Selasa, 11 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Dinilai Beratkan Petani, Penerapan Aturan Pupuk Bersubsidi Diundur 6 Bulan

Oleh Zulkifli Polimengo , dalam Advertorial Gorontalo , pada Rabu, 17 Maret 2021 | 03:05 WITA Tag: , ,
  Suasana dialog interaktif Gubernur Gorontalo Rusli Habibie dan Kadis Pertanian yang berlangsung di Rujab Gubernur, Senin (15/03/2021). (Foto: Istimewa)


Hargo.co.id, GORONTALO – Dinilai memberatkan petani karena terlalu cepat diundangkan tanpa sosialisasi, aturan tentang pupuk bersubsidi diminta Gubernur Gorontalo Rusli Habibie untuk diundur selama enam bulan sejak diberlakukan awal januari lalu.

Aturan yang dimaksud tersebut yaitu Permentan No. 49 tahun 2020 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian. Regulasi baru itu tidak membolehkan petani membeli pupuk jika tidak berkelompok dan terdaftar dalam eletronik rencana definitif kebutuhan kelompok (e-RDKK).

“Jika ada kebijakan seperti itu, minimal disosialisasikan, enam bulan lah baru itu diterapkan. Ini mereka (petani) kaget semua. Aturan begitu keluar langsung berlaku di 2021,” ungkap Rusli Habibie saat berdialog di Radio Suara RH, Senin (15/03/2021).

Lanjut Rusli Habibie menuturkan, dalam beberapa kesempatan turun ke Kabupaten/Kota, isu ini selalu mencuat. Salah satunya saat berdialog dengan petani di Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, Sabtu pekan kemarin. Di sini petani mengeluh sulitnya membeli pupuk bersubsidi karena persoalan administrasi pendataan.

BACA  Giliran Buruh Pelabuhan dan Porter Bandara Dapat Bantuan Bersubsidi 

“Saya juga sangat sedih, sangat prihatin dengan kondisi petani. Kami bermohon aturan itu minimal ada sosialisasi. Petani ini kalau disuruh macul mereka serius, tapi kalau disuruh mengurus administrasi tidak ada waktu, enggan dan mungkin pengetahuannya terbatas. Jadi ada aturan minimal disosialisasi enam bulan sebelumnya,” tutur Rusli Habibie.

Dalam kesempatan itu Gubernur Gorontalo menjelaskan, masalah pupuk sangat penting bagi petani. Penyediaannya harus tepat waktu, tepat sasaran dan tepat jumlah menyesuaikan dengan musim tanam dan musim pemupukan.

“Ini masalah pertanian sangat rentan dengan pupuk tadi. Kalau sudah musim tanam maka pupuk harus ada. Kalau tidak ada maka lewat dan bisa mengganggu produksi. Belum lagi kalau petani sudah terlanjur punya hutang,” jelas Rusli Habibie.

BACA  Berkunjung ke Gorontalo, Jusuf Kalla Disambut Gubernur Gorontalo

Pada kesempatan yang sama, Kadis Pertanian Muljady D. Mario menjelaskan tentang perubahan signifikan keluarnya Permentan no. 46 Tahun 2020, diantaranya ada kenaikan harga pupuk bersubsidi. Contohnya untuk urea dari sebelumnya Rp1.800 naik menjadi Rp2.250 per kg. Pupuk ZA dari Rp1.400 naik menjadi Rp1.700 per kg.

Perubahan lain tentang cara mengakses pupuk. Petani diwajibkan berkelompok dan memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) KTP-el. Kelompok dan NIK selanjutnya didaftarkan ke e-RDKK. Jika prosedur itu tidak dilakukan maka petani tidak bisa membeli pupuk bersubsidi.

“Kalau sebelumnya terdaftar di RDKK secara manual sudah bisa mengakses pupuk bersubsidi, maka sekarang dipersyaratkan elektronik RDKK. Basisnya e-RDKK adalah NIK. Jadi petani harus punya KTP-el untuk terinput di e-RDKK,” beber Muljady D. Mario.

BACA  Tingkatkan Koordinasi Antar Pos Perbatasan, Ini Yang Dilakukan Wagub Gorontalo

Lebih lanjut Muljady D. Mario juga menerangkan, dimana penginputan e-RDKK untuk tahun 2020 sudah selesai. Periode penginputan bulan April hingga November 2021 untuk kebutuhan pupuk tahun 2022.

“Biasanya penginputan RDKK ini setahun sebelumnya. Jadi kebutuhan 2021 diinput di 2020. Begitu juga untuk 2022 diinput di 2021. Oleh karena itu kami keliling Kabupaten/Kota mendampingi Dinas Pertanian di sana, karena mereka yang menginput,” terang Muljady D. Mario.

Muljady D. Mario menambahkan bahwa ada juga perubahan lain menyangkut alokasi pupuk yang tidak sama disetiap wilayah. Jika dulu jatahnya sama yakni 300 NPK 200 urea, maka sekarang tergantung kesuburan tiap wilayah. Berbagai perubahan-perubahan itu dinilai terlalu cepat dan waktu sosialisasi terlalu pendek sehingga petani di lapangan bertanya-tanya.(zul/adv/hargo)


Komentar