Rabu, 21 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Damaskus Membara: Oposisi Menyerang, Assad Tidak Tinggal Diam

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Dunia , pada Rabu, 22 Maret 2017 | 09:37 WITA Tag: , , ,
  


Hargo.co.id – Oposisi bersenjata Syria kembali melancarkan serangan ke ibu kota. Kemarin (21/3) kali kedua dalam tiga hari terakhir oposisi berhasil menjejakkan kaki di Kota Damaskus. Namun, aksi tersebut menuai balasan sengit dari pasukan pemerintah.

’’Kami melancarkan serangan baru dan berhasil merebut kembali daerah yang terpaksa kami lepaskan dalam bentrok (dengan pasukan pemerintah) sebelumnya,’’ papar Wael Alwan, Jubir Failaq al Rahman, salah satu kelompok militan pro-oposisi. Salah satu daerah yang dimaksud adalah Abbasid Square, sekitar 2 kilometer dari kawasan kota kuno di Damaskus.

Kemarin militan Nusra Front yang oleh pemerintah diklaim sebagai kelompok teroris terlibat dalam serangan di Damaskus. Kelompok yang pernah menjadi bagian dari militan Al Qaeda itu kini bersekutu dengan kelompok-kelompok pro-oposisi yang lain dalam Aliansi Tahrir al-Sham. Sebagai wadah militan-militan Islam, aliansi tersebut bergabung dengan kelompok oposisi bersenjata untuk melawan rezim Damaskus.

BACA  Kim Jong Un Sudah Minta Maaf, Korsel Masih Belum Puas

”Semuanya bermula dari ledakan sangat keras di pagi buta. Kuat dugaan, penyebabnya adalah bom mobil,’’ kata Rami Abdel Rahman, direktur Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) tentang serangan kemarin. Oposisi, menurut dia, menarget titik-titik jaga pasukan pemerintah. Sejak bentrokan pertama, sejumlah besar pasukan pemerintah bersiaga di antara Distrik Jobar dan Distrik Qabun.

Suara ledakan yang memecah keheningan pagi itu berlanjut dengan bising desing peluru. Selama berjam-jam baku tembak anatara kelompok oposisi dan pasukan Syria tidak juga berhenti. Bahkan, bentrokan menjadi kian ramai dengan kehadiran jet-jet tempur militer. Untuk mendukung perlawanan pasukannya di darat, Presiden Bashar al-Assad memerintahkan serangan udara di sisi timur Damaskus tersebut.

Abdel Rahman mengatakan bahwa bentrokan oposisi dengan pasukan pemerintah terjadi di kawasan Abbasids dan Tijara. Dua kawasan tersebut berada di Jobar yang masuk wilayah timur Damaskus. ’’Pasukan pemerintah terkepung oposisi bersenjata di utara Jobar. Mereka berusaha melawan. Hingga sekarang, bentrokan masih berlangsung,’’ ungkapnya kemarin. Dalam bentrokan sengit itu, sedikitnya 12 orang terluka.

BACA  Mundurnya Puluhan Pegawai KPK Dinilai karena Indepensi Tergerus

Kemarin asap hitam menghiasi langit timur Damaskus sepanjang hari. Kendati tidak sampai jatuh korban jiwa, bentrokan terbaru oposisi melawan pasukan pemerintah itu menimbulkan kerugian materi yang tidak sedikit. ’’Setiap terjadi ledakan, seluruh jendela dan pintu kami bergetar,’’ kata Lamis, salah seorang penduduk Damaskus. Seperti warga ibu kota yang lain, dia pun berharap agar pasukan pemerintah bisa segera mengalahkan kelompok oposisi.

Sejak Syria jatuh dalam perang sipil pada 2011, Damaskus menjadi kawasan bebas pemberontak. Sebagai pusat pemerintahan, kota terbesar Syria itu jelas dikuasai rezim Assad. Pasukan pemerintah menjaga ketat ibu kota berpenduduk sekitar 2,6 juta jiwa tersebut. Selama ini kota pro pemerintah yang nyaris nihil bentrokan itu tidak pernah tersentuh oposisi. Apalagi sampai diduduki seperti pada Minggu (19/3) dan Senin (20/3).

BACA  Keputusan Penting Pemerintah Arab Saudi yang Perlu Diketahui Seluruh Umat Islam

Abdel Rahman mengatakan bahwa oposisi hanya sebentar menduduki Jobar dan Qabun. Sebab, pasukan pemerintah dengan persenjataan yang lebih canggih berhasil merebut kembali kawasan tersebut Minggu malam lalu. ’’Damaskus baru kembali tenang pada Senin sore. Toko-toko kembali buka dan kendaraan kembali berlalu-lalang di jalanan,’’ ungkapnya.

Bentrokan oposisi melawan pasukan pemerintah pada Minggu dan Senin itu merenggut sedikitnya 72 nyawa. Sebanyak 38 di antara mereka adalah serdadu pemerintah. Sedangkan 34 sisanya adalah militan dan pejuang oposisi. Tentang serangan pertama pada Minggu lalu, oposisi bersenjata yang bercokol di Eastern Ghouta menyebutnya sebagai aksi balasan. Sebab, bulan ini pasukan Assad terus-terusan menggempur sarang mereka. (AFP/Reuters/CNN/BBC/hep/c4/any/tia)


Komentar