Jumat, 3 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Dading Faris

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Jumat, 22 Oktober 2021 | 10:05 AM Tag: , , ,
  Dading Faris - DI'SWay

Oleh : Dahlan Iskan

SATU keluhan orang tua bisa jadi berkah bagi anak. Bermula dari harga gabah yang turun di kala panen. Sang ayah, petani, curhat pada sang anak –yang tinggal di Jakarta.

Sang anak mengerti perasaan bapaknya. “Pak, akan saya carikan tengkulak yang mau membeli dengan harga baik,” ujar sang anak menenangkan hati bapaknya.

Sang anak tidak berterus terang bahwa tengkulak itu ia sendiri. Tanpa ia tahu akan diapakan gabah sebanyak itu.

Dari peristiwa itulah sang anak baru tahu: harga beras bisa lebih baik kalau dijaga kualitasnya. Salah satu penanda kualitas itu adalah: kadar remuk-nya harus rendah.

Nama anak itu: Dhohir Farisi.

Sang ayah: petani di Probolinggo.

Pekerjaan sang anak: pernah menjadi anggota DPR dari Partai Gerindra. Lalu tidak mau lagi dicalonkan. Pun oleh partai yang lain, termasuk partai yang pernah dideklarasikan mertuanya: KH Abdurrahman Wahid.

Padahal, istri Faris, Yenny Wahid, tidak pernah melarang sang suami untuk aktif di politik. Faris sendiri yang insaf.

Gara-gara keluhan ayahnya itulah Faris tergerak mendorong petani untuk memproduksi beras premium. Faris yang akan membeli beras premium itu. Untuk dikemas menjadi beras bermerek: Bintang Sembilan. Itu memang mengingatkan orang pada lambang Nahdlatul Ulama.

Lain kali Faris menerima keluhan lain lagi: ada orang tidak mampu menyekolahkan anak. Orang itu merayu Faris untuk membeli tanahnya di Sleman, Jogjakarta.

Faris tidak pernah punya niat punya rumah di Jogja. Faris memilih membantu saja uang kuliah anak itu. Ia tidak punya pikiran untuk menyimpan tanah. Apalagi harus tinggal di kota itu.

Kian lama uangnya kian banyak yang dipakai biaya kuliah. Itu pun belum cukup. Dan lagi tanah di Jogja itu juga nganggur. Maka Faris menerimanya sebagai pembayaran utang biaya kuliah tersebut.

Dan pandemi datang. Kian parah. Faris terpikir untuk menyingkir dari Jakarta. Tapi ke mana? Ia ingat tanah di Sleman itu. Ia bangun rumah di situ. Di desa sekali. Hanya mobil kecil yang bisa masuk-masuk ke jalan di desa itu.

Selama pandemi, Faris dan Mbak Yenny dan tiga anak lebih banyak di Sleman. Selama pandemi pula mereka taat pada nasihat sehat: perbanyak makan sayur dan buah. Lalu Faris terpikir membina petani yang menanam sayur.

Di sebelah rumahnya itu terdapat tanah kosong satu hektare. Milik desa. Yang bisa disewa. Jadilah tanah desa itu pusat kegiatan baru Faris dan Yenny: Peace Village.

Di gerbangnya tertulis “Jujur, Loman, Sabar, lan Ikhlas”. Artinya: jujur, suka memberi, sabar, dan ikhlas. Ada gambar Gus Dur besar di halaman itu. Ada lagi gambar Gus Dur dan Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid agak di dalam.

Masih ada lagi bangunan serba guna. Ada taman untuk anak-anak. Ada sanggar kreativitas. Ada pesantren dengan pelajaran khusus: coding di komputer. Mengapa pilih membuat pesantren coding? “Pesantren yang mengajarkan agama sudah banyak. Di sini diajarkan coding saja,” ujar Faris.

Berapa banyak santrinya? “Tidak boleh melebihi jumlah santri di Ciganjur,” jawabnya. Ciganjur adalah pesantren milik Gus Dur di Jakarta selatan. Santrinya: 25 orang.

Saya terus berjalan melihat-lihat apa saja yang ada di situ. Lokasi ini ternyata memanjang ke belakang. Ada sungai kecil di bagian belakangnya.

Ups, di bagian belakang itu masih ada gasebo-gasebo: itulah restoran baru. Dengan menu utama khusus steak daging lokal.

“Kami ingin membuktikan bahwa daging lokal tidak kalah enak dengan daging impor,” ujar Faris.

Di antara petani binaan Faris memang ada peternak sapi. Faris harus menemukan cara memasak daging sapi lokal yang benar. Salah satunya harus melalui proses selama 14 hari. Sebelum proses itu dilakukan daging tidak boleh dijadikan steak.

