Friday, 17 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Daging Sapi Sepi Peminat

Oleh Berita Hargo , dalam Ekonomi , pada Wednesday, 18 January 2017 | 14:40 PM Tags: ,
  

Hargo.co.id GORONTALO – Harga daging di pasaran masih stabil, tidak terlihat pergerakan kenaikan di pasaran. Dalam sepekan terakhir, daging sapi dibanderol Rp 110 ribu per kg.

Daging sapi segar misalkan, semula pada November lalu berada dikisaran Rp 130 per kg, kini turun menjadi Rp 110 ribu per kg.

Meski harga kembali normal, namun permintaan daging sapi di Gorontalo cenderung mulai sepi. Kondisi ini tentunya sedikit membuat sejumlah pedagang daging sapi yang berada di Pasar Sentral Gorontalo prustasi.

Tak sedikit dari mereka mengeluhkan harga yang dipatok untuk daging sapi tersebut tergolong cukup murah, dibanding pada bulan tertentu, seperti Saban, Rajab dan Ramadhan, yang hingga menembus Rp 150 ribu per kg.

Meskipun harga yang ditawarkan mereka cukup murah, namun tetap saja kondisi dagangan sapi mereka sepi dari para konsumen.

Pantauan Gorontalo Post, Selasa (17/1), beberapa lapak daging sapi di Pasar Sentral Gorontalo, sepi dari kunjuangn konsumen.

“Kalau mau sih beli, cuman sekarang kan belum waktunya mo ba beli daging, nanti ada acara atau hari besar lainnya baru beli,” kata Usni, salah seorang pengunjung pasar sentral, saat diwawancarai, kemarin.

Menanggapi hal tersebut, Baharuddin Husain, pedagang daging sapi membenarkan, bahwa tingkat beli masyarakat memang berubah di hari-hari biasanya.

Beda halnya dengan pada bulan Rajab, Sa’ban dan Ramadhan, permintaan daging di masyarakat melambung tinggi, sehingga para pedagang dapat menaikan harga daging sapi.

“Kenaikan harga daging Sapi ini hanya musiman. Biasa paling ramai itu hari-hari besar Islam, seperti di bulan Rajab, Sa’ban dan Ramadhan. Biasanya di bulan itu naik sampai Rp 150 ribu per kg, kadang lebih,” tuturnya.

Disinggung masalah omset yang didapatkannya dalam penjualan tersebut, Baharuddin mengatakan, semenjak harga daging sapi normal, pendapatannya justru berkurang.

Dia mencontohkan, sebelumnya daging sapi dagangannya selalu laku terjual dalam sehari, namun kali ini daging sapi dagangannya bisa terjual habis selama dua hari.

Untuk ukuran sapi lokal dari daerah Bongomeme dan Pulubala, dengah harga Rp 8 juta, menghasilkan 70 kg daging dengan harga Rp 110 ribu per kilo gram, 20-25 kg tulang dengan harga Rp 40 ribu per kg, dan 5 kg kulit dengan harga Rp 5 ribu per kg.

Baharuddin memaparkan keuntungan yang biasanya dia dapatkan kini tidak lagi berasal dari daging yang dijualnya, namun lebih kepada faktor penopang lainnya, seperti keuntungan penjualan tulang, dan kulit, serta jeroan sapi.

“Kalau bilang untung tidak ya. Tapi kalau rugi sudah pasti. Contoh, harga sapi Rp 8 juta, lalu daging yang di hasilkan hanya 70 kg, dikalikan dengan harga Rp 110 ribu, pendapatanya malah hanya Rp 7.700.000.

Nah untuk mengimbangi itu saya menjual semuanya biar jeroan sama kulit dan tulangnya untuk diuangkan. Ini untuk menutup kerugian,” paparnya saat di temui awak media, kemarin.

Hal senada juga di utarakan Tahir warga ipilo yang juga menjual daging sapi. Ia mengatakan, untuk menutupi kekurangan pendapatan, mereka menjual tulang daging sapi kepada pedagang bakso tulang iga yang berasal dari Balikpapan dengan harga Rp 40 bahkan Rp 45 ribu per kg.

“Depe cara tinggal mo tutup dengan tulang ini pendapatan, torang cuma jaga jual sama pedagang bakso tulang iga supaya biar ada untung biar bo sadikit,” ujar Tahir.(tr-56/dan/hargo)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar