Senin, 23 Maret 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Desainer ’’Tak Perlu’’ Bisa Menggambar, Buktikan Diri Bukan Ranah Coba-Coba

Oleh Aslan , dalam LifeStyle , pada Senin, 29 Mei 2017 Tag: ,
  

Hargo.co.id – Desainer anyar bermunculan seiring berkembangnya jagat fashion. Tapi, tak semua desainer itu bisa menggambar. Jangan khawatir. Salah satu jalannya adalah menjadi fashion illustrator.

”Ini salah satu cara membuat pengimbang bagi para fashion designer yang tidak bisa menggambar,” jelas Geraldus Sugeng. Menurut dia, fashion illustrator merupakan jembatan bagi para desainer untuk menerjemahkan ide dan konsep mereka.

Karena itu, desainer ternama di Surabaya tersebut Sabtu (27/5) menggelar workshop privat untuk delapan desainer pemula di Hotel Swiss-Belinn, Manyar.

TEKNIK DASAR: Keseimbangan dan proporsi wajah adalah salah satu teknik sulit yang harus dipelajari.

TEKNIK DASAR: Keseimbangan dan proporsi wajah adalah salah satu teknik sulit yang harus dipelajari. (Dipta Wahyu/Jawa Pos/JawaPos.com)

Sugeng memang sengaja membatasi jumlah peserta. Dia ingin berinteraksi langsung agar bisa benar-benar menularkan ilmunya secara penuh. Harapannya, para siswa itu akan menjadi fashion illustrator yang mumpuni.

Dalam workshop yang berlangsung sehari tersebut, dia lebih berfokus pada trik cara menggambar proporsi secara lebih cepat. ”Karena itu, para peserta kali ini bukan orang yang benar-benar mulai dari nol. Setidaknya sudah ada dasar dalam mendesain,” lanjutnya.

Trik lain adalah cara mengukur tanpa penggaris. ’’Cukup menggunakan ruas jari tangan. Itu kira-kira panjangnya 3 sentimeter,” tutur desainer lulusan Esmod tersebut.

Mempelajari ilustrasi fashion pun tak harus dilakukan oleh mereka yang sudah punya dasar sebagai desainer. Siapa saja bisa belajar. Yang penting, ada kemauan kuat untuk belajar dan tidak menyerah.

Lalu, apa kesulitan mempelajari ilustrasi fashion? ’’Biasanya kesulitan mengatur keseimbangan gambar wajah. Misalnya, letak mata,” ucap Sugeng. Ketidaksesuaian antara keinginan dan hasil yang dibuat juga menjadi tantangan lain.

Kesempatan itu digunakan Sugeng untuk lebih mengenalkan ilustrasi fashion. Di Indonesia, fashion illustrator masih dianggap sebagai ajang coba-coba. ’’Hanya untuk ngetes, kira-kira ini menguntungkan atau tidak,” imbuhnya. Padahal, jika digeluti secara serius, menggambar satu desain seragam saja bisa menghasilkan Rp 15 juta–Rp 20 juta.

Para peserta kemarin berasal dari banyak daerah. Nina Winny, misalnya. Perempuan 33 tahun itu datang dari Banjarmasin. ”Sudah enam tahun jalanin bisnis desainer. Tapi, selama ini kan hanya berupa sketsa. Ingin lebih memperdalam. Tangan juga masih kaku kalau buat gambar,” tutur Winny.

Hal senada dialami Sanet Sabintang. Tidak memiliki latar belakang sekolah desainer tak berarti lulusan perawat tersebut tidak bisa menggambar. Berbekal belajar otodidak dan kesukaannya menggambar anime sejak kecil, Sanet akhirnya memantapkan diri menjadi seorang desainer. ”Ada bisnis online. Tapi, utamanya tas. Makanya, ini belajar lebih dalam tentang proporsi untuk mengembangkan bisnis di bidang fashion,” tutur perempuan asli Jogjakarta tersebut. (hg/dwi/c7/dos)