Saya pun makan siang steak khusus itu di situ. Di gasebo pinggir sungai. Yang juga pinggir sawah kecil yang ditanami padi.

Kopinya di situ pun diberi merek Bintang Sembilan. Yang logonya juga mirip logo NU –tapi terbuat dari gambar biji kopi. Kopi Bintang Sembilan tidak hanya dijual di situ, tapi juga untuk umum –lewat online. Sudah dalam bentuk untaian sachet yang sudah diisi gula.

Habis makan siang saya belum boleh pulang. Ada pelukis ternama Jogja yang lagi di ruang besar: Bayu Wardhana. Bayu lagi melukis di kanvas ukuran besar. Objek lukisannya: salah satu sudut kota Yangon –kota terbesar di Myanmar. Bayu memang pernah pameran lukisan di sana, beberapa tahun lalu.

Faris pintar sekali menjebak saya: harus ikut lomba lukis dadakan di situ. Peserta lombanya: saya, istri, anak wedok dan suaminyi, serta Kang Sahidin. Kami dipaksa menerima kanvas. Berikut cat air dan segebok kuas. Kami sekeluarga harus melukis di situ. Dilombakan. Bayu –yang sudah menghasilkan lebih 1.000 lukisan dan delapan anak kandung– yang jadi juri.

Disway dan anak wedok Isna Fitriana di depan lukisan bergambar Gus Dur.

Bayu tidak hanya pelukis –yang pernah diundang Presiden Jokowi ke Istana. Ia juga sudah memproduksi cat air untuk melukis. Dengan merek Bayu Wardhana.

Maka jadilah saya tiga jam di Peace Village itu. Rasanya itulah kesempatan saya terlama dalam satu kegiatan dengan istri saya.

Tentu ada misi khusus mengapa padepokan itu didirikan di situ. Yakni misi yang akan dicapai di balik kegiatan fisik di sana: terbentuknya masyarakat damai, tanpa kekerasan, tanpa radikalisme, dan tanpa sikap ekstrem.

Misi itulah yang akan terus dikembangkan oleh Faris dan Mbak Yenny. Memang masih serba baru. Tapi sudah terasa menyenangkan. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan: Garuda Menyenangkan

Pryadi Satriana
Beritanya tendensius. Menyerang Irfan. APA salahnya mengajak keluarga besar dalam keperluan dinas, sepanjang tidak merugikan siapa pun? Pak DI nggak pernah ajak klg dlm urusan dinas? Jg tidak berimbang. Garuda tidak diberi kesempatan bicara, diberitakan sepihak. Padahal sdh brsh efisiensi. Menawarkan pensiun dini. Teman saya, seorang direktur di Garuda jg mengambilnya, bersama lebih 600 karyawan lainnya. Jg sdh brsh survive dg fokus ke kargo. Pernah bawa 30 ton manggis dr Padang ke Cina. Garuda yg sdg brsh bangkit jgn “dibunuh” dg berita yg membuat orang takut naik Garuda. Takut sdh beli ticket tp gagal terbang krn Garuda pailit. Kalau Pak DI punya saran konstruktif, bisa dikirim ke Garuda. Jg ke DPR. Anda pernah jd menteri. Semua ada aturan mainnya. Orang yg jatuh dan brsh bangkit perlu dibantu, jangan malah ditimpa tangga. Salam.

Saya mah netral aja, kenal Irfan jg nggak. Cuma berpikir kan Irfan masih dipercaya dalam RUPSLB Garuda, sedangkan Pak DI sdh bukan lg Menteri BUMN. Apa beliau mengalami post power syndrome, masih merasa ngurusi BUMN? Coba Anda tanya ke Pak DI dan saya tunggu penjelasannyi. Terima kasih. Salam.

Kamu kan sdh tahu kalo “Arief” itu maksudnya “Irfan” dan “Won” maksudnya “Wor”, Lay. Ngoreksi sekaligus caper, maklum bujangan… Salam.

Tks, atas infonya. BTW, Anda apanyi Pak DI, kok bisa bilang “hanya sekali” itu? Salam. Ya nggak nyerang Pak DI lah. Mengkritisi beliau utk menulis berdasar fakta dg menyertakan data, nggak sekadar “katanya”. Salam. Karena saya ‘googling’ ga ada beritanya, maka saya tanya sumbernya. Dasar geblek! Nah lo, rasain! Biar nanti kalo mau nulis komen mikir dulu. Salam.

(Visited 18 times, 1 visits today)

Komentar