya.

Ia mengatakan sudah menyiapkan menu khas Coto Makassar dan ketupat untuk tamu-tamunya tersebut.

Photo: Pasangan Gani Wiriadi dan Fadia bersama anak mereka Justin Wiriadi, Alif Thomas Wiriadi, dan Ashlee Naima Wiriadi. (Supplied)
Photo: Pasangan Gani Wiriadi dan Fadia bersama anak mereka Justin Wiriadi, Alif Thomas Wiriadi, dan Ashlee Naima Wiriadi. (Supplied)

Menu khas lebaran juga sudah disiapkan oleh keluarga Fadia dan Gani Wiriadi yang sejak tinggal di Australia sesekali mudik ke Indonesia untuk sungkeman dengan orang tua.

“Kepinginnya kumpul-kumpul sama teman-teman dan saudara, tapi masih situasi COVID begini jadi belum bisa kumpul banyak orang,” kata Fadia.

Mantan vokalis band Bunglon ini menjelaskan keluarganya akan melaksanan salat Idul Fitri di rumah dan menunggu kedatangan beberapa orang tamu.

BACA  Berdasar Rekaman Video, Jacob Blake Ditembak Polisi di Depan 3 Anaknya

Selain lontong sayur, ketupat dan opor ayam, Fadia juga menyiapkan es buah, “untuk pengganti cairan tubuh yang hilang selama Ramadan ini,” katanya.

Lebaran dengan Zoom

Adanya pembatasan sosial terkait COVID-19 justru membuat keluarga Ningsih Millane yang mengelola kelompok tari Sanggar Lestari di Melbourne akan melakukan silaturahmi Idul Fitri dengan fasilitas video call Zoom.

“Kami tetap akan menerima tamu hingga lima orang namun akan merayakan lebaran dengan teman-teman Sanggar Lestari melalui Zoom,” ujar Yana Gill.

Ia mengatakan kondisi ini memang menyedihkan namun mereka justru merasa lebih reflektif sejak menggunakan Zoom untuk kegiatan buka puasa bersama selama Ramadan.

Photo: Depan (dari kiri): Yana Gill, Ningsih Millane, Habibi Tuasikal-Millane. Belakang (dari kiri): David Gill, Mira Millane, Ben Heng. (Supplied)
Photo: Depan (dari kiri): Yana Gill, Ningsih Millane, Habibi Tuasikal-Millane. Belakang (dari kiri): David Gill, Mira Millane, Ben Heng. (Supplied)

Setiap minggu, kata Yana, mereka saling bertemu secara online dan berbagi rasa syukur dalam menjalani masa-masa sulit selama pandemi COVID-19.

“Hal ini justru mendorong saya untuk menyapa keluarga dan teman-teman, memastikan semuanya baik-baik saja,” katanya.

Ia menambahkan, para penari Sanggar Lestari diharapkan bisa datang untuk bersilaturahmi pada hari lebaran namun diatur agar tidak datang bersamaan.

“Jadi semua teman, khususnya yang tidak punya keluarga di sini, bisa tetap ikut merayakan lebaran,” ujar Yana.

Simak berita lainnya dari ABC Indonesia.

 

 

 

 

 

*) Artikel ini telah diterbitkan oleh jpnn.com dengan judul yang sama. Pada edisi Kamis, 21 Mei 2020.

Komentar