Rabu, 12 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Demi Ongkos Pengobatan Suaminya, Wanita Ini Rela Jualan Keripik Keliling

Oleh Berita Hargo , dalam Features Ragam , pada Kamis, 22 April 2021 | 08:05 WITA Tag:
  Sartin Tena saat jualan keripik. (Foto: Istimewa/Rita Setiawati untuk Hargo)


TUGAS utama seorang pria ketika sudah berumah tangga yakni menafkahi istri dan anaknya. Namun, lain halnya ketika mendengar cerita Sartin Tena (45 tahun). Wanita ini rela jual keripik keliling agar dapat uang untuk beli obat suaminya yang tengah sakit diabetes.

Rita Setiawati / Kota Gorontalo

NAMANYA Sartin Tena. Seorang wanita yang setiap harinya menjual keripik dengan cara jalan kaki di Kota Gorontalo. Sekilas tak nampak ada kesedihan yang membaluti wanita itu. Namun jika kita mengenal lebih dekat, sekelumit kisah diceritakan dan cukup menggugah nurani. 

Saat mencoba mengajak bicara, Sartin Tena tak segan-segan menceritakan kondisi keluarganya. Dirinya terpaksa melakoni pekerjaan ini, karena ingin membantu suami agar dapat beli obat. Maklum, suaminya kini tengah berjuang melawan sakit diabetes.

Sartin Tena menuturkan, keripik pisang yang dijualnya sangat terjangkau, hanya Rp 5.000 per bungkus. Keripik pisang yang dijual ada dua varian rasa yakni original dan rasa gula merah. 

Mungkin pembaca yang pernah melihat Sartin Tena di Kota Gorontalo, tak tahu alamatnya di mana? Berdasarkan pengakuannya ke hargo.co.id, Sartin Tena berdomisili di Limboto, Kabupaten Gorontalo. Letak rumahnya tak jauh dari Gorontalo Outer Ring Road (GORR) yang berada di Limboto Barat. 

Dari kediamannya, Sartin Tena harus mengeluarkan ongkos bentor sebesar Rp 15 ribu menuju Menara Limboto. Selanjutnya ke Kota Gorontalo dengan ongkos Rp 20 ribu. 

Hal tersebut dilakukan setiap hari demi berjuang mencari rezeki yang halal tanpa terlihat rasa mengeluh sedikitpun ketika dilihat dari raut wajahnya. Dengan kuat ia membawa dagangan tersebut dengan kedua tangannya sambil berkeliling.

Lalu kenapa harus ke Kota Gorontalo? Alasannya cukup simpel, yakni di Kota Gorontalo sudah ada langganannya. Setiap langkah demi langkah tentunya dengan ikhlas Sartin Tena lakukan demi mencari rezeki untuk pengobatan sang suami.

Setiap hari membawa 50 bungkus keripik untuk dijual dengan untung yang tidak terlalu banyak. “Saya ambil keripik sama orang Rp 3.000 per bungkus, kemudian saya jual Rp 5.000,” ungkap Sartin Tena.

Belum lagi harus terus berjalan kaki untuk menjajakan dagangannya mulai pagi hingga malam. Pulang ke rumah ketika dagangan habis.

“Biasa ibu pulang jam 9 malam (pukul 21.00 Wita) atau ketika jualan habis baru pulang ke rumah,” ungkap Sartin Tena. 

Beliau sangat bersyukur karena masih diberikan kaki yang masih sanggup berjalan jauh dan tentunya nikmat sehat. Sehingga, sampai sekarang masih sanggup berjualan keliling. Bahkan beliau mengaku pernah berjualan keliling dari Taman Taruna Gorontalo sampai ke Rumah Sakit Bunda di Jalan HB Jasin.

Bayangkan, betapa besar perjuangan seorang wanita juga sebagai seorang istri yang rela tiap hari berjalan di bawah terik matahari, demi pengobatan sang suami yang sakit. 

Tepat pada 21 April kita selalu memperingati Hari Kartini sebagai pelopor kebangkitan perempuan. Dan dengan kisah dari Sartin Tena kita bisa belajar bahwa laki-laki dan wanita memiliki kesetaraan. Wanita juga bisa bekerja dan mencari nafkah sama seperti lelaki pada umumnya. (***)

BACA  Bisa Bobol Hp Anda, Hati-Hati dengan WhatsApp Pink

Komentar