Selasa, 26 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Cerita Pedagang Soal Kebakaran Shopping Center Limboto

Oleh Aslan , dalam Gorontalo Headline , pada Senin, 5 Maret 2018 | 09:54 AM Tag: ,
  

Nyolong Sambil Nolong, Hingga Penyelamatan yang Harus Dicegah

Hargo.co.id – Banyak cerita pasca kebakaran hebat Shopping Center Limboto, Jumat (2/3) malam. Selain spekulasi soal penyebab kebakaran yang marak dibahas di media sosial, banyak kisah menarik dari para pedagang yang lapaknya hangus terbakar.

Franco Bravo Dengo – LIMBOTO

Seketika, suasana hatinya langsung berubah 180 derajat. Menjadi tak karuan. Ada rasa cemas, was-was, khawatir, takut. Semuanya bercampur menjadi satu. Rasa lelah dan kantuk ngga ketolong, langsung lenyap saat itu. Emi Yusuf (50), malam itu, baru saja mendapat telepon dari temannya. “Shoping terbakar” kata temannya di ujung telepon.

Mendengar dua kata itu, jantung Emi langsung berdegup kencang. Muncul rasa cemas yang tinggi. “Jangan-jangan toko saya ikut terbakar” begitu suara batin yang muncul dari dalam diri Emi.

Emi Yusuf menjadi salah satu penjual di gedung Shopping Center Limboto. Di kawasan pertokoan tertua di ibukota Kabupaten Gorontalo itu, Emy punya toko. Nama tokonya E-Tiga Mart. Jualannya macam-macam kebutuhan harian. Seperti jualan yang ada di swalayan mini yang sudah menjamur itu : Indomaret dan Alfamart.

Tanpa menunggu lama, Emi langsung bergegas menuju ke Shopping Center. Saat tiba, kerisauannya benar-benar terjadi. Dia melihat tokonya mulai dilalap api. Melihat itu, Emi serasa tak percaya.

Padahal baru beberapa jam yang lalu dia melihat tokonya dalam keadaan baik-baik saja. Barang-barang masih tertata rapi pada tempatnya. “Saya baru saja menutup toko. Tapi setelah tiba di rumah teman sudah nelpon ada kebakaran,” kata Emi.

Melihat api yang mulai membakar tokonya, Emi langsung bergerak cepat menyelamatkan barang yang masih belum terbakar. Banyak yang membantu Emi. Tapi diantara para penolong itu, rupanya terselip pencuri. Terlihat sibuk menyelamatkan barang.

Tapi bukannya mengamankan ke tempat aman, para pencuri itu langsung membawa kabur barang yang diselamatkan. “Ada sebagian orang yang pura-pura menolong, padahal mau nyolong.

Bahkan sepeda Polygon milik karyawan saya juga ikut mereka boyong,” cerita Emi dengan nada sedih saat ditemui Gorontalo Post Minggu (4/3).

Saat itu Emi sedang berada diantara reruntuhan tokonya untuk mengais barang-barang yang mungkin masih berguna.
“Semoga ada hikmahnya” kata Emi.

Lain pula cerita pedagang lain, Harlin Mamu (52). Harlin yang berjualan pakaian, sepatu, tas, aksesoris dan barang-barang lain itu mengaku, sangat terpukul dengan kebakaran itu. Dia sudah 12 tahun berjualan di Shopping Center Limboto.

Dari usaha itu, wanita berambut pendek itu mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. “Ini toko saya,” ucap Harlin sambil memalingkan wajahnya ke puing-puing bangunan hitam berarang.

Warga Kelurahan Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo itu, juga ikut menguraikan kisahnya saat pertama kali mengetahui gedung Shopping terbakar. “Sekitar jam 11 malam, anak saya bilang kalau shopping terbakar,” ucapnya.

Ketika sampai di Shopping, api sudah sangat besar. Anak laki-laki Harlin, saat itu sempat berupaya untuk masuk ke dalam toko. Tujuannya untuk menyelamatkan sebanyak mungkin barang yang belum terbakar.

“Tapi kenekatan itu langsung saya cegah. Karena api sudah menjalar di sebagian besar toko,” kenang ibu dua anak itu. Akhirnya, dengan berat hati Harlin dan anaknya harus pasrah menyaksikan api membakar habis barang-barang yang ada di dalam toko.

Cerita Emi dan Harlin hanyalah panggalan kecil dari banyaknya kisah dibalik kebakaran Shopping Center Limboto. Kebakaran yang membakar 105 lapak dengan kerugian yang ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah.

Untuk mendalami penyebab kebakaran, kepolisian sudah melakukan olah TKP kemarin (4/3). Olah TKP itu melibatkan tim labfor dari Mabes Polri. Hingga berita ini dilansir belum ada penjelasan mengenai hasil olah TKP tersebut. (gpost/hargo)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar