Selasa, 20 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Dapat Beasiswa Kuliah di ATMI Solo, Pemuda Asal Gorontalo Ini Ungkapkan Rasa Syukur

Oleh Zulkifli Polimengo , dalam Advertorial Gorontalo , pada Minggu, 28 Maret 2021 | 16:05 WITA Tag:
  Ramdan Pakaya (kiri) foto bersama dengan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie dan istri Idah Syahidah di Kampus ATMI Solo, Jawa Tengah, Jumat (26/3/2021). (Foto: Istimewa)


Hargo.co.id, GORONTALO – Seorang anak yatim piatu asal Kelurahan Pohe, Kecamatan Hulondalangi, Kota Gorontalo, menjadi satu dari 10 siswa asal Gorontalo yang memperoleh beasiswa kuliah di kampus teknik manufaktur, ATMI Solo, Jawa Tengah.

Itu menunjukan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Pemprov Gorontalo untuk putra putri daerah saat ini mulai merekah. Meski belum bisa dipetik hasilnya, setidaknya banyak warga kurang mampu yang sudah merasakan prosesnya.

Salah satunya Ramdan Pakaya (20). Warga kelurahan Pohe, Kecamatan Hulondalangi itu beruntung bisa kuliah di Politeknik Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo dengan beasiswa Pemprov Gorontalo.

Bagi anak dari kalangan berduit, kuliah di mana saja dengan biaya berapapun bisa dilakukan. Tapi bagi Ramdan, uang kuliah Rp65 juta per tahun amat besar artinya. Ditambah lagi ia mengantongi uang saku Rp2 juta per bulan dan biaya kos ditanggung Pemprov Gorontalo.

“Bersyukur sekali pak bisa kuliah beasiswa dari Pemprov Gorontalo. Saya enggak menyangka bisa sampai ke sini. Saya anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ibu saya meninggal saat saya kelas 3 SD, bapak meninggal saat saya kelas 9 SMP mau naik SMA,” Ramdan bercerita di sela-sela kunjungan Gubernur Gorontalo di ATMI Solo, Jumat (26/3/2021).

BACA  Pemprov Minta Pemkab Gorontalo Percepat Pengurusan Lahan Secaba

Ramdan mendapat informasi beasiswa kuliah di ATMI Solo dari pihak sekolah SMKN 3 / STM Kota Gorontalo. Meski yatim piatu tekadnya untuk belajar cukup besar. Terbukti dari 10 orang yang mengikuti seleksi dari Jurusan Teknik Mesin hanya dia yang dinyatakan lulus.

“Dari jurusan Teknik Mesin hanya saya yang lulus, tapi dari STM ada empat orang,” imbuhnya.

Putra dari almarhum Yusuf Pakaya dan almarhumah Rosnani Maksoed itu mengaku kuliah di ATMI cukup sulit. Selain harus menyesuaikan dengan kedisiplinan dan ritme belajar kampus, ia harus melawan rindu kampung halaman dengan perbedaaan budaya, makanan dan bahasa.

BACA  Ini Alasan Rusli Habibie Minta Beras Luar Daerah Tidak Masuk Gorontalo

“Tahun pertama yang terasa sulit. Orang orang di sini berbicara dengan bahasa Jawa, makanannya juga manis manis. Beda sama kita di Gorontalo. Tapi setelahnya kita mulai terbiasa,” sambungnya.

Perpanjangan kerjasama antara Pemprov Gorontalo dengan ATMI Solo membawa angin segar buat Ramdan dan tiga temannya lain yang menerima beasiswa. Itu berarti satu tahun lagi masa kuliahnya di Solo bisa terus dibiayai melalui program beasiswa.

“Saya berharap akan banyak putra putri daerah yang mau meneruskan mimpi belajar di pulau Jawa. Pemerintah sudah menyediakan beasiswa, semua kembali ke diri kita sendiri mau belajar sungguh sungguh untuk meraih sukses,”katanya.

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie yang datang bersama istri Idah Syahidah dan sejumlah pimpinan OPD tidak lupa memotivasi empat dari lima siswa Gorontalo yang ditemui saat itu. Rusli berpesan agar mereka tidak takut, tidak minder dan menjadikan semangat teknokrat dunia BJ Habibie sebagai motivasi belajar.

BACA  Gubernur Ingatkan Kabupaten-Kota untuk Realisasikan Fisik dan Keuangan

“Kalian di sini taunya belajar. Hal-hal lain pemerintah yang pikirkan. Jangan malu dan jangan minder (dengan orang Jawa). Jaga nama baik daerah, belajar sungguh-sungguh dan jangan lupa berdoa,” pesan gubernur dua periode itu.

Sejak bergulir tahun 2015, kerjasama dengan ATMI Solo sudah menyekolahkan 10 orang putra daerah. Angkatan 2016 tiga orang, angkatan 2017 dua orang. Kedua angkatan itu sudah lulus dan bekerja di berbagai tempat. Sisanya angkatan 2018 Ramdan dan kawan kawan saat ini duduk di tingkat III semester 6.

Tahun 2021 Gubernur Rusli menargetkan ada 10 orang yang bisa terterima di kampus vokasi jempolan itu. Serapan alumni untuk bekerja di industri cukup besar dengan rasio 1:2, sebelum pandemi covid-19 bisa 1:5. Artinya, setiap calon alumni bisa memilih dua perusahaan. Jika skillnya mumpuni dengan IQ yang baik, maka peluang untuk bekerja sangat besar.(zul/adv/hargo)


Komentar