Kamis, 26 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Delapan Jam Pakai APD, Sudah Dua Pekan Tak Pulang Rumah

Oleh Berita Hargo , dalam Features Headline , pada Jumat, 17 April 2020 | 09:05 WITA Tag: , ,
  Para perawat menggunakan alat pelindung diri lengkap ketika menangani pasien positif covid-19 di Rumah sakit Aloei Saboe. (Foto Istimewa)


Melihat Perjuangan Perawat di RSAS Tangani Pasien Covid-19

PERJUANGAN para tenaga medis yang menangani pasien positif virus Corona atau Covid-19 di Rumah Sakit Aloei Saboe, benar-benar menyayat hati. Sangat beresiko tertular covid-19, mereka juga harus menanggung rindu tak bertemu keluarga selama berhari-hari.

Ramadan Pakaya-Kota Gorontalo

PEKERJAAN mereka bukan perkara mudah. Berada di garda terdepan, para tenaga medis harus menghadapi ‘musuh’ yang tak kasat mata.

Penggunaan alat pelindung diri yang lengkap menjadi benteng terakhir dalam melayani kebutuhan pasien selama masa pengobatan. Status Orang Dalam pemantauan pun langsung mereka sandang  ketika sudah merawat pasien positif.

Meskipun sudah menggunakan APD lengkap, rasa takut masih menghantui pikiran mereka. Hal itu yang dirasakan para perawat yang bertugas di RS Aloei Saboe, yang menjadi satu-satunya rumah sakit rujukan dalam penanganan Covid-19 di Gorontalo.

BACA  Polsek Bolango Gencar Lakukan Sosialisasi Protokol Kesehatan

Semenjak merawat pasien 01, sebagian besar para perawat enggan pulang ke rumah ketika selesai menjalankan tugas. Mereka lebih memilih bermalam di rumah sakit untuk menghindari penularan virus pada keluarga.

Direktur Umum RS Aloei Saboe, dr. Andang Ilato mengatakan pihak rumah sakit tidak pernah memaksakan tenaga medis untuk tetap berada di RS. Menjaga jarak dengan keluarga selama menangani pasien merupakan pilihan mereka sendiri.

“Sebagian besar dari mereka merasa khawatir dan memilih untuk tetap di RS. Padahal hasil swab tes mereka semua negatif, kita sediakan gedung VIP A bagi mereka,” ujar Andang.

Gedung yang sedari awal disediakan untuk pasien kini ditempati para tenaga medis. Biasanya, ketika selesai bertugas mereka melepas penat dengan keluarga di rumah.

Namun, ditengah wabah ini mereka harus kuat menahan rindu, komunikasi hanya melalui sambungan telepon. Para tenaga medis sudah dua pekan tinggal di Rumah sakit, segala kebutuhan mereka menjadi tanggungjawab pihak rumah sakit. Tinggal di RS dianggap lebih maksimal dalam melayani pasien serta lebih aman dari penularan lokal. Para tenaga medis harus menggunakan hamzad yang berlapis-lapis selama 8 jam dan rutin melakukan check up setiap kondisi pasien.

BACA  Masyarakat Jangan Ragu Periksa Kesehatan Jika Alami Gejala Covid-19

“Selama melayani pasien, tenaga medis rutin menanyakan keluhan agar terjalin komunikasi intensif. Pendekatan psikologi diperlukan, agar pasien selalu merasa didampingi dan mendapat dukungan,” ujar Andang.

Membangun hubungan yang baik dengan pasien dinilai mampu membantu pasien dalam melawati masa krisis ketika menghadapi penyakit. Aksi saling menyemangati pun sering dilakukan antar tenaga medis, penggunaan APD berupa hamzad, masker, kaca mata, boots selama 8 jam sering menimbulkan rasa suntuk. Bahkan sebagian perawat menghibur diri dengan bermain tik-tok untuk menghilangkan rasa jenuh dan stres selama di ruang isolasi.

BACA  Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak Dibutuhkan di Masa Pandemi

“Saya berharap kepada pemerintah, jika memang gedung VIP terpakai untuk pasien, maka bisa menyediakan tempat untuk pra perawat kami,” katanya.

Andang menghimbau kepada masyarakat agar bisa membantu tenaga medis dengan cara mendengarkan segala aturan pemerintah dalam menghadapi wabah tersebut. Apalagi kasus orang tanpa gejala namun positif sudah mulai bermunculan di Gorontalo. Setiap warga diminta sedapat mungkin untuk melakukan isolasi mandiri agar terhindar dari penularan lokal.

“Saya minta agar masyarakat bisa memberikan informasi sejujur-jujurnya kepada tenaga medis, baik berupa keluhan dan perjalanan terakhir. Agar kami bisa melakukan tindakan yang tepat,” katanya.

Senantiasa menggunakan masker selama beraktivitas serta cuci tangan untuk menghindari penularan. Andang meminta agar masyarakat tetap tenang, hindari stres agar sistem imun tetap terjaga dengan baik. (Ramadan Pakaya/hg)


Komentar