Jumat, 19 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Demi Ini, Hannah al Rasyid Siap Kuras Fisik dan Mental

Oleh Aslan , dalam LifeStyle , pada Rabu, 31 Mei 2017 | 01:00 Tag: ,
  

Hargo.co.id - Duo sutradara Jose Poernomo dan Rizal Mantovani pernah sukses dengan film horor Jelangkung pada 2001. Mencoba untuk mengulang keberhasilan itu, mereka membuat versi baru film tentang boneka pemanggil arwah tersebut. Bukan sekuel, prekuel, ataupun spin-off. Film itu benar-benar dibuat baru, baik dari segi kisah, tokoh, maupun alur. Judulnya sedikit diubah menjadi Jailangkung dan dirilis pada 25 Juni oleh Screenplay Films.

Tokoh utamanya adalah kakak beradik Angel (Hannah Al-Rashid), Bella (Amanda Rowles), dan Tasya (Gabriella Quinly). Mereka tinggal bersama dengan sang ayah, Ferdi (Lukman Sardi), yang sedang koma lantaran sebuah hal yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Ingin membuat sang ayah segera sadar, mereka meminta bantuan Rama (Jefri Nichol) dan pilot bernama Kapten Wardana (Augie Fantinus) yang memang tertarik pada hal-hal supranatural. Dalam usaha itu, mereka menemukan boneka jelangkung. Nyawa kelimanya menjadi taruhan.

Saat berkunjung ke Gedung Graha Pena kebayoran, Hannah, Nichol, dan Augie menceritakan pengalaman syuting yang menguras fisik dan mental. Untuk mendapatkan nuansa horor mencekam sesuai cerita, pengambilan gambar dilakukan di banyak tempat. Antara lain, Bali, NTB, Purwokerto, Cimahi, Depok, Bogor, dan Jakarta. Tak jarang, satu scene diambil di tiga kota berbeda.

Hannah, 31, mengatakan mengalami kejadian tak terlupa saat syuting. Ketika melakoni adegan menggantikan Nichol memegang boneka jelangkung, dia mengalami kecelakaan. Tiba-tiba ada sling jatuh dan menimpa kepalanya. Namun, dia bersikeras melanjutkan syuting. ”Saya paksain, mikirnya ini daerah sekitar hutan, kalau saya break, bakal ganggu jadwal,” beber Hannah.

Di tengah syuting, Hannah akhirnya pingsan karena kelelahan plus efek benturan di kepala. ”Secara fisik dan mental bener-bener terkuras,” ucapnya.

Hannah merasa agak bergidik ketika mendengar kisah-kisah seram dari kru film. Misalnya, yang terjadi di Museum Bahari, Jakarta Utara. Saat itu seorang kru sedang menyurvei lokasi dan ber-selfie. ”Ternyata, di hasil selfie-nya, muka dia (kru) nggak kelihatan. Yang kelihatan cuma tempatnya doang,” katanya.

Sementara itu, Nichol punya pengalaman seram. Saat adegan memegang jelangkung dan memanggil arwah, Nichol merasa bahwa bonekanya mendadak bertambah berat. Udara sekitar pun sangat panas dan tidak nyaman. ”Pokoknya, mental sama energi di film ini bener-bener diuji,” tuturnya. Apalagi, film Jailangkung tersebut merupakan film horor pertama bagi cowok 18 tahun itu.

Ada pula adegan Nichol dan Amanda berlarian di sebuah makam saat malam. Karena gambar diambil dengan drone, Amanda dan Nichol tidak ditemani siapa pun. ”Pas adegan lari, saya sama Amanda bilang ’permisi, permisi’ ke makam-makam yang kami langkahi,” kata aktor yang juga bermain di film Dear Nathan dan Pertaruhan tersebut.

Augie punya cerita sendiri. Dalam cerita, dia harus mengendarai sepeda motor. Tentu itu sulit karena aslinya penghobi basket tersebut tidak bisa mengendarai motor. ”Kirain matik yang bisa lah belajar dulu, eh ternyata motor trail,” ujarnya, lantas tertawa. Augie juga menceritakan pengalaman saat adegan pendaratan sea plane di laut. ”Nggak nyetir beneran sih, tapi tetap saja takut,” kata Augie. (hargo/len/nor/c7/ayi)

(Visited 4 times, 1 visits today)

Komentar