Minggu, 13 September 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Dipasok dari Maluku, 66 Kilogram Merkuri Disita Polisi

Oleh Mufakris Goma , dalam Metropolis , pada Jumat, 20 Desember 2019 | 16:00 WITA Tag:
  


Hargo.co.id, GORONTALO – Meski sudah dilarang oleh pemerintah, penggunaan bahan merkuri (air raksa-Hg) untuk aktifitas pertambangan ternyata masih saja dilakukan. Hal ini sebagaimana yang terungkap di Kabupaten Pohuwato. Dimana kepolisian menyita 66 kilogram bahan merkuri asal Provinsi Maluku.

Kepada awak media, Kamis (19/12/2019), Kasat Reskrim Polres Pohuwato, AKP I Wayan Suhendar,SIK, mengatakan penangkapan ini terjadi di Desa Marisa Utara, Kecamatan Marisa, Sabtu (14/12/2019).

Diamankan dua pelaku yang masing-masing berinisial RM (44) warga kelurahan Pineleng, Kecamatan Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara, yang diduga merupakan pemiliK 66 Kg bahan merkuri. Serta AB (53) warga desa Togid, kecamatan Tutuyun, kabupaten Bolmong Timur, Sulut, yang merupakan sopir.

Bahan merkuri itu sendiri awalnya dibeli oleh RM di Pulau Seram, Provinsi Maluku. Kemudian dirinya berniat membawa bahan merkuri tersebut menuju ke Sulawesi Tengah. Dimana sebagian digunakannya secara pribadi untuk menambang emas, kemudian sebagian lainnya direncanakan untuk dijual secara eceran jika ada yang mau menawar.

BACA  Satu Unit Rumah di Boalemo Ludes Terbakar

RM menggunakan jasa AB sebagai sopir untuk mengantarkannya ke tujuan dengan bayaran Rp 300 ribu. Menggunakan mobil Toyota Avanza dengan nomor polisi DB 1294 MF. Namun keduanya berhasil ditangkap oleh kepolisian saat tengah beristirahat di Desa Marisa Utara, Kecamatan Marisa.

“Awalnya kami dari kepolisian mendapatkan informasi adanya mobil yang sedang membawa bahan merkuri. Saat kita bekuk, kedua pelaku ini sedang tidur di dalam mobil. Kami langsung melakukan penggeledahan seluruh isi mobil, dan ditemukanlah sebanyak 66 botol bahan kimia yang diduga merkuri. Dengan ukuran satu kilogram perbotolnya,” ujar I Wayan.

“Kita juga sudah uji bahan kimia tersebut di Badan POM Provinsi dan hasilnya positif. Kita juga sudah periksakan ke ahli di bagian pertambangan di PTSP Kota Gorontalo. Untuk merkuri sendiri adalah mineral cair, untuk memilikinya harus mempunyai izin. Merkuri sendiri sudah dilarang dan tidak bisa lagi di pakai di area pertambangan dan diperjualbelikan karena sudah di atur dalam perpres tentang penghapusan penggunaan merkuri dalam kehidupan sehari hari,” tambahnya.

BACA  Kisruh di Pasar Sentral, Seorang Terluka

Sementara itu Kasubag Humas Ops Polres Pohuwato, AKP Bernadin Situngkir,SH, mengatakan bahwa atas perbuatannya para pelaku dijerat dengan pasal 161 UU no. 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara (Minerba). Dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10 Miliar. Mereka diamankan beserta barang bukti berupa 66 Kg bahan merkuri, 1 unit mobil Toyota Avanza, dan 3 buah handphone.

“Kemudian ditambah lagi dengan unsur pasal 106 UUD RI nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan. Ada lagi tambahan sanksi pidanannya unsur pasal 110 UU RI nomor 7, tentang perdagangan. Saat ini pelaku dua orang sudah diamankan dan sudah ditetapkan sebagai tersangka. Tersangka ada dua orang, yang satu pemilik dan yang satunya membantu memindahkan barang dari asalnya ke tempat tujuan nanti,” jelas Situngkir.

BACA  Kesetrum, Operator Dinas Dukcapil Bone Bolango Meninggal Dunia

Saat diwawancarai Gorontalo Post, pelaku RM mengaku bahan merkuri tersebut dibelinya dengan harga Rp 600 ribu perbotol atau perkilogramnya. “Saya beli di maluku pak. Rencana saya mo pakai menambang emas Sulteng. Dan kalau ada yang mo ba tawar mo beli di sana (Sulteng, red) saya mo jual,” ujar RM.

Ditanyai mengenai harga jual bahan merkuri di Sulteng RM enggan memberitahu. Namun berdasarkan informasi yang didapatkan dari berbagai sumber, diketahui bahwa harga jual eceran untuk bahan merkuri saat ini berkisar pada Rp 1,4 Juta. “Saya tidak tahu harga jualnya berapa pak,” singkatnya. (gp/hg)


Komentar