Selasa, 17 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Datang Maret 2018, Begini Penampakan Kereta MRT

Oleh Berita Hargo , dalam Headline Kabar Nusantara , pada Sabtu, 16 Desember 2017 | 09:30 Tag: ,
  

Hargo.co.id – Pembangunan mass rapid transit (MRT) di Jakarta menggunakan pinjaman dari Japan Internasional Cooperation Agency (JICA).

Makanya, selain diproduksi di Indonesia, beberapa sarana dan prasarana MRTJ diproduksi langsung dari Jepang. Yang paling utama itu yakni pembuatan kereta (rolling stock) oleh Nippon Sharyo.

Namun, kereta rangkaian pertama itu sama sekali tidak mirip jangkrik. Perwajahannya tampak gagah dan berwarna biru, bukan hijau. Tampaknya, PT MRTJ dan Nippon Sharyo langsung mengubah desainnya karena mantan Plt Gubernur DKI Sumarsono menyebut desain kereta MRT mirip jangkrik.

Nippon Sharyo merupakan perusahaan yang berpengalaman untuk memproduksi kereta. Kereta cepat di Jepang, Shinkansen, Nippon Sharyo yang memproduksinya. Bahkan, rakitan cangkang kereta Shinkansen pertama yang sudah berusia 50 tahun langsung menyambut saat memasuki kantor Nippon Sharyo Toyokawa Plant di Toyokawa City, Aichi.

Kereta MRT yang dirakit di Jepang akan tiba di Indonesia Maret 20018

Kereta MRT yang dirakit di Jepang akan tiba di Indonesia Maret 20018 (Masria Pane/Jawa Pos)

“Desember ini, satu rangkaian kereta MRT akan selesai dikerjakan. Kami sudah siapkan track 700 meter untuk uji cobanya. Januari, satu rangkaian kereta siap dikirim ke Indonesia,” jelas General Manager International Project Department Rolling Stock Divison Hiroyuki Idei.

Idei menyebutkan, PT MRTJ memesan sebanyak 96 kereta atau 16 rangkaian kereta. Sebab, satu rangkaian terdiri dari enam kereta.

Namun, untuk proses pengiriman kereta akan dilakukan bertahap. Semua kereta ditargetkan tiba di Indonesia pada September 2018. Untuk biaya pembuatan kereta itu, PT MRTJ harus merogoh kocek sebesar Rp 1,2 triliun untuk 16 rangkaian kereta.

Lebih lanjut, Idei menyebutkan, menyelesaikan satu rangkaian kereta membutuhkan waktu sepuluh bulan. Yakni, enam bulan untuk membuat orderdil dan empat bulan untuk merangkai. “Beberapa bahan kereta ada yang kami beli.

Misalnya, motor mesin, itu kami beli dari Toshiba. Tapi yang buat frame maupun boggie (roda), Nippon Sharyo yang buat,” jelasnya.

Sebelum melihat kereta MRTJ, Idei dan perwakilan Nippon Sharyo lainnya terlebih dahulu memperlihatkan pabrik untuk pembuatan Shinkansen. Sayangnya, tidak satupun dari kami yang diizinkan untuk membawa kamera maupun handphone. Kami hanya diizinkan melihat tanpa mengabadikan apapun yang kami lihat di sana.

“Saya akan mengambil gambar MRT sesuai yang kalian butuhkan,” kata Yuichi Ishikawa dari Internasional Project Departement Rolling Stock Division, anak buah Idei. Setelah melihat gedung pembutan Shinkansen, kami baru diajak melihat gedung pembuatan kereta MRTJ.

Meski masih dalam proses pembuatan, Nippon Sharyo mengizinkan kami untuk melihat isi kereta. Semuanya hampir sama dengan apa yang dijelaskan PT MRTJ. Kursi penumpangnya terbuat dari bahan plastik bukan kain. Hal itu diklaim agar perawatannya mudah dilakukan dan tidak membutuhkan dana yang besar karena usianya panjang.

“Ini nyaman dan aman kok kalau untuk perjalanan 30 menit,” terang Idei. Di dalam kereta MRTJ, kita tidak akan menemukan tempat penyimpanan barang. Kecuali, di atas kursi untuk penyandang disabilitas. (Lihat grafis spesifikasi lengkap kereta MRTJ). Untuk usia kereta itu, Idei menyebutkan, bisa mencapai 30 tahun.

Saat di Nippon Sharyo kami menemui beberapa orang Indonesia. Ternyata, PT KAI bekerjasama dengan Nippon Sharyo untuk berbagi ilmu pengetahuan. ’’Beberapa orang Indonesia magang di sini. Total yang sudah kami terima magang ada 89 orang. 72 Di antaranya sudah lulus dan kerja di Indonesia,’’ tambah Idei.

Usai melihat kereta, Corporate Secretary PT MRT Tubagus Hikmatullah mengaku sedikit merinding. “Akhirnya, Jakarta punya MRT juga. Ini luar biasa, sebelum direksi lihat, kita dulu yang masuk kereta ini,” katanya dengan wajah penuh bahagia.

Hikmat mengakui, PT MRTJ hanya memesan 16 rangkaian kereta untuk Fase I Lebak Bulus-Bunderan HI. Nantinya, PT MRTJ hanya akan mengoperasikan 14 kereta setiap harinya, sementara dua kereta lainnya akan digunakan sebagai cadangan. “Headway (jarak kereta satu dengan yang lain, Red) MRT itu lima menit sekali,” ujarnya.

Terkait beberapa bahan plastik di dalam kereta, seperti kursi dan sandaran penumpang di tepi, Hikmat mengklaim ada tujuannya.

Selain memudahkan perawatan, dia juga mengklaim pemilihan bahan itu untuk memperbanyak areal dalam kereta untuk pemasangan iklan. Dengan begitu, PT MRTJ lebih banyak cara untuk meningkatkan pendapatan.

Lebih lanjut, Hikmat mengakui Nippon Sharyo siap mengirim kereta rangkaian pertama MRTJ pada Januari 2018. Namun, pihaknya meminta dikirimkan pada Maret 2018. Sebab, kereta itu membutuhkan infrastruktur yang siap di Jakarta. “Ketika kereta dikirim, infrastruktur di sini harus terpenuhi dulu.

Makanya, kami pastikan infrastruktur di Jakarta siap dulu untuk menerima secara teknis. Kemungkinan Maret 2018,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT MRTJ William Sabandar menuturkan, operasi MRTJ pada Maret 2019 masih akan disokong oleh public service obligation (PSO). Hal itu karena PT MRTJ belum menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupi semua biaya operasi.

“Kita berbeda dengan Jepang yang punya lahan sebelum melakukan pembangunan,” terangnya. Meski begitu, William mengaku akan berusaha agar operasi MRT bisa cepat lepas dari PSO. Salah satunya mengajar sebanyak mungkin investor melakukan investasi.

Memang, dari data yang dimilikinya saat ini, baru sekitar 173 ribu calon penumpang MRT. Dengan jumlah itu, dia menargetkan harga tiketnya berkisar Rp 17-20 ribu. Namun, jumlah itu bisa berkurang jika target penumpang meningkat.

“Saat ini kami sedang lakukan survey jumlah penumpang terbaru. Sebab itu data penumpang 2011. Deadline harga tiket itu tiga bulan sebelum operasi,” terangnya. Jadi, pada akhir 2018, dia akan menyerahkan kisaran harga tiket kepada pemprov untuk diputuskan gubernur.

(rya/JPK)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